Sidebar

Aljazair Mulai Beralih ke Keuangan Islam

Monday, 17 Aug 2020 10:39 WIB
Aljazair Mulai Beralih ke Keuangan Islam. Foto: Ekonomi syariah (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, ALJIR -- Aljazair telah meluncurkan produk keuangan Islam dalam upaya untuk menarik uang dari pasar informal. Akan tetapi para bankir memperingatkan, dibutuhkan lebih banyak hal untuk memperbaiki ekonomi negara yang tengah berjuang.

Dilansir dari laman Kuwait Times, Senin (17/8), jatuhnya harga minyak dan pandemi virus corona telah menghantam negara Afrika Utara itu. Hal ini memicu peringatan di kalangan pejabat dan pakar. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan, ekonomi Aljazair akan menyusut 5,2 persen tahun ini.

Perdana Menteri Aljazair, Abdelaziz Djerad telah memperingatkan tentang situasi ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Para ahli memperkirakan pengangguran mendekati 15 persen.

Aljazair merupakan negara terbesar di Afrika dan rumah bagi 43 juta orang. Pakar keuangan Islam, Profesor Mohamed Boudjelal mengatakan, sebagian besar transaksi dilakukan dengan uang tunai yang beredar di luar sektor perbankan formal.

Beberapa Muslim percaya, sistem perbankan tradisional tidak sesuai dengan keyakinan mereka.  Keuangan Islam, penyediaan layanan keuangan sesuai dengan hukum agama, merupakan sektor yang berkembang pesat, yang telah diadopsi di banyak negara Muslim.

Industri ini didasarkan pada keuntungan dan kerugian bersama, sementara mendapatkan bunga dilarang, disebut sebagai riba. Dana juga diblokir dari investasi di perusahaan yang terkait dengan tembakau, alkohol, babi, atau perjudian.

Aljazair berharap, produk baru ini dapat menarik investor baru ke pasar. Seraya mengikuti keberhasilan produk keuangan Islam selama dekade terakhir di negara lain, terutama di Teluk dan Malaysia.

Di samping itu, tetangga negara itu telah meluncurkan skema serupa. Di Tunisia, keuangan Islam telah beroperasi di sektor swasta semenjak 1980-an, meskipun sektor tersebut tetap sederhana, sementara di Maroko dimulai pada 2017, meskipun telah mencatat kerugian bersih yang disebut karena biaya awal.

Menurut mantan menteri keuangan dan mantan kepala asosiasi perbankan, Abderahmane Benkhalfa, Aljazair berharap dapat memanfaatkan pendapatan signifikan dari pasar informal, yang diperkirakan mencapai 30-35 miliar dolar. "Tidak hanya perlu menarik sumber daya ini, tetapi menyuntikkannya ke bank untuk meningkatkan perekonomian," kata Benkhalfa.

Awal bulan ini, Bank Nasional Aljazair yang dikelola negara menawarkan sembilan layanan keuangan Islam, menerima sertifikat dari ulama Muslim yang memastikan kesesuaiannya dengan hukum Islam.  Hanya dua bank swasta lainnya, anak perusahaan dari Bank Baraka yang berbasis di Bahrain dan Bank Al Salam, yang menawarkan layanan keuangan Islam di Aljazair.

Namun, bank lain Aljazair, yang semuanya dikelola negara, sekarang diharapkan untuk mengikutinya pada akhir tahun. Sebagian besar bank asing juga berencana menjual produk keuangan Islam.

Benkhalfa, yang juga anggota panel ahli Afrika yang ditugaskan oleh Uni Afrika untuk memobilisasi dana internasional, guna membantu benua memerangi virus corona. Kemudian juga memperingatkan bahwa keuangan Islam bukanlah solusi ajaib. Hanya sebagian kecil uang tunai dalam perekonomian informal yang beredar, karena kepercayaan agama masyarakat.

Menurut Benkhalfa, solusinya yakni dengan melakukan langkah-langkah untuk memodernisasi sistem perbankan tradisional, agar lebih responsif, dan berkembang sejalan dengan keuangan Islam. Ekonom Abderrahmane Mebtoul, bahkan lebih berhati-hati dalam penilaiannya. 

Mebtoul mengatakan, hal ini hanya dapat dilakukan jika inflasi dapat dikendalikan, dan jika rumah tangga memiliki kepercayaan pada pengelolaan ekonomi pemerintah. Menurut beberapa penelitian, produk keuangan syariah seringkali lebih mahal, daripada yang disediakan oleh sektor perbankan tradisional.

Pada akhir tahun, bank-bank pemerintah Aljazair diharapkan untuk mengusulkan beberapa produk keuangan Islam, termasuk murabahah, ijara, dan musyarakah. Murabahah, atau pembiayaan cost-plus, merupakan salah satu produk paling populer, dan digunakan untuk membiayai berbagai pembelian konsumen dari mobil hingga rumah.

Ini melibatkan bank yang membeli properti atau produk lain atas nama klien. Kemudian dijual kembali kepada klien dengan keuntungan tertentu yang menggantikan tingkat bunga. Sementara Ijara yakni cara membeli rumah melalui sewa dan kepemilikan selanjutnya, bukan melalui hipotek. Sedangkan Musyarakah dipandang sebagai cara untuk memungkinkan pembeli menghindari pinjaman berbunga, meskipun beberapa ulama mengatakan itu terlalu mirip dengan pembebanan bunga. Otoritas Aljazair juga mempertimbangkan untuk menerbitkan obligasi Islam.

Baca Juga


Berita terkait

Berita Lainnya