28 Ramadhan 1442

Kakek Nasri Dua Kali Tersesat di Nabawi

Kamis , 03 Aug 2017, 13:05 WIB Redaktur : Agus Yulianto
Jamaah haji yang tersesat di Tanah Suci.
Foto : Republika/Heri Ruslan/ca
Jamaah haji yang tersesat di Tanah Suci.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Wartawan Republika.co.id, Ani Nursalikah dari Madinah

Dengan bertelanjang kaki, Muhammad Nasri Mutang tiba di Kantor Daerah Kerja (Daker) Madinah. Wajah kakek 73 tahun ini pucat dan tubuhnya gontai.

Kakinya terlihat melepuh. Tidak terbayang bagaimana kaki-kaki tua Nasri terpanggang aspal dan jalanan panas saat menempuh perjalanan satu kilometer hingga ke kantor Daker.

Saat tiba, petugas dengan sigap menolongnya. Seorang petugas lantas mengajak Nasri duduk di sofa ruang tunggu. Si petugas yang juga mukimin itu, lantas memijit dan mengurut punggung jamaah asal Pinrang, Sulawesi Selatan ini yang tampak tak berdaya.

Kakek Nasri memang dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, namun tak banyak informasi yang ia ungkap. Akibat lelah yang mendera, ia terlihat begitu berat membuka mulut.

Petugas pun tak mau memaksa Nasri bercerita tentang kejadian yang menimpanya. Tak lama kemudian, seorang petugas lain berinisiatif mengambil makanan dan minuman untuk sang kakek.

Dengan tangan gemetar, Nasri hanya mampu menyuap beberapa sendok nasi ke mulutnya. Air minum dalam gelas pun tak ia habiskan kecuali seteguk.

Melihat kondisi Nasri yang mulai menghawatirkan, petugas Daker Madinah bernama Muhammad Rawfi lantas menelepon tim kesehatan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Sektor II. Pria yang bertugas sebagai sopir di Kantor Daker ini juga berupaya mencari alamat pemondokan Nasri. Berbekal informasi dari gelang yang ia kenakan, diketahui Nasri adalah jamaah dari Kloter UPG 4 (Ujung Pandang).

"Sambil mencari alamat pemondokan kami perlu membawa beliau ke KKHI untuk periksa dulu," kata Rawfi.

Saat dokter KKHI tiba di Daker Madinah, Nasri segera dibawa menuju Sektor II untuk pemeriksaan lebih lanjut. Ia masih mampu berjalan walau tertatih.

Sandal jepit berwarna toska pemberian petugas telah ia kenakan. Sandal itu pengganti alas kakinya yang hilang di Masjid Nabawi.

Rawfi dan anggota tim Perlindungan Jamaah (Linjam) Hendi Ismoyo menemani dokter di dalam mobil. Sang dokter juga memeriksa Nasri di dalam mobil, namun tak ditemukan adanya tanda-tanda si kakek sakit.

Rawfi dan Ismoyo memutuskan tetap membawa Nasri ke markas Sektor II di Hotel Mawaddah an-Noor, sebelum ditemukan alamat pemondokan si kakek. Di Hotel Mawaddah, Nasri hanya diminta rehat dan tidak diperiksa.

Melalui telepon genggamnya, Rawfi menghubungi sejumlah pihak yang sekiranya tahu dimana letak hotel si kakek.