Melihat Sejarah Perjalanan Haji Melalui Karya Seni

Senin , 05 Mar 2018, 10:27 WIB Reporter :Umi Nur Fadhilah/ Redaktur : Ani Nursalikah
Program Manajer di Guggenheim Abu Dhabi Maisa al Qassimi bersama seniman Mohammad Kazem dan Abdulnasser Gharem.
Program Manajer di Guggenheim Abu Dhabi Maisa al Qassimi bersama seniman Mohammad Kazem dan Abdulnasser Gharem.

IHRAM.CO.ID, ABU DHABI -- Dalam sebuah diskusi berjudul "Every Object Tells Story", seniman Arab dan praktisi seni visual, Mohammad Kazem dan Abdulnasser Gharem membahas ihwal bagaimana karya seni merangkum esensi pengalaman manusia dan pengaturan haji, serta pemandangan selama haji. Diskusi itu merupakan rangkaian perayaan 10 tahun Masjid Agung Sheikh Zayed bertema "Pameran Haji: Kenangan sebuah Perjalanan".

 

Terkait

Dilansir dari Khaleej Times, seniman visual menjelaskan cerita tentang benda-benda menakjubkan yang terletak di jantung haji, Memories of a Journey Exhibition di Masjid Agung Sheikh Zayed. "Dua karya seni kontemporer yang dipresentasikan dalam pameran ini mencerminkan aspek lingkungan yang berbeda dari perjalanan ke Makkah dan Madinah," kata Kazem.

Ia beranggapan spasi bukan karya seni tradisional. Namun, menurut dia, rangkaian foto tersebut mencerminkan ruang terbuka di sekitar Masjidil Haram, termasuk bangunan di sekitarnya, sebuah fasilitas umum. Ia mengatakan, daerah sekitar itu, digunakan oleh peziarah dari berbagai negara, budaya, tradisi, dan adat istiadat.

Kazem mengatakan, meskipun hanya menunjukkan lima  persen dari setiap bangunan, tetapi hal itu mudah dikenali dan beresonansi dengan khalayak yang telah melakukan ziarah haji. Perspektif modern ini melengkapi aspek historis pameran.

Kazem juga menunjukkan kinerja koordinat GPS lokasi di UAE menuju Makkah, sebagai indikasi kinerja shalat di masjid agung dari mana saja. Diskusi yang merupakan sesi kedua dari Memories of the Journey Talks Program yang diselenggarakan oleh Sheikh Zayed Grand Mosque Center bekerja sama dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Abu Dhabi. Kegiatan ini memusatkan perhatian pada interaksi antara karya seni historis dan kontemporer yang saat ini ada di tampil di pameran haji.

Abdulnasser Gharem mengatakan proyek film Medina mendokumentasikan pengalaman manusia bersama lebih dari dua miliar Muslim dari seluruh dunia selama bulan Ramadan. Bulan suci itu mewujudkan nilai-nilai panduan dan prinsip keharmonisan dan ketenangan dalam Islam.

"Melalui proyek ini, kami ingin menekankan nilai-nilai mulia yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman dan menunjukkan semangat sejati Islam sebagai agama yang memberikan kebebasan dan menawarkan keamanan dan keselamatan di seluruh dunia," kata Gharem.

Ia menjelaskan, film itu menghubungkan seseorang secara langsung dengan perjalanan kuno. Ia meyakini seseorang akan serangkaian peristiwa sejarah dibalik kenikmatan setiap Muslim saat ini.

Pembicaraan terakhir dalam diskusi diselenggarakan pada 19 Maret dengan sebuah diskusi ekstensif yang diadakan pada Manuskrip, Seni Iluminasi dan Kaligrafi oleh Venetia Porter, Kurator Seni Timur Tengah Islami dan Kontemporer dari Museum Inggris. Kegiatan itu menampilkan pejabat UEA lainnya saat mereka menggali ke dalam sejarah pentingnya kaligrafi Arab dalam manuskrip Islam.

Orang-orang dapat melihat lebih dekat peran penting yang dimainkan seniman di dunia Islam dalam menggunakan kaligrafi untuk mengubah tulisan menjadi karya seni yang unik, seperti yang dipamerkan oleh beberapa objek dan artefak unik yang dipamerkan di pameran ini. "Pameran Haji: Kenangan sebuah Perjalanan" merayakan warisan yang kaya dari perjalanan spiritual haji ke Rumah Suci Allah di Makkah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini