21 Rajab 1442

Titip Salam untuk Rasulullah SAW

Rabu , 10 Jul 2019, 02:52 WIB Reporter :Syahruddin El-Fikri/ Redaktur : Hasanul Rizqa
Kawasan Raudhah dan koridor di depan Makam Rasulullah SAW kian padat menyusul makin banyaknya jamaah haji yang tiba di Madinah, Selasa (24/7). Para jamaah berebut mengunjungi tempat yang disebut penuh berkah tersebut.
Foto : Republika/Fitriyan Zamzami
Kawasan Raudhah dan koridor di depan Makam Rasulullah SAW kian padat menyusul makin banyaknya jamaah haji yang tiba di Madinah, Selasa (24/7). Para jamaah berebut mengunjungi tempat yang disebut penuh berkah tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Syahruddin El-Fikri dari Madinah, Arab Saudi

Allahumma shalli alaa sayyidina Muhammad wa alaa aali sayyidina Muhammad.

Ya Nabi salam 'alaika

ya Habib salam alaika

Ya Rasul salam 'alaika

Shalawatullah 'alaika.

Assalamu'alaika, wahai kekasih Allah.

Alhamdulillah, shalawat dan salam untuk Rasulullah.

Segala puji bagi Allah. Akhirnya, penulis bisa menginjakkan kaki di Masjid Nabawi, Madinah Al Munawarah. Ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa bagi siapa saja yang datang ke Madinah. Entah itu untuk melaksanakan ibadah atau berziarah di seputar wilayah kota penuh berkah ini.

Bagi umat Islam, ketika melaksanakan haji atau umrah rasanya kurang afdol bila tidak datang ke Madinah, khususnya Masjid Nabawi. Sebab, salah satu bangunannya terdapat yang disebut oleh Rasulullah dengan nama Raudhah al Jannah atau taman surga.

Maka, umat Islam pun berbondong-bondong untuk bisa melaksanakan shalat di lokasi tersebut baik shalat fardu maupun shalat sunah lainnya.

Karena itu pula, Masjid Nabawi, khususnya Raudhah, selalu menjadi primadona atau rebutan umat Islam untuk melaksanakan shalat di tempat tersebut.

Mereka begitu bersemangat untuk shalat di Masjid Nabawi, khususnya Raudhah. Apalagi,  ada hadis yang menyatakan, shalat di Masjid Nabawi pahalanya sama dengan 1000 kali di masjid lain, sekalian Masjidil Haram yang bernilai pahala hingga 100 ribu kali.

Penulis bersyukur bisa shalat di Masjid Nabawi dan Raudhah. Bagaimana perasaan seusai shalat di tempat tersebut, sepertinya tak perlu penulis ungkapkan dalam artikel ini. Yang pasti senang dan penuh haru.

Ada hal menarik. Jauh hari sebelum berangkat ke Tanah Suci, sejumlah sahabat dan relasi menyampaikan sejumlah pesan dan titipan kepada penulis bila tiba di Madinah.

Di antaranya agar dimudahkan ke Tanah Suci, mohon didoakan agar rezeki lancar, usaha sukses, dan diberikan anak atau keturunan yang saleh-salehah. Bagi yang belum punya anak, minta didoakan agar segera punya momongan. Kita doakan, semoga apa yang dihajatkan tersebut dikabulkan Allah SWT. Aamiin.

Sri Handayani misalnya, sahabat dan rekan sejawat, secara khusus meminta didoakan agar segera punya momongan. Begitu juga Nurjannah, dia juga memohon didoakan di raudhah agar Allah mengaruniakan kepadanya seorang anak. Dan banyak lagi sahabat yang meminta doa yang sama. Semoga Allah kabulkan. Aamiin.

Satu hal menarik yang dapat penulis kemukakan pada tulisan ini adalah soal titip salam. "Sampaikan salam kami untuk Rasulullah," harap sejumlah sahabat kepada penulis. Mereka menitipkan salam untuk Rasulullah.

Assalamu'alaika ya Rasulallah. Sambutlah salam mereka wahai Kekasih Allah. Kami semua, umat Islam ini, adalah umat engkau. Umat yang merindukan dirimu, dapat berjumpa denganmu. Walau hanya dalam mimpi.

Dan engkau pun wahai Rasulullah, pernah bertanya kepada sahabat-sahabatmu, bahwa engkau merindukan kami, umatmu ini. Engkau membanggakan umat akhir zaman ini di hadapan sahabat-sahabatmu bahwa engkau merindukan kami.

Wahai Rasulullah, kami mungkin belum sepenuhnya menjadi teladan yang baik bagi yang lain, seusai harapan engkau. Tapi percayalah, kami mencintai-Mu. Kami menyayangimu, wahai Rasulullah.

Allahumma shalli 'alaa Sayyidina Muhammad wa 'alaa aali Sayyidina Muhammad.