Melaksanakan Tarwiyah, Apa Hukumnya?

Senin , 07 Oct 2013, 06:24 WIB Redaktur : Heri Ruslan
Jamaah haji saat wukuf di Padang Arafah, Makkah, Arab Saudi (ilustrasi).
Jamaah haji saat wukuf di Padang Arafah, Makkah, Arab Saudi (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamualaikum Wr Wb

 

Terkait

Ustaz, sebagian jamaah haji ada yang berangkat ke Mina dan bermalam di sana terlebih dahulu sebelum ke Arafah. Apakah hukum tarwiyah itu?

Hamba Allah

Sleman, Yogyakarta

Jawab:

Waalaikumussalam Wr Wb

Sebagian jamaah haji memang berangkat ke Mina pada tanggal 8 Dzulhijjah dan baru menuju Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah dari Mina. Dasar keyakinannya adalah hal itu merupakan sunnah Rasulullah SAW.

Dalam Hadis Muslim yang diriwayatkan dari shahabat Jabir bin Abdullah diterangkan “falammaa kaana yaumut tarwiyah tawajjahu ila Minna” (pada hari tarwihyah—yakni 8 Dzulhijjah—Rasulullah SAW mengarahkan perjalanan menuju Mina).

Di Mina beliau melaksanakan shalat-shalat qashar tidak jama. Ini juga yang menjadi dasar keyakinan jamaah bahwa ke Mina itu bagian dari manasik. Dhuhur dilaksanakan Nabi 2 (dua) rakaat, Ashar 2 (dua) rakaat, Maghrib 3 (tiga) rakaat, Isya 2 (dua) rakaat dan Shubuh 2 (dua) rakaat.

Abdullah bin Umar berkata “Rasulullah SAW shalat di Mina dua rakaat, Abu Bakar, Umar, dan Usman di belakangnya. Beliau tidak menjamak shalat Dzuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya” (HR Bukhori).

Jika kita mampu melaksanakan “tarwiyah” yakni pada tanggal 8  Dzulhijjah ke Mina terlebih dahulu baru ke Arafah kemudiannya, maka hal itu lebih baik dalam berhaji. Jika tidak mampu, Allah menghukumkan kita sebatas kemampuan yang ada.  

HM Rizal Fadillah

Pembimbing Haji/Umrah dan Pimpinan SYARAFA Tour & Travel Bandung

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini