Jamaah Haji Diimbau Perdalam Pengetahuan Manasik

Kamis , 08 Aug 2019, 07:10 WIB Redaktur : Ani Nursalikah
Jamaah haji berduyun-duyun memasuki area Masjidil Haram, Makkah, Rabu (7/8). Walau tidak ada bus yang membawa mereka ke Masjidil Haram, jamaah tetap datang dengan menggunakan taksi atau berjalan kaki.
Jamaah haji berduyun-duyun memasuki area Masjidil Haram, Makkah, Rabu (7/8). Walau tidak ada bus yang membawa mereka ke Masjidil Haram, jamaah tetap datang dengan menggunakan taksi atau berjalan kaki.

IHRAM.CO.ID, Oleh Syahruddin El-Fikri dari Makkah, Arab Saudi

 

Terkait

MAKKAH -- Jamaah haji Indonesia diimbau memperdalam pengetahuan masalah manasik haji. Hal ini agar kemampuan melaksanakan ibadah menjadi lebih baik.

Baca Juga

“Saat ini merupakan waktu yang paling tepat bagi jamaah meningkatkan ilmu pengetahuan terkait proses pelaksanaan ibadah manasik haji,” ujar Ketua Sektor 2 Daker Madinah, Rusdi Umar, di Makkah, Rabu malam (7/8).

Alasannya, saat ini banyak waktu luang pascadihentikannya layanan distribusi katering dan operasional bus shalawat. “Dengan berhentinya layanan tersebut, maka jamaah punya waktu banyak memperdalam pengetahuan manasik haji,” katanya.

Rusdi berharap, para petugas haji di setiap kloter terutama pembimbing ibadah bisa memberikan bimbingan manasik haji kepada jamaahnya. “Kalau dalam satu kloter jumlahnya terlalu banyak, ya bisa dibagi tiga gelombang, bisa pagi, siang, dan malam supaya lebih efektif. Dan dalam dua hari, insya Allah masih cukup bagi jamaah,” ujarnya.

Ia menegaskan, bimbingan ibadah manasik haji tersebut jika disampaikan hanya sekali, maka upaya itu dinilainya tidak akan maksimal. “Semakin banyak tentu akan semakin baik,” kata dia.

Karenanya, kata dia, dalam waktu yang tersisa hanya satu-dua hari ini sebelum diberangkatkan ke Arafah, jamaah diimbau tak henti-hentinya untuk memperbanyak pengetahuan manasik haji. “Misalnya tentang rukun, syarat, dan wajib haji. Mana yang boleh dilakukan dan mana yang dilarang,” ujarnya.

Ia pun mengimbau jamaah menjaga kesehatan diri dan tidak memforsir tenaga untuk bepergian. “Manfaatkan saja waktu istirahat yang ada dengan banyak belajar. Supaya nantinya saat di Arafah Muzdalifah, dan Mina, tenaga masih kuat serta pengetahuan agama juga makin baik,” kata Rusdi.

Rusdi mengakui, tidak semua jamaah haji sudah paham tentang pengetahuan haji. Ia menyebutkan, mayoritas jamaah haji Indonesia berasal dari pedesaan dan terpencil. Apalagi jamaah lanjut usia dan memiliki risiko tingi (risti).

“Jadi sebaiknya, hemat tenaga dan jaga kesehatan agar tetap prima,” kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini