Selamat Tinggal Makkah (2)

Selasa , 13 Oct 2015, 16:41 WIB Reporter :EH Ismail/ Redaktur : Andi Nur Aminah
Jamaah haji di kota Makkah
Jamaah haji di kota Makkah

Setelah selesai menjalani tujuh putaran mengelilingi Ka’bah, saya dan kawan saya, Bayu langsung berdoa di area tepat di depan multazam. Tiga teman lain tidak tampak karena sudah terpisah sejak putaran pertama tawaf.

 

Belum selesai berdoa, seorang petugas meminta kami tidak berhenti di lintasan tawaf dan berpindah menjauhi Ka’bah. Saya dan Bayu pun berpindah dan berputar ke belakang mencari tempat yang lurus dengan multazam untuk melanjutkan doa.

Terkait

Usai berdoa, saya dan Bayu mencari teman-teman lain. Akhirnya, kami semua berjumpa di dekat pilar tempat kami meletakkan sandal. Saya pun mengusulkan untuk lebih dulu masuk ke Hijir Ismail sebelum kami benar-benar pergi meninggalkan Ka’bah. Namun, hanya saya, Bayu, dan Wawan yang setuju. Sunu dan Bambang memilih menunggu.

Masuk ke Hijir Ismail tidak sesulit pada saat masih banyak jamaah di Masjidil Haram. Kendati demikian, kondisi di dalam Hijir Ismail tetaplah berdesak-desakan. Kami bertiga kemudian mencoba mencari ruang untuk shalat sunah dengan cara membarikade ruang kecil di antara jamaah yang berdesakan. Walaupun penuh sesak, jamaah lain akan menghormati jamaah yang sedang shalat.

Nah, mencari ruang untuk bisa mendirikan shalat itulah yang sulit. Biasanya, jamaah membuat barikade untuk memberi ruang kawannya shalat. Seorang jamaah haji asal India, Habib, bergabung bersama kami bertiga untuk membuat barikade. Kami pun mendapatkan ruang shalat kendati harus menahan gelombang dorongan jamaah lain yang terus merangsek masuk ke Hijir Ismail. Bayu, Wawan, saya, dan Habib akhirnya bisa menunaikan shalat sunah di Hijir Ismail secara bergantian.

“Barakallah. Mabrur, ya Hajj,” begitu kata saya kepada Habib. Dia pun mengamini. Kami masing-masing berpelukan, kemudian meninggalkan Hijir Ismail.

Sebelum keluar, saya dan Wawan mengambil kesempatan untuk merapatkan tubuh ke dinding Ka’bah. Saya memang sudah berniat ingin menyentuh Ka’bah terakhir kali sebelum pergi meninggalkan Makkah.

Dengan tangan menempel di dinding Baitullah, saya berdoa semoga Allah SWT memperkenankan saya bisa kembali mengunjungi rumah-Nya di lain waktu. Saya pun mendoakan orang tua, mertua, istri, anak, kakak dan adik-adik saya bisa dimudahkan jalan untuk beribadah langsung di depan Ka’bah.

Kabulkanlah, Ya Allah. Dan, akhirnya, saya pun lirih membatin, “Selamat tinggal Makkah”. Airmata meleleh.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini