Selamat Tinggal Makkah (1)

Selasa , 13 Oct 2015, 16:32 WIB Reporter :EH Ismail/ Redaktur : Andi Nur Aminah
Kakbah, kiblat sholat umat Islam dari seluruh dunia
Kakbah, kiblat sholat umat Islam dari seluruh dunia

Senin (12/10) dini hari, saya dan teman-teman tim media center haji (MCH) Daerah Kerja Bandara Jeddah-Madinah berkemas membereskan barang-barang bawaan. Kami harus kembali bertugas di Madinah. Rapat evaluasi penyelenggaraan haji di Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah adalah kegiatan resmi terakhir PPIH Arab Saudi yang kami liput. Kami baru meninggalkan KUH pada Ahad (12/10) malam

 

Terkait

Setelah selesai merapikan barang di tempat saya dan kawan-kawan tinggal, Hotel Diwan Al-Aseel, kami bersiap berangkat ke Makkah. Sebelum ke Madinah, saya dan kawan-kawan akan melakukan umrah sunah sekali lagi dan kemudian diakhiri dengan tawaf wada, tawaf perpisahan meninggalkan Kota Makkah.

Semula, kami berencana langsung ke Makkah pada Senin dinihari. Namun, pengemudi setia tim MCH Bandara, Abdul Cholid Ahmad, merasa lelah dan kurang enak badan. Kondisinya tidak prima. Akhirnya, kami memutuskan menunda keberangkatan sampai Senin sore untuk memberi waktu istirahat Pak Cholid.

Menjelang Ashar, Pak Cholid sudah datang menjemput kami di hotel. Sebelum ke Makkah, kami diajak mampir ke rumahnya untuk menikmati hidangan yang telah disiapkan istri Pak Cholid. Usai Maghrib, kami bertolak ke Masjidil Haram dengan pakaian ihram.

Sampai di Masjidil Haram sudah pukul 20.30 waktu Arab Saudi. Suasana masjid terbesar di dunia itu relatif sepi dan sudah tak begitu ramai dengan jamaah haji. Sebagain besar jamaah haji sudah pulang ke negaranya masing-masing. Dengan alasan belum pernah melakukan tawaf di lantai tiga sebelumnya, kami memutuskan untuk bertawaf di lantai tiga.

Masuk melalui jalan khusus yang disediakan untuk para pengguna kursi roda, kami mengambil jalan sedikit memutar. Sampai di mataf (tempat tawaf) lantai tiga, kami menyempatkan diri berfoto dengan latar belakang Ka’bah dan jamaah sedang bertawaf yang berada di bawah kami. Setelah itu, kami menunaikan shalat Isya dan kemudian bertawaf.

Di mataf khusus untuk para pengguna kursi roda ini, jamaah nampak leluasa berjalan. Sebagian di antaranya memilih duduk-duduk menghadap pagar fiber transparan pembatas mataf. Mereka tampak berdoa dan bertafakur sambil menatap Ka’bah. Atap Ka’bah terlihat dari mataf lantai tiga. Di tempat tawaf ini pula dijumpai jamaah yang menggunakan kursi roda elektrik untuk bertawaf. Sangat leluasa.

Selesai melakukan tawaf, saya dan teman-teman shalat di area yang segaris lurus dengan maqam Ibrahim. Selanjutnya kami turun ke bawah dan menuju tempat sai (masa’a) dan bertahalul untuk merampungkan umrah kami.

Setelah tahalul, saya dan teman-teman langsung melakukan tawaf wada. Tawaf ini merupakan tawaf perpisahan sebelum kami meninggalkan Kota Makkah. Mataf di lantai dasar masih ramai dengan jamaah berbagai negara. Saya duga kebanyakan jamah juga sedang melakukan tawaf wada lantaran banyak yang tidak mengenakan pakaian ihram.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini