Jangan Sampai Sakit, Melempar Jumrah Badal Saja

Senin , 04 Sep 2017, 12:15 WIB Redaktur : Agus Yulianto
Ani Nursalikah
Ani Nursalikah

IHRAM.CO.ID, Oleh : Wartawan Republika.co.id, Hj Ani Nursalaikah, dari Makkah

 

Terkait

Pandangan mata saya tertumbuk pada sosok di depan saya. Di antara ratusan orang yang berada di kawasan jamarat, Sabtu (2/9) hampir tengah malam itu, bapak itu begitu mantap melempar batu demi batu.

Setelah melempar tujuh batu kerikil, dia kembali melihat beberapa lembaran kertas di tangan kirinya. Bolak-balik dia membukanya, kemudian kembali melempar. Seorang pria di sampingnya membantu menyiapkan kerikil. Kantong plastik bening masing-masing berisi tujuh batu ia sobek. Semua itu mereka lakukan secepat mungkin.

Selesai melempari jumrah Ula, saya menyempatkan diri menyapanya. Abdul Hamid namanya. Dia merupakan pembimbing ibadah utama dari Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Nahdlatul Ulama Jepara, Jawa Tengah.

Abdul mengatakan, dia sedang membadalkan jamaah hajinya melempar jumrah. Tangannya menentang dua kantong kresek berisi batu dan berbagai keperluan. Sebuah pelantang suara menggantung di lehernya.

"Ya, saya membadalkan jamaah saya. Insya Allah saya siap melaksanakannya supaya ibadah mereka sempurna di hadapan Allah," katanya yang tergabung dalam kloter SOC 41.

Abdul sedang membadalkan jumrah 16 orang jamaah haji. Dia bercerita sejak awal telah memberi pengertian kepada jamaahnya yang berusia tua dan sakit tidak memaksakan diri melontar jumrah. Bahkan, dia mengaku, benar-benar melarang jamaahnya melontar jumrah.

"Saya larang, jangan sampai ada jamaah yang melempar karena jangan sampai ada jamaah jatuh sakit," katanya.

Dia mengaku, jamaahnya menerima dengan baik setelah diberi pengertian. Semua memahami dan tidak ada yang melanggar. Sebanyak 249 jamaah tergabung dalam kloter SOC 41. Dari jumlah tersebut, jamaah dibagi menjadi enam rombongan, dan tiap rombongan terbagi dalam empat regu.

Hari itu, 11 Dzulhijah adalah hari kedua melempar jumrah. Ketika hari pertama melempar jumrah Aqabah yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, banyak jamaah Indonesia yang tumbang karena kelelahan.

Sebelumnya, stamina mereka telah terkuras saat wukuf di Arafah. Cuacanya panas ekstrem, bahkan menurut para dokter di KKHI Arafah suhu tembus hingga 55 derajat Celsius. Belum lagi jalur menuju dan kembali dari jamarat ke tenda jamaah yang hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Gambaran panjangnya jalur yang harus ditempuh jamaah haji begini. Jika dimulai dari Terminal Jamarat menuju tiga jumrah jamaah harus berjalan kaki sepanjang lima kilometer. Lalu, dari tiga jumrah ke pintu masuk Terowongan Mina, jamaah melewati punggung gunung sepanjang empat kilometer. Dari situ, dimulailah perjalanan menembus gunung batu sejauh lima kilometer.

Perjalanan itu belum termasuk jalan kaki dari hotel atau tenda di Mina yang dilakukan pergi-pulang. Bagi saya, perjalanan tak terlupakan itu cukup membuat satu tube krim otot yang saya bawa habis. Bayangkan bagaimana jamaah kita yang sudah tua dan masuk kategori risti harus melakukannya.

Apalagi jamaah dilarang berlama-lama duduk atau istirahat sejenak jika lelah di dalam Terowongan Mina. Para askar berseragam cokelat siap mengusir jika melihat jamaah duduk lama.

Hari pertama melempar jumrah memang menjadi tantangan. Di hari inilah jamaah banyak yang penasaran ingin melihat langsung seperti apa dinding jamarat itu.

"Sudah bertahun-tahun menunggu kesempatan berhaji, ingin melihat langsung kok dilarang," begitu ucap seorang jamaah.

Pada hari pertama melempari Aqabah, kondisi jamarat sangat padat jamaah. Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Mina banjir pasien. Bahkan, menurut data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) per Ahad (3/9), jumlah jamaah yang wafat di Arafah 17 orang. Sedangkan di Mina, jumlah jamaah wafat 49 orang.

Jamaah haji harus pandai mengukur kemampuan dan kesehatan dirinya. Jika merasa tak mampu, jangan memaksakan diri. Haji Anda tetap sah meski melempar jumrah dibadalkan.

Siapkan perbekalan seperti roti atau kurma. Tak perlu khawatir soal air minum. Di sepanjang perjalanan tersedia banyak keran air siap minum. Isi perut sebelum memulai perjalanan dan minum air sebanyak-banyaknya. Jamaah yang tidak makan dan kurang minum air banyak yang pingsan atau mengalami serangan panas.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini