Perjalanan Hari Tarwiyah, Napak Tilas Keteguhan Nabi Ibrahim

Ahad , 04 Oct 2020, 19:16 WIB Redaktur : Heri Ruslan
Beberapa jamaah haji menggunakan pakaian ihram berjalan melintasi terowongan King Fahd menuju Mina ketika akan melakukan tarwiyah, di Makkah, Arab Saudi.
Beberapa jamaah haji menggunakan pakaian ihram berjalan melintasi terowongan King Fahd menuju Mina ketika akan melakukan tarwiyah, di Makkah, Arab Saudi.

REPUBLIKA.CO.ID -- Hari Tarwiyah adalah hari ke-8 bulan Zulhijjah. Tarwiyah bermakna berpikir atau merenung. Dengan demikian, hari Tarwiyah disebut juga hari merenung, berpikir, dan keragu- raguan.

 

Terkait

Penamaan Tarwiyah ini berkaitan erat dengan kisah Nabi Ibrahim yang dlperlntahkan Allah SWT untuk mengorbankan anaknya Ismail AS melalui suatu mimpi. Mimpi itu terjadi pada malam tanggal 8 Zulhijjah.

Nabi Ibrahim AS merasa ragu tentang kebenaran mimpinya tersebut. Apakah mimpi itu benar berasal dari Allah sahingga manjadi suatu perintah yang harus dikerjakan, atau hanya berasal dari syaitan untuk mengganggunya. Sampai siang harinya, Nabi Ibrahim terus berpikir dan merenung tentang mimpinya tersebut.

Pada malam tanggal 9 Zulhijjah, Nabi Ibrahim AS kembali mengalami mimpi yang sama, yaitu menyembelih putaranya Ismail AS Mimpi kedua kalinya. Ini mulai menimbulkan keyakinan dalam hati Nabi Ibrahim AS bahwa perintah ini benar berasal dari Allah SWT.

Ini dapat dihubungkan dengan nama hari kesembilan bulan Zulhijjah, yaitu hari Arafah. Arafah bermakna pemahaman atau pengetahuan. Maksudnya, Nabi Ibrahim AS sudah mulai paham tentang kebenaran dan tujuan mimpinya.  Akan tetapi,Nabi Ibrahim belum melaksanakan perintah dalam mimpinya tersebut.

Pada malam tanggal 10 Zulhijjah Nabi Ibrahim kembali mengalami mimpi serupa. Oleh karena mimpi ini telah tiga kali terjadi, maka besoknya (siang hari tanggal 10 Zulhijjah) Nabi Ibrahim AS memutuskan untuk melaksanakan mimpi tersebut setelah terlebih dahulu berdiskusi dengan anak dan isterinya.

Ketetapan Nabi Ibrahim AS untuk melaksanakan penyembelihan Ismail AS pada hari itu dapat dihubungkan dengan nama hari tanggal 10 Zulhijjah yang disebut juga dengan hari Nahar. Nahar berarti menyembelih. Sedangkan pada hari 11-12, dan 13 Zulhijjah, Nabi Ibrahim selalu digoda oleh Iblis maka hari itu disebut hari Tasyriq.

Keraguan yang dialami oleh Nabi Ibrahim AS tersebut dapat dimengerti dan dipahami. Betapa tidak, Nabi Ibrahim AS diperintahkan menyembelih anaknya sendiri, anak yang cukup lama diharapkan kehadirannya. Sekian lama Nabi Ibrahim AS memohon kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak. Akhirnya permohonan Nabi Ibrahim itu dipenuhi dengan lahir nya seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail.

Sungguh gembira hati Nabi Ibrahim menyambut kehadiran Ismail. Akan tetapi, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Dikala Ismail masih bayi, dia terpaksa dipindahkan bersama ibunya, Siti Hajar, dari Syam ke lembah gersang yang sunyi di Makkah. Maka berpisahlah Nabi Ibrahim AS dengan anak dan isteri yang sangat dicintainya. Sampai akhirnya mereka dipertemukan lagi di Makkah ketika Ismail sudah beranjak dewasa.

Pertemuan yang kedua inipun tidak berlangsung lama. Mimpi yang benar dari Allah SWT. yang berisi perintah penyembelihan Ismail harus dilaksanakan. Mana mungkin dia harus menyembelih anaknya sendiri.

Mana mungkin anak yang selama ini hanya dibesarkan oleh jerih payah ibunya yang berjuang sendiri menghidupi dan membesarkan anaknya, lalu tiba-tiba dia datang dan membawa pergi anak tersebut untuk disembelih. Sungguh suatu keadaan dan pilihan yang sangat berat bagi Nabi Ibrahim. Wajar jika dia berpikir, merenung, dan ragu terhadap apa yang sedang dialaminya.

Cobaan yang sama beratnya juga dialami Ismail AS Dia harus menyerahkan lehernya untuk disembelih oleh ayah kandungnya, yang selama proses pertumbuhannya hampir tidak pernah dilihatnya. Dia juga harus meninggalkan ibunda tercinta yang selama ini telah bersusah payah sebatang kara mendidik, merawat dan membesarkannya. Dia belum sempat membalas jasa-jasa ibunya Siti Hajar.

Setelah ayah dan anak itu sepskat untuk melaksanakan penyembalihan , mereka berjalan menuju suatu bukit batu yang kemudian disebut Jabal Qurbati (Bukit Qurban). Dalam perjalanan, iblis menggoda den membujuk keduanya agar penyembelihan Ismail tidak dilaksanakan. Nabi Ibrahim AS dan Ismail tidak mau tergoda. Maraka melempar iblis dengan batu kerikil supaya menghentikan godaannya. Akan tatapi iblis tatap mengejar meraka dan kembali mambujuk agar niat mereka itu diurungkan. Namun keduanya tatap berbulat tekad untuk melaksanakannya. Kembali maraka mangusir dan melempar iblis tersebut.

Demikianlah peristiwa pelemparan iblis terjadi di tiga tempat. Ketiga tempat itulah yang disebut dengan Jumrah Aqabah, Wustha, dan Ula. Jarak antara Aqabah dan Wustha lebih kurang 116 m, Jarak antara Wustha dan U la lebih kurang 156 m. Peristiwa besar yang merupakan ujian berat bagi kedua orang Rasul Allah yang amat tabah itu digambarkan Allah dalam Alquran surat Ash-Shaffaat ayat 100-111.

Inti dari ayat ayat tersebut adalah kepatuhan Nabi Ibrahim AS kepada Allah dan keikhlasannya menunaikan perintah Allah, walaupun la harus menyembelih anak kesayangannya. Demikian pula Ismail yang dengan sabar dani ikhlas menyerahkan nyawanya sebagai pelaksanaan perintah Allah kepada ayahnya.

Kedua orang tersebut sungguh manusia pilihan yang amat patuh dan taat kepada perintah Allah, walaupun perintah tersebut amat berat. Dalam ujian tersebut mereka lulus dengan sempurna, maka dengan seketika Allah mengganti Ismail dengan seekor hewan korban dan menyatakan bahwa perintah Allah lewat mimpi Ibrahim itu adalah ujian-Nya.

Karenanya Allah memberi balasan yang baik baginya, namanya harum sepanjang masa dan ia menjadi teladan bagi nabi-nabi yang datang sesudahnya. Bahkan dalam waktu shalat pada tahyat akhir terdapat doa untuk Nabi Muhammad SAW seperti yang pernah diberikan kepada Nabi Ibrahim AS.

Jejak sejarah yang ditinggalkan oleh keluarga Ibrahim AS di atas kemudian dikukuhkan oleh Nabi Muhammad SAW seperti yang tercermin dalam ibadah haji yang merupakan napak tilas perjalanan Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail. Tidak saja dari segi perbuatannya tetapi juga hari-hari yang dijalani keluarga Ibrahim ini diabadikan dalam Ibadah haji.

Dalam kaitannya dengan pelaksanaan Ibadah haji pada hari ke-8 (hari Tarwiyah) semua jamaah mempersiapkan diri untuk menghadapi wukuf di Arafah pada hari ke-9 Zulhijjah. Sejak pagi hari Tarwiyah, jamaah haji mulai menaiki kendaraan secara berombongan.

Ada dua cara yang dilakukan jamaah haji pada hari tarwiyah. Pertama, Jamaah yang langsung berangkat menuju Arafah, seperti umumnya jamaah haji Indonesia, kecuali jamaah haji yang berada di bawah bimbingan Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) tertentu. Kedua, berangkat ke Mina terlebih dahulu, baru menuju Arafah. Cara ini pernah dilaksanakan Rasulullah SAW pada tanggal 8 Zulhijjah tahun 10 Hijriah.

Setelah Nabi berniat berihram untuk haji, dia bersama-sama sahabat meninggalkan Makkah menuju Mina dengan mengendarai onta yang bernama Al-Qashwa dengan lama perjalanan satu hari satu malam. Sesampai di Mina, Nabi beristirahat. Setelah selesai shalat subuh, ketika matahari sudah terbit, Nabi menyuruh sahabat mendirikan kemah di Namirah (di tempat ini sekarang berdiri Masjid Namirah).

Setelah istirahat di Namirah, Nabi melajutkan perjalanannya menuju Arafah pada pagi hari ke-9 Zulhijjah. Dalam perjalanannya itu, Nabi singgah di Muzdalifah, (disebut dengan Mabit di Muzdalifah) sebagaimana dulu orang Quraisy melaksanakannya.

Setelah waktu wuquf masuk, yaitu tergelincirnya matahari tanggal 9 Zulhijjah, Nabi berangkat menuju Wadi Aranah (Bathnul Wadi) di dekat Arafah. Disinilah Nabi menyampaikan Khutbah Wada'. Selesai Khutbah Wada’ Nabi memerintahkan Bilal melakukan azan, karena waktu Zhuhur telah tiba.

Pada saat inilah Rasulullah melaksanakan Shalat Jamak Taqdim. Selesai shalat lalu Nabi menaiki onta AI-Qashwa menuju tempat wukuf di tengah-tengah padang Arafah di kaki bukit Jabal Rahmah. Di sini Rasulullah SAW melaksanakan wukuf dan mendoa, dan berzikir terus dilakukan hingga matahari terbenam.

Cara menuju Arafah langsung seperti yang dilakukan oleh Jamaah Haji Indonesia didasarkan kepada fatwa Ulama Kerajaan Saudi, dengan pertim bangan kesulitan mengatur transportasi jamaah yang demikian banyaknya. Sedangkan yang cara kedua tetap menjadi pilihan utama bagi jamaah KBIH Khusus atau Jamaah KBIH yang sudah punya hubungan kuat di Arab Saudi. Alasan yang mereka pakal di sini adalah mengikuti sunnah seperti dijelaskan dl atas.

Sumber : Ensiklopedi Haji dan Umrah

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini