Museum Alquran Madinah, Koleksi Mushaf Hingga Selimut Kabah

Jumat , 26 Jul 2019, 22:16 WIB Reporter :Syahruddin El Fikri/ Redaktur : Nashih Nashrullah
Jamaah haji Indonesia mendengarkan penjelasan dari seorang guide tentang isi Museum Al Quran Madinah, Jumat (26/7). Museum ini menyimpan berbagai koleksi mushaf Al Quran dan yang semua berusia lebih dari 1000 tahun lalu.
Jamaah haji Indonesia mendengarkan penjelasan dari seorang guide tentang isi Museum Al Quran Madinah, Jumat (26/7). Museum ini menyimpan berbagai koleksi mushaf Al Quran dan yang semua berusia lebih dari 1000 tahun lalu.

IHRAM.CO.ID, Museum Alquran atau yang dikenal pula dengan nama The Holy Quran Exhibition Madinah, didirikan pada 35 tahun silam, tepatnya pada 1984. Dan sejak saat itu sampai sekarang, sudah banyak koleksi yang dimiliki museum kebanggaan umat Islam itu, lebih khusus lagi bagi warga Madinah.

 

Sebab, dalam museum yang memiliki luas sekira 1.200 meter persegi itu, terdapat 12 ruangan yang menggambarkan berbagai macam koleksi Alquran. Dari yang tertua berusia hingga sekitar ribuan tahun sampai yang terbaru. Namun, lebih banyak koleksi Alquran jadul masa lampau.

Terkait

Salah satu koleksi museum yang cukup menarik pengunjung adalah Alquran yang ditulis menyerupai mushaf aslinya dari zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib. “Koleksi mushaf aslinya ada di Museum Topkapi Turki. Sedangkan yang ada di Madinah ini merupakan salinan dari yang aslinya,” kata Abdul Aziz, staf Museum Alquran ketika memandu rombongan jamaah haji Indonesia, Jumat (26/7).

Baca Juga

Aziz mengatakan, Alquran yang ditulis dan menyerupai aslinya itu tanpa tanda baca. Tidak ada harakat, tidak ada titik. “Sebab, tanda baca seperti harakat dan titik huruf-huruf hijaiyyah, baru muncul setelah kekhalifahan Ali bin Abi Thalib RA, yakni oleh seorang tabiin yang bernama, Abu al-Aswad ad-Dualy,” ujarnya.

Aziz menjelaskan, pada zaman Kekhalifahan Muawiyah bin Abu Sufyan yang menugaskan  Abu al-Aswad ad-Dualy untuk meletakkan tanda baca pada tiap kata (kalimat) dalam bentuk titik untuk menghindari kesalahan dalam membaca.

Secara otomatis, kata pria kelahiran Indramayu tersebut, usia Alquran yang tersimpan secara khusus dalam lemari kaca tersebut, berusia sekitar 1.000 tahun lalu. “Alhamdulillah, kita bersyukur, karena karya tabiin bisa lestari hingga saat ini dan umat Islam masa sekarang bisa menyaksikannya,” terang Aziz.

photo

Jamaah haji Indonesia berbelanja suvenir seusai mengunjungi Museum Al Quran Madinah, Jumat (26/7). Selain Al Quran, toko yang ada di museum ini juga menjual sajadah, karpet, dan lainnya sebagai suvenir.

Selain Alquran berusia ribuan tahun ini, koleksi lainnya adalah Alquran yang berjahit. Alquran ditulis dengan menggunakan jahit tangan oleh seorang perempuan dari Pakistan. “Waktunya dihabiskan untuk menulis Alquran selama 32 tahun,” kata Aziz.

Koleksi lainnya yang menarik adalah kiswah Ka’bah. Kok bisa? Ya, Walaupun namanya Museum Alquran, tetapi demi menjaga dan melestarikan kisah masa lampau, museum ini juga menyimpan salah satu potongan kiswah Ka’bah.

“Kiswah Ka’bah yang terpajang di museum ini usianya lebih dari 140 tahun. Artinya, kain ini pernah menempel di dinding Ka’bah,” kata Taufik, staf Museum Alquran lainnya.

Taufik mengatakan, kiswah tersebut dibuat oleh Abdullah Ghurdi, seorang keturunan Mesir. Abdullah dikenal sebagai penulis kaligrafi yang biasa menulis di Masjid al-Haram dan Nabawi. “Kalau lihat kaligrafi di Masjid Nabawi, itu tulisannya,” ucap Taufik.

Kiswah tersebut terbuat dari sutera hitam asli dan dihiasi dengan tulisan kaligrafi dari benang emas dan perak asli. “Sungguh beruntung kita bisa menyaksikan sejarah 140 tahun lalu,” terang pria kelahiran Grobogan ini.

Dia bercerita, kiswah Ka’bah, senantiasa diganti setiap tahun, tepatnya pada hari Arafah saat wukuf. Kiswah yang lama disimpan, dan sebagian dihadiahkan kepada sejumlah lembaga atau negara tertentu, termasuk Indonesia.

photo

Jamaah haji Indonesia mendengarkan penjelasan dari seorang guide tentang isi Museum Al Quran Madinah, Jumat (26/7). Museum ini menyimpan berbagai koleksi mushaf Al Quran dan yang semua berusia lebih dari 1000 tahun lalu.

Museum Alquran ini terletak di sisi selatan Masjid Nabawi. Dan terbuka untuk umum, tanpa dipungut biaya alias gratis. Museum dibuka dari pukul 06.00 hingga pukul 14.00, dan pukul 16.00 hingga 21.00. Setiap waktu shalat, museum ditutup. 

Bagi para pengunjung jangan khawatir bila terkendala bahasa. Sebab, pemandunya ada orang Indonesia asli yang menuntut ilmu di Madinah dan dipekerjakan di museum tersebut. Contohnya Abdul Aziz dari Indramayu, dan Taufik dari Grobogan. “Saya baru sekitar lima tahun,” kata Taufik, pria berusia 29 tahun.

Dia menyebutkan, staf museum dari Indonesia jumlahnya sekira 8 orang. “Kami terbagi tiga shift. Pagi tiga orang, siang tiga orang, dan malam dua orang,” ungkapnya. Jamaah dari negara lain, juga ada pemandunya. Baik dari Turki, Bangladesh, Pakistan, maupun lainnya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini