Berhaji tanpa Niat?

Jumat , 10 Mar 2017, 07:03 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
 Sejumlah calon jamaah haji bersiap untuk berangkat ke tanah suci di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (2/10).    (Republika/Yasin Habibi)
Sejumlah calon jamaah haji bersiap untuk berangkat ke tanah suci di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (2/10). (Republika/Yasin Habibi)

Oleh:Eko Oesman*

 

Terkait

Sorry ya Mas Bro, naik haji ndak bisa hanya pasang niat! Kudu ikhtiar. Ya buka tabungan lah, atau mulailah belajar menyisihkan uang sedikit demi sedikit. Begitu ya? Ya iyalah. Tapi dibalik niat yang sudah dipatok itu, sertakan hati, pikiran, dan upaya untuk memperjuangkannya. Kenapa berjuang? Godaannya banyak, Bang!

Seorang teman sudah memasang niat kuat untuk berhaji. Waktu itu tahun 90-an. Belum ada jadwal antrian. Punya uang bisa langsung berangkat. Uang di tangan 25 juta cukup buat satu orang. Tantangan pertama muncul dari sang istri. Lha katanya mau menamatkan kuliahnya dulu bah? Lha katanya mau ngajak mamak sekalian? Selanjutnya, godaan muncul dari ananda tercinta. Lha katanya bapak janji mau beli mobil dulu?

Tau the end of the story-nya? Singkat cerita, teman saya tadi malah nyari pinjaman dari koperasi terus berangkat berdua sang istri. Pulangnya? Rezeki Allah mengalir seperti bah. Kuliah selesai, pinjaman lunas, mobil terbeli, bahkan bisa nambah beli truk pasir untuk usaha sampingan. Nikmat Allah mana lagi yang kita ragukan?

Satu teman lagi. Setiap seleasi sholat shubuh dia punya sebuah kebiasaan baik. Naik sepeda bersama sang putri tercinta. Keliling kompleks. Di depan sebuah rumah yang diincar, mereka berdua pasang niat. "Aminn-kan ya dek doa Abah". Sambil memegang pagar rumah tersebut dia berdoa. "Ya Allah, mudahkanlah rezeki kami untuk memiliki rumah seperti ini.. Aamiin". Doanya dikabulkan Allah beberapa tahun kemudian. Plus bonus menjadi petugas haji. Gratis atas biaya dinas.

Lain lagi kisah seorang sahabat saya. Setiap ada undangan walimatusaffar keberangkatan haji tetangganya, dia usahakan selalu datang. Seberapapun jauhnya. Sambil bersalaman dia senantiasa minta didoakan agar bisa berangkat haji. Plus setiap selesai sholat dia menyerongkan sedikit duduknya sambil melambaikan tangan seolah-olah disana ada Hajar Aswad-nya Kakbah. "Aku akan datang menghadiri panggilan-Mu ya Allah". Alhamdulillah doanya dikabul Allah. Menjadi petugas haji juga.

Perjuangan mendapat ridha Allah sejatinya menjadi pakaian iman kita sehari-hari. Program perubahan mindset atau pola pikir membutuhkan dukungan unsur spiritualitas. Bisa saja DATA yang sudah susah payah didapat dari lapangan tidak mendapat apresiasi atau kepercayaan dari masyarakat. Di saat itulah sebenarnya kita butuh dukungan dari Yang Maha menguasai hati manusia. Yang Maha berkuasa membolak balik hati manusia.

"Ya Allah, bukakanlah hati mereka untuk bisa menerima apapun DATA yang kami hasilkan". Yuk kita aaminn-kan bersama-sama. Salam Jumat Barokah.

 

*Eko Oesman, Peneliti Badan Pusat Statistik (BPS).

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini