Kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran memberi harapan baru bagi meredanya konflik di Timur Tengah. Kedua pihak menyepakati nota kesepahaman dan melakukan langkah de-eskalasi militer setelah empat bulan perang yang mengguncang pasar global.

Meski dokumen resmi belum ditandatangani, pengumuman itu memicu reaksi positif di pasar: bursa saham menguat, harga minyak turun, dan imbal hasil obligasi merosot, menurut laporan yang beredar pada Senin (15/6/2026).

Isi Kesepakatan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi bahwa nota tersebut mencakup pembukaan kembali jalur perdagangan vital Selat Hormuz. Trump mengatakan jalur itu akan dibuka tanpa pungutan biaya dan menyebutkan instruksi pencabutan blokade angkatan laut AS, sebagaimana disampaikan melalui Truth Social.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menyatakan teks kesepakatan telah difinalisasi dan akan ditandatangani di Jenewa, Swiss, pada Jumat (19/6/2026). “Gencatan senjata permanen dan segera telah dideklarasikan di semua lini,” ujar Gharibabadi.

Namun kesepakatan saat ini bersifat sementara. Para pihak menyetujui penghentian permusuhan selama 60 hari yang akan menjadi kerangka bagi negosiasi lanjutan, mencakup program nuklir Iran, sanksi ekonomi, dan isu keamanan regional.

Media Iran Mehr mencatat pembukaan kembali Selat Hormuz nantinya akan tetap mengacu pada pengaturan internal Iran.

Tantangan yang Tersisa

Beberapa hal masih menjadi ganjalan sebelum perdamaian permanen terwujud. Israel, yang terlibat sejak 28 Februari 2026, tidak termasuk dalam kesepakatan ini. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan pasukannya akan tetap berada di zona keamanan di Lebanon, Gaza, dan Suriah.

Satu poin lain yang belum tuntas ialah tuntutan Iran agar AS melepaskan miliaran dolar dana yang dibekukan sebagai bagian dari pembicaraan nuklir. Permintaan ini sejauh ini belum dikabulkan oleh Washington.

Presiden Trump menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan menyatakan kemungkinan langkah kembali akan diambil jika negosiasi masa depan gagal mencapai kesepakatan.

Dampak dan Latar Ekonomi

Perang empat bulan ini sebelumnya menyebabkan gangguan di Selat Hormuz, jalur yang dilintasi sekitar 20-30% pasokan minyak dunia, sehingga mengganggu rantai pasok energi global. Kesepakatan yang dimediasi internasional ini dipandang sebagai upaya untuk mencegah krisis ekonomi yang lebih dalam dan mengurangi risiko eskalasi menjadi perang terbuka yang lebih luas.