Angka Kesakitan Haji Berbanding Lurus dengan Jamaah Risti

Selasa , 02 Oct 2018, 19:59 WIB Reporter :Umi Nur Fadhilah/ Redaktur : Ani Nursalikah
Petugas Haji Daker Bandara menuntun jamaah Kloter 63 Debarkasi Jakarta-Bekasi menuju paviliun Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Madinah, Selasa (25/9). Kloter tersebut merupakan kloter terakhir yang dipulangkan ke Tanah Air pada musim haji tahun ini.
Petugas Haji Daker Bandara menuntun jamaah Kloter 63 Debarkasi Jakarta-Bekasi menuju paviliun Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Madinah, Selasa (25/9). Kloter tersebut merupakan kloter terakhir yang dipulangkan ke Tanah Air pada musim haji tahun ini.

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut tingginya angka kesakitan jamaah haji di Arab Saudi berbanding lurus dengan banyaknya jumlah jamaah berisiko tinggi (risti) yang berangkat.

 

Terkait

“Sebenarnya ada hubungannya angka kesakitan dengan input dari bagaimana jamaah haji kita itu sendiri,” kata Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes Eka Jusup Singka dalam kegiatan Rakernas Evaluasi Penyelenggaraan Haji Tahun 1439 H/2018 di Jakarta Pusat, Selasa (2/10).

Eka menjabarkan sekitar 65-67 persen dari 204 ribu jamaah haji Indonesia memiliki kondisi risti. Kendati demikian, menurut Eka, kondisi itu tidak boleh menjadi alasan mengeluh untuk memberi pelayanan pada jamaah.

“Ini adalah suatu keniscayaan, kenyataan yang harus kita lihat bersama sehingga kita harus turun langsung ke lapangan,” ujar dia.

Eka tak menampik banyak hal yang harus diperbaiki dari penyelenggaraan ibadah haji 2018. Namun, ia mengatakan secara keseluruhan ibadah haji 2018 berlangsung lancar dan baik.

Kemenkes mengatakan pembinaan, pelayanan, dan perlindungan jamaah itu menyatu dengan pelayanan umum dan ibadah sehingga perlindungan kesehatan menjadi salah satu komponen yang mengeratkan kerja sama antara Kemenkes dan Kemenag. Eka menyebut ada sejumlah hal yang menjadi sorotan penyelenggaraan ibadah haji.

Pertama, komitmen politik Kemenag mendukung layanan kesehatan sangat tinggi. Kedua, adanya dukungan dari para ulama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terhadap ibadah haji. Ketiga, pengaturan sikap dan perilaku jamaah haji sangat baik. Eka menegaskan selama ini Kemenkes bekerja sesuai regulasi dalam melayani jamaah haji, mulai dari sebelum keberangkatan, saat operasional di Saudi, hingga kembali ke Tanah Air.

Kemenag merilis pada 27 September 2018, sebanyak 385 jamaah wafat di Tanah Suci. Perinciannya, 258 jamaah meninggal dunia di Makkah, 73 jamaah meninggal di Madinah, dan delapan jamaah meninggal di Jeddah. Kemudian, sebanyak delapan jamaah meninggal di Arafah, enam jamaah meninggal di Muzdalifah, 25 jamaah meninggal di Mina, dan sisanya atau tujuh jamaah meninggal di Daker Bandara.