21 Rajab 1442

Emil Minta Petugas Haji Proaktif Awasi Jamaah Risti

Jumat , 05 Jul 2019, 17:22 WIB Reporter :Arie Lukihardianti/ Redaktur : Gita Amanda
Untuk memudahkan petugas dalam memantau kondisi kesehatan calon jamaah haji yang memiliki risiko tinggi (Risti).  Pemerintah memberikan penanda gelang berwarna merah pada setiap calon jamaah haji yang memiliki risiko terserang penyakit.
Untuk memudahkan petugas dalam memantau kondisi kesehatan calon jamaah haji yang memiliki risiko tinggi (Risti). Pemerintah memberikan penanda gelang berwarna merah pada setiap calon jamaah haji yang memiliki risiko terserang penyakit.

IHRAM.CO.ID, BANDUNG -- Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ridwan Kamil mengingatkan pada jamaah haji asal Jabar untuk menyiapkan fisik sebelum bertolak ke Tanah Suci.  Ridwan Kamil meminta petugas kesehatan haji untuk proaktif mengawasi jamaah resiko tinggi (risti).

Selain itu, menurut Emil, jamaah haji harus menjaga jangan sampai dehidrasi. Karena, musim haji sekarang jatuhnya di musim panas. Sehingga, suhu di Tanah Suci akan sangat tinggi. Jangan sampai saat puncak haji atau wukuf di arafahnya terkendala.

"Nah kita mengantisipasi di tim haji daerah itu ada tim kesehatan yang sudah saya tugaskan lebih proaktif dengan adanya data tadi hampir 60an persen jamaah yang rawan atau kesehatannya beresiko tinggi (Risti)," paparnya.

Artinya, kata dia,  intensitas ketua kelompok jamaahnya pun harus lebih aktif. Namun, ia kira ini sudah terjadi di tahun-tahun sebelumya .

Baca Juga

"Sehingga semuanya mawas diri aja. Kalau sistim dari pemerintahnya mah sudah sangat siap," katanya.

Sebelumnya, Pemrintah Provinsi Jawa Barat mengerahkan sekitar 60 orang Tim Kesehatan Haji Daerah (TKHD) untuk mendampingi para jamaah yang hendak bertolak ke tanah suci. Menurut Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Jawa Barat Berli Hamdan Gelung Sakti, tenaga kesehatan yang ditugaskan ke tanah suci tersebut meliputi dokter dan perawat. Karena, pihaknya ingin memastikan kesehatan para jamaah haji asal Jabar benar-benar terjaga.

"Kan berdasarkan data, terdapat 67 persen jamaah haji asal Jabar tergolong dalam resiko tinggi (Risti) terhadap penyakit," ujar Berli usai acara Jabar Punya Informasi (Japri) di Gedung Sate, Kota Bandung, Kamis (4/7).

Menurut Berli, jamaah tersebut risti karena memiliki riwayat penyakit. Selain usianya yang sudah tua, jamaah juga masuk kategori risti karena memiliki riwayat darah tinggi dan lain-lain.

Kendati begitu, kata dia, saat ini jenis penyakit yang menghantui jamaah haji sudah bergeser dari penyakit menular menjadi tidak menular. Hal tersebut,  sangat berbeda dengan musim haji pada tahun-tahun sebelumnya. Di mana penyakit seperti Middle East Respiratory Syndrome (Mers), Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS), Hepatitis hingga meningitis yang kerap dikhawatirkan.

"Kalau sekarang tidak lagi karena sudah menggunakan vaksin dan rata rata jamaah haji Jabar sudah mendapatkan vaksin yang lengkap," kata Berli seraya mengatakan, jamaah pun sudah memperoleh vaksin flu dan ada juga yang mengambil vaksin tifoid.

Berli mengimbau, para jamaah haji untuk menjaga kesehatan selama berada di tanah suci. Khususnya dalam menjalankan pola makan juga minum serta istirahat yang teratur. 

Semua petugas kesehatan, kata dia, memiliki jadwal untuk melakukan kunjungan untuk melakukan pengecekan kesehatan. Namun ia berharap di tanah suci nanti tidak hanya jamaah yang masuk kategori risti saja yang rutin memeriksakan kesehatannya.

Saat ini, kata dia, cuaca di tanah suci masih termasuk ekstrim. Jadi, kalau malam bisa dingin sekali dan berlangsug sampai pagi. "Minimal  setiap dua jam (beraktivitas) istirabat, bisa juga sambil dzikir. Saya rasa saat manasik itu sudah disampaikan," katanya.

Menurut Berli, jumlah tenaga kesehatan asal Jabar yang ditugaskan ke tanah suci, sedikitnya ada 28 dokter dan 28 perawat dan beberapa orang tenaga medis lainnya yang akan dilibatkan.

"Kita menyiapkan TKHD Tim Kesehatan Haji Daerah yang akan mengawal kloternya provinsi dan kabupaten kota. Untuk di Jabar. Ada 28 dokter dan 28 perawat. Total sekitar 60 orang,"  paparnya.

Selain itu, kata dia, Pemerintah Pusat pun sudah menyiapkan sekitar 70 ton obat-obatan. Jumlah tersebut mengacu pada data 2018, mengingat banyak jamaah haji asal Indonesia yang sakit dan memerlukan obat.

"Jadi tidak dialokasikan per-provinsi. Nanti akan diberikan kepada jamaah yang membutuhkan sesuai dengan kondisi kesehatannya," katanya.

 

widget->kurs();?>