Tak Merasakan Getaran Hati Saat Berumrah? Mungkin Ini Penyebabnya

Jumat , 03 Mar 2017, 23:26 WIB Redaktur : Reiny Dwinanda
Jamaah umrah dari berbagai negara melebur di Maqom Ibrahim untuk menunaikan shalat sunnah dua rakaat setelah tawaf, Rabu (1/3) dini hari.
Jamaah umrah dari berbagai negara melebur di Maqom Ibrahim untuk menunaikan shalat sunnah dua rakaat setelah tawaf, Rabu (1/3) dini hari.

IHRAM.CO.ID, Ada saja orang yang merasa tak tergetar hatinya saat menunaikan ibadah umrah. Kepada ihram.co.id, salah seorang jamaah asal Bangladesh yang bermukim di London, Inggris, menceritakan kegusarannya. Ibu muda yang berumrah bersama suami dan anaknya yang berumur lima tahun itu merasa belum mendapatkan getaran spiritual seperti yang diharapkannya. Muslimah asal Pakistan yang duduk di sebelahnya kut mengangguk, merasa terwakili.

 

Apa saja kemungkinan penyebabnya? Ustaz Budi Prayitno yang memandu jamaah umrah karyawan dan mitra Elcorps mengatakan ada sejumlah penyebab yang bisa menghalangi munculnya getaran tersebut.

Terkait

Ustaz Budi menjelaskan secara fisik, Masjidil Haram belum rampung direnovasi. Pekerjaan pembangunan masih terus berlangsung. "Setting lokasi dengan hiruk-pikuknya yang seperti ini juga dapat memengaruhi jamaah," ujar Direktur Mi'raj Tour and Travel ini.

Kondisi Masjidil Haram sangat berbeda dengan Masjid Nabawi yang berfungsi sebagaimana masjid pada umumnya. Masjid Nabawi memiliki keteraturan, mulai dari arah kiblat hingga jam buka-tutupnya. "Masjid Nabawi tutup pukul 23:00 dan buka kembali pukul 03:00 sehingga ada waktu bagi petugas untuk membersihkan masjid," jelas Ustaz Budi.

Sementara itu, kehidupan di Masjidil Haram sangat dinamis. Petugas harus membersihkan masjid selagi jamaah masih beraktivitas. "Itu saja bisa membuyarkan konsentrasi jamaah," kata Ustaz Budi.

Belum lagi shaf shalatnya yang tak menuju satu arah mata angin, namun langsung mengitari Ka'bah. Ada keriuhan tersendiri saat jamaah mencari shaf. "Masjidil Haram sangat dinamis laksana kehidupan yang terus bergerak, terkadang ada gesekan dan benturan," ujar Ustaz Budi.

Di lain sisi, orang yang datang ke Masjidil Haram memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda. Ada yang sudah stabil, ada pula yang datang masih dengan kegaduhan duniawi. "Mereka memerlukan stimulasi dari luar, baik waktu maupun suasana, untuk bisa fokus beribadah," ucap Ustaz Budi.

Selain itu, bisa jadi doa yang dipanjatkan tak terhayati dengan baik. Terlebih, saat tawaf tubuh dituntut untuk terus bergerak. "Biasanya, saat shalat di Maqom Ibrahim orang sudah bisa konsentrasi dan merasakan getaran spiritual yang spesial," kata Ustaz Budi.

Untuk memberi kesempatan bagi jamaah meresapi ibadahnya, Mi'raj Tour and Travel menyediakan waktu jeda antarkegiatan. Jamaah dibimbing untuk mengenali diri, masalah dalam kehidupannya, dan memasang target pencapaian kualitas diri setelah berumrah. "Dapat apa setelah tawaf? Itu perlu dikontemplasikan oleh jamaah," kata Ustaz Budi.

Demikian pula ketika sa'i. Jamaah biasanya terfokus dengan buku bacaan umrah. Padahal, tidak ada bacaan wajibnya saat sa'i. "Orang terkadang ragu apakah sudah sah sa'i-nya lantaran bacaan doanya tak lengkap," ucap Ustaz Budi.

Hakikat tawaf n sa'i adalah ketaatan kepada Allah melalui gerak. Ini tak bisa ditawar. "Betapa mudah itu? Tapi apa artinya tanpa ilmu n pemahaman?," tanya Ustaz Budi retoris.

Akan tetapi, Ustaz Budi menyerukan mereka yang minim pengetahuan agamanya untuk tak takut umrahnya tak menjadi pengalaman yang membekas. Ia mengingatkan rahmat Allah begitu luas. "Bisa saja ada intervensi dari Allah, mereka diberikan rasa haru dan kenikmatan beribadah," tuturnya.

Agar lebih fokus beribadah, Ustaz Budi menganjurkan jamaah untuk memperlakukan seolah inilah umrah terakhirnya. Lantas, saat melihat Ka'bah, bacalah doanya dengan sepenuh hati. Bayangkan pula, dahulu Rasulullah juga pernah bertawaf di tempat yang sama. "Insya Allah dari situ saja kita sudah mulai merasakan getaran spiritual."

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini