10 Rabiul Awwal 1442

Masjid Musala Awan-Mendung

Jumat , 26 Jul 2019, 05:49 WIB Redaktur : Muhammad Subarkah
Masjid al Ghamamah (Republika/Syahruddin El-Fikri)
Masjid al Ghamamah (Republika/Syahruddin El-Fikri)

Oleh Syahruddin El-Fikri, Jurnalis Republika dari Madinah, Arab Saudi

 

 

Nama aslinya adalah Masjid al-Mushalla, namun ada pula yang menyebutnya Masjid al-Ghamamah. Sedang nama lainnya adalah Masjid Awan. Al-Ghamamah dalam bahasa Arab berarti awan atau mendung. Masjid ini memang tidak sepopuler Masjid Nabawi. Walau posisinya bersebelahan dengan Masjid Nabawi, tepatnya sekitar 100 meter dari Pintu Nomor 6 di daerah al-Manakha.

Tak banyak jamaah haji yang mampir atau shalat di masjid ini, sekalipun pada musim haji. Mereka umumnya hanya sebatas lewat saja. Sebab, pada musim haji, masjid ini memang tertutup untuk umum. Pengelola masjid tak membuka sedikit pun pintu Masjid al-Ghamamah. Entah apa sebabnya, mungkin karena letaknya yang bersebelahan dengan Masjid Nabawi, sehingga ia tak banyak difungsikan.

Hanya sebagian saja yang mencoba mendirikan shalat di Masjid al-Ghamamah ini. Itu pun kalau tidak ada petugas keamanan (askar) yang melihatnya. Kalau ada, jamaah juga enggan, karena keburu dilarang sama petugas. Jika sekadar berfoto atau mengambil gambar, tidak masalah.

photo

Masjid al-Ghamamah pada malam hari (Republika/Syahruddin El-Fikri)

Padahal, masjid ini memiliki sejarah yang sangat mengagumkan. Sebab, disinilah Rasulullah SAW mendirikan shalat id (Idul Fitri maupun Idul Adha). Lokasi ini, awalnya adalah tanah lapang, dan Rasul SAW mendirikan shalat id di tanah lapang, yang sekarang dibangun Masjid al-Ghamamah ini, sebagai bentuk penghormatan atas kebiasaan Rasul SAW mendirikan shalat di tempat tersebut

Diberi nama Masjid Al-Mushalla, yakni masjid tempat shalat, sebab disinilah Rasul mendirikan shalat Idul Fitri atau Idul Adha. Konon, peristiwa itu terjadi pada tahun kedua Hijriyah. Karena itu, masjid ini memiliki sejarah penting dalam kehidupan umat Islam.

Abu Hurairah berkata, “Setiap kali Rasulullah melalui Al-Mushalla, Baginda akan menghadap ke arah kiblat dan berdoa.” Karenanya, kawasan ini menjadi kawasan sebagai tempat khas shalat hari raya di masa itu.

Masjid Al-Mushalla atau Al-Ghamamah terletak di sebelah timur Madinah, yaitu berhadapan dengan Pasar Kurma, sekarang. Letak masjid ini berdampingan dengan Masjid Nabawi di sebelah barat. Dari arah Babus Salam, bila kita melihat ke arah barat akan terlihat masjid yang memiliki kubah-kubah kecil. Warnanya kelabu dan berkubah putih.

Warnanya cokelat kehitam-hitaman. Dengan bahan dasar bangunan yang tampak dari luar adalah sejenis batako, sebagaimana di Indonesia. Nampak jelas batako bersusun mengeliligi masjid ini. Kubahnya berwarna krem ke kuning-kuningan. Biasa saja, namun pada malam hari, warnanya begitu indah dengan sorot lampu menyinari tiga kubah masjid ini.

Berdekatan dengan masjid ini juga ada Masjid Abu Bakar berjarak sekitar 15-25 meter. Di bagian baratnya, sedangkan ke barat lagi sekitar 60 meter tampak Masjid Ali bin Abi Thalib. Lalu di depannya sekitar 40 meter terdapat satu bangunan lagi di samping hotel-hotel, Masjid Umar bin Khattab.

Menurut riwayat, Khalifah Umar bin Khattab adalah orang yang membangun masjid ini persis di tempat shalat Nabi SAW. Adapun bangunan masjid yang ada sekarang ini adalah peninggalan pembangunan Sultan Abdul Majid al-Utsmani. Masjid ini pernah direnovasi kembali pada masa Raja Fahd (1411H).

 

Awan mendung

Selain disebut sebagai Al-Mushalla, masjid ini juga dinamakan dengan Masjid Al-Ghamamah. Kata Al-Ghamamah artinya adalah awan yang menaungi (mendung). Menurut sejumlah riwayat, di tempat inilah Rasul mendirikan shalat Istisqa’, yakni shalat yang didirikan untuk minta hujan kepada Allah. Saat itu, cuaca sangat panas. Sejumlah jamaah juga tampak sangat kepanasan.

Rasul berdoa, dan permintaan Nabi SAW itu langsung dikabulkan Allah. Begitu Nabi SAW selesai berdoa, awan-awan (al-Ghamamah) datang, menaungi Rasul dan jamaah. Tak lama kemudian, turunlah hujan lebat. Itulah mengapa masjid ini kemudian lebih dikenal dengan nama al-Ghamamah (awan yang menaungi), atau mendung. Demikian disebutkan Khalil Ibrahim Malla Kathir, dalam kitabnya Fadhail al-Madinah al-Munawarah, cetakan ke-1 jilid II [Madinah: Maktabah Dar at-Turats, 1993], hlm 100).

Tentu saja, hujan yang dimaksudkan adalah hujan yang memberi rahmat bagi umat manusia. “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atapnya. Dan, Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS Al-Baqarah [2]: 22).

Dengan keagungan dan keistimewaan dari Masjid al-Ghamamah ini, ada baiknya jamaah haji atau jamaah umrah mengunjunginya, dan melaksanakan shalat di sini, sebagai pengingat akan kebesaran Allah dan perjuangan Rasulullah SAW.

Allahumma shalli ‘alaa sayyidina Muhammad wa ‘alaa aali sayyidina Muhammad.

 

 

widget->kurs();?>