Selasa 19 Apr 2022 04:15 WIB
Belajar Kitab

Tafsir Alquran tentang Mimpi

Muntakhab Al-Kalam Fi Tafsir Al-Ahlam, Kitab Tafsir tentang Mimpi

Rep: Syahruddin el-Fikri/ Red: Agung Sasongko
Makna tafsir tentang mimpi
Foto: Republika/Prayogi
Makna tafsir tentang mimpi

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA -- Setiap orang tentu pernah bermimpi. Banyak orang mengatakan, mimpi adalah bunga-bunga tidur yang tak perlu diyakini kebenarannya. Namun, tak sedikit mimpi-mimpi itu menjadi kenyataan dan benar adanya.

Dalam sejarah kehidupan umat manusia, banyak orang yang bermimpi dan meyakini kebenaran dari mimpi itu. Sebut saja, kisah Nabi Ibrahim AS yang menyembelih anaknya, Ismail. Namun kemudian, Allah SWT menggantinya dengan seekor domba untuk disembelih. Kisah ini kemudian diperingati sebagai momentum Idul Adha (hari raya Kurban).

Berikutnya adalah Nabi Yusuf AS yang bermimpi melihat 11 bintang, bulan, dan matahari yang bersujud kepadanya. Mimpi ini menjadi kenyataan ketika ia menjadi seorang bendaharawan Mesir. Saudaranya yang berjumlah 11 orang, ibu, dan ayahnya, Nabi Ya'kub AS, datang menghadapnya dan bersimpuh di hadapannya.

Nabi Yusuf AS terkenal sebagai seorang ahli menafsirkan mimpi. Salah satunya ketika ia menafsirkan mimpi raja tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus serta tujuh bulir gandum yang hijau dan tujuh bulir kering.

Yusuf menafsirkan, mimpi raja itu adalah masa paceklik yang akan dialami Mesir selama tujuh tahun. Selama tujuh tahun itu, gandum yang ditanam jangan dipetik dari tangkainya karena hendak disimpan dalam gudang sebagai persiapan menyambut musim kemarau yang panjang tersebut (lihat surah Yusuf [12]: 43-48).

Kemudian, Firaun yang bermimpi kerajaannya akan dihancurkan oleh seorang anak yang lahir dari keturunan Bani Israil. Mimpi ini akhirnya menjadi kenyataan ketika Musa AS berhasil menaklukkannya.

Bahkan, Rasulullah SAW juga pernah bermimpi. Mimpinya adalah pada suatu hari, ia masuk ke Kota Makkah dan Masjidil Haram dengan damai dan tenang. Mimpi ini menjadi kenyataan ketika peristiwa penaklukkan Kota Makkah (Fathu Makkah). Karena berhasil memasuki Kota Makkah dengan damai, para sahabat Rasulullah SAW mencukur rambutnya (lihat surah Alfath [48]: 27).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement