Perjuangan Petugas Haji di Tanah Suci

Selasa , 30 Jul 2019, 16:41 WIB Reporter :Muhammad Hafil/ Redaktur : Hasanul Rizqa
Seragam petugas haji Indonesia 2019
Seragam petugas haji Indonesia 2019

IHRAM.CO.ID, MAKKAH -- Sejak mulai pembekalan di Tanah Air, para petugas haji "didoktrin" untuk selalu mengenakan pakaian seragam haji selama berada di Arab Saudi. Petugas haji diperbolehkan memakai pakaian bebas hanya ketika di dalam kamar penginapan.

 

Setelah keluar dari kamar hotel, petugas haji kembali diwajibkan untuk selalu memakai seragam petugas secara lengkap. Fenomena ini yang menarik perhatian saya, yakni soal disiplin para petugas di Kantor Urusan Haji Indonesia (KUHI) Daera Kerja Makkah serta Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah.

Terkait

Meskipun para petugas sedang tidak berjaga, mereka tetap mengenakan pakaian petugas. Demikian keadaannya, meskipun mereka berkegiatan hanya sekadar shalat, pergi ke ruang mencuci, atau menjemur pakaian.

Baca Juga

Secara waktu pekerjaan, sebenarnya ada pembagian atau shift. Rata-rata 8 hingga 10 jam untuk petugas, baik di ruangan maupun lapangan.

Namun, saya menyaksikan, pada faktanya mereka selalu bekerja 24 jam sehari. Tanpa libur sama sekali di Arab Saudi. Mereka tetap siap sedia membantu jamah haji, bahkan ketika di luar jam pekerjaaan mereka.

photo

Para petugas haji Seksi Perlindungan Jamaah daker Madinah

Apa tujuan mereka tetap mengenakan seragam, sekalipun tidak sedang bertugas? Ternyata, hal itu dilakukan agar para petugas haji dapat memberikan rasa aman kepada jamaah.

Saya ingat, doktrin yang disampaikan Direktur Bina Haji Kementerian Agama (Kemenag) Khoirizi H Dasir saat sesi pembekalan.

"Bila mereka bertanya, 'siapa petugas haji?', 'di mana petugas haji?', maka katakan kepada jamaah, 'saya, petugas haji'. Jangan ragu, katakan, 'saya petugas haji, siap membina, melayani, melindungi jamaah haji'," jelasnya.

"Ini agar jamaah merasa tenang, aman, dan nyaman, dalam menjalankan ibadah haji," lanjut Khoirizi.

Saya merasa, kehadiran petugas itu sangat dibutuhkan jamaah, baik di sekitar pemondokan, pasar, maupun Masjid al-Haram.

Semua ditanyakan kepada petugas. Tidak peduli apa job desk petugas masing-masing. Jamaah cenderung hanya mengetahui bahwa yang berseragam petugas haji mengetahui segalanya.

Karena itu, tidak heran tiap petugas menerima pertanyaan berulang kali atau diminta tolong oleh petugas lain. Yang paling standar adalah seorang petugas menanyakan di mana pintu keluar masjid atau di mana terminal untuk menunggu bus pulang.

Namun, yang saya nilai cukup berat adalah jika petugas memerlukan pertolongan karena sakit atau cedera, sementara bagian jobdesk pertolongan kesehatan bukan kapasitasnya. Hanya saja, jamaah terkesan tidak peduli. Yang jelas, mereka meminta petugas untuk menolong jamaah yang terluka, sakit, atau kelelahan tersebut.

photo

Jamaah haji Indoensia diingatkan untuk selalu mengenali ciri petugas haji selama berada di Tanah Suci, Madinah dan Makkah, Ahad (14/7). Setiap petugas haji mengunakan seragam lengkap, mulai dari baju, rompi, topi, dan ID-Card.

Solusinya adalah, kita menghubungi pos terdekat atau menghubungi personel Tim Gerak Cepat (TGC), Pertolongan Pertama Pada Jamaah Haji (P3JH), atau Perlindungan Jamaah (Linjam). Ketiga tim itu memiliki spesifikasi kesehatan dan keamanan.

Tim-tim itu akan langsung bergerak menghampiri jamaah yang memerlukan pertolongan medis.

Yang unik menurut saya adalah, jika petugas haji dimintai tolong atau ditanya soal yang terlalu teknis. Misalnya, sinyal paket data jamaah yang tak keluar, harga ongkos taksi, cara pembayaran dam di bank, hingga menolong jamaah untuk menawar harga dari pedagang.

Namun, di situlah hikmahnya. Tugas kami--para petugas haji--di sini memang untuk melayani jamaah. Tugas kita bukan untuk beribadah di Tanah Suci. Niat ibadah kita mencakup pelayanan terhadap jamaah.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini