Kiswah Kabah, Tugas Suci Sejak Era Umar Hingga Sekarang

Jumat , 02 Aug 2019, 15:25 WIB Reporter :Umi Nur Fadhilah/ Redaktur : Nashih Nashrullah
Penggantian kiswah Ka'bah
Penggantian kiswah Ka'bah

IHRAM.CO.ID, JEDDAH — Dalam sebuah tradisi sejak berabad-abad lalu, tirai hitam atau kiswah baru selalu dipasang di Ka'bah, setahun sekali. Kiswah terbuat dari kain sutra berkualitas tinggi yang berhias ayat Alquran. Untaian ayat-ayat Alquran berasal dari benang emas dan perak yang dijahit ke kiswah. 

 

Ketika jamaah haji dari seluruh dunia memulai perjalanan ibadah, sekitar 200 pengrajin Saudi dan negara-negara lain, terlibat dalam pembuatan tirai hitam di Kompleks Raja Abdul Aziz untuk Ka'bah Suci Kiswah di Makkah, Saudi. 

Terkait

Pengrajin itu bergotong royong mewarnai, menenun, mencetak, dan membuat Kiswa dengan sangat hati-hati dan terampil. Setelah wangi dan dijahit sempurna, tirai sutra akan dipasang pada hari kesembilan Zulhijjah, atau bertepatan dengan pelaksanaan wukuf jamaah haji di Padang Arafah.  

Baca Juga

Dilansir di Abar News, sebelum pembangunan Kompleks Raja Abdul Aziz untuk Ka'bah Suci Kiswa pada 1926, Kiswa dipasok oleh berbagai negara, salah satu yang paling menonjol adalah Mesir. Berbagai macam jenis kain dan warna, digunakan selama berabad-abad untuk pembuatan kiswah yang dianggap tugas suci.  

Dari tulisan-tulisan sejarawan Arab, Abu al-Walid al-Azraqi misalnya,  Umar bin Khattab adalah khalifah Muslim peretama membuat Ka'bah terbalut kain putih terang bernama al-Qabbati.

Umar mengirim permintaan kain putih itu pada gubernur Mesir saat itu, Amr bin al-Ash. Hal itu berdasarkan penelitian seorang sejarawan Mesir, Abdelmajid Abdel Aziz.  

Khalifah ketiga, Utsman bin Affan memerintahkan produksi dua kiswah. Kain pertama terbuat dari permadani sutra untuk menghiasi Ka'bah pada hari pertama haji. Kain kedua terbuat dari al-Qabbati yang dipasang pada hari ke-27 Ramadhan. 

Tradisi setiap tahun menghiasi Ka'bah dengan kiswah baru berlanjut selama berabad-abad, tetapi waktunya berbeda-beda dari satu era Islam ke era lainnya. Selama periode Umayyah, kiswah baru dipasang pada Asyura, yakni hari ke-10 pada bulan pertama Muharram. Kemudian, kain itu digantikan kiswah lainnya pada akhir Ramadhan. Praktik itu tidak berubah selama periode Abbasiyah.  

Pemerintahan khalifah Abbasiyah al-Ma'mun menunjukkan pergantian kiswah baru berlangsung tiga kali dalam setahun. Pertama, kiswah sutra merah pada hari pertama haji. Kedua, al-Qabbati putih pada malam bulan Hijriyah ketujuh. Ketiga, kiswah sutra putih pada hari ke-27 Ramadhan.  

Hingga 1192, perintah membuat kiswah selalu dilakukan pada pengrajin yang tinggal di sebuah pulau di Danau Tannis (sekarang dikenal sebagai Danau al-Manzila) di timur laut Mesir. Danau Tannis terkenal dengan reputasinya sebagai pusat manufaktur tekstil kala itu. 

photo

Kiswah

Namun, Sultan pertama Mesir dan Suriah, serta pendiri Dinasti Ayyubiyah, Salahuddin al-Ayyubi memerintahkan penduduk untuk meninggalkan Danau Tannis selama Perang Salib Kristen.  

Kemudian, keterampilan manufaktur bermigrasi ke bagian lain Mesir, terutama Kairo. Teknologi industri tekstil menjadi lebih berkembang, setelah abad ke-13 Masehi. Bahan dan teknik yang mulai digunakan dapat memastikan kiswah khas tidak aus dalam setahun.   

Selama Dinasti Mamluk, produksi kiswah menjadi sangat mahal. Kondisi itu memaksa Sultan al-Nasir bin Qalawun memerintahkan gubernur Mesir menggunakan pajak dari desa-desa Bassous dan Abul-Gheit untuk tujuan produksi kiswah. Namun, setelah bertahun-tahun, penerimaan pajak terbukti tidak mencukupi. Kemudian, biaya produksi Kiswa ditanggung sumbangan yang digagas Al-Nasir bin Qalawun.

Selama masa pemerintahannya, Sultan Sulaiman al-Qanuni menyadari uang dari wakaf tidak mencukupi, sehingga dia memerintahkan akuisisi 10 desa yang diperoleh pada 1567 M dapat menghasilkan aliran pendapatan khusus. Hasil pendanaan dari 10 desa, digunakan untuk pembuatan Kiswah. Pengaturan itu merupakan kontribusi terbesar penguasa Ottoman.  

Gubernur Ottoman Mesir dari 1805 hingga 1848, Muhammad Ali Pasha memerintahkan penganggaran membuat kiswah dari kas negara. Itulah awal mula lokakarya bersejarah Dar al-Khoronfosh muncul di lingkungan Al Gamaleya di Kairo. 

Pada 1926, setelah pengambilalihan wilayah Hijaz, Raja Abdul Aziz memerintahkan pendirian pabrik kiswah di Makkah, Saudi. Tempat tersebut berada di lingkungan Ajyad, dekat Masjid al-Haram. Saat ini, tempat itu berada di Distrik Umm Al-Joud di Makkah. Tirai sutra hitam biasanya siap dua bulan sebelum awal haji, ketika penjaga Ka'bah dari keluarga Bani Shaiba secara resmi mengambil kiswah. 

 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini