4 Rabiul Awwal 1442

Perjuangan Mbah Sarmi Menjadi Tamu Allah di Tanah Suci

Kamis , 18 Jul 2019, 15:17 WIB Reporter :Dadang Kurnia/ Redaktur : Hasanul Rizqa
Sarmi Rukamin Majari yang akrab disapa Mbah Sarmi
Foto : Republika/Dadang Kurnia
Sarmi Rukamin Majari yang akrab disapa Mbah Sarmi

IHRAM.CO.ID, SURABAYA -- Sarmi Rukamin Majari (78 tahun) terlihat bahagia saat menjelang keberangkatan menuju Bandar Udara Internasional Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur. Dari bandara tersebut, sosok yang akrab disapa Mbah Sarmi itu selanjutnya akan bertolak ke Tanah Suci.

 

Hari ini, Kamis (18/7), menjadi hari yang dinanti-natikan Mbah Sarmi. Perempuan kelahiran Dusun Tempel, Tanggul Kundung, Besuki, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, itu memiliki tekad kuat untuk mewujudkan cita-citanya, menunaikan rukun Islam kelima.

Usianya memang tidak muda lagi. Tak hanya itu, secara fisik Mbah Sarmi memiliki keterbatasan. Sejak lahir, dia tidak memiliki tangan kanan. Bagaimanapun, semua hal itu tidak membuat Mbah Sarmi patah semangat untuk berhaji.

Mbah Sarmi sudah puluhan tahun tinggal di pegunungan Tanggul Kundung. Dengan latar ekonomi yang terbilang seadanya, dia mampu mematahkan stigma umum. Naik haji toh tidak harus menunggu kaya.

“Sudah puluhan tahun, Mas, saya itu hidup sendirian, tidak apa-apa mas, sing penting hati saya itu adep mantep niat haji,” tutur Mbah Sarmi kepada Ihram.co.id, Kamis (18/7).

Meski dalam pelbagai keterbatasan, Mbah Sarmi mampu menjalani keseharian sebagai seorang petani. Dia menanam macam-macam komoditas, seperti Singkong, sayur-mayur, atau jagung. Lahan yang jadi garapannya ialah sebidang tanah dekat rumahnya. Meski hasilnya tidak banyak, Mbah Sarmi mengaku penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan, sebagian uangnya dapat ditabung untuk mewujudkan cita-cita naik haji.

Tiap musim panen, cerita Mbah Sarmi, dia biasa memikul hasil panen dengan rinjih (semacam keranjang pikul dari anyaman rotan). Meski usia tidak lagi muda, Mbah Sarmi mampu berjalan menelusuri lereng Gunung Tanggul Kundung. Sesudah dari kebun, dia beranjak ke arah pasar untuk menjual hasil bumi.

Alah, Mas, untungnya ya sedikit, hanya bisa untuk makan hari ini, untuk besok ya kerja lagi,” tutur Mbah Sarmi.