Teringat Ungkapan Hajinya Tertinggal di Bandara

Kamis , 08 Aug 2019, 18:42 WIB Reporter :Muhammad Hafil/ Redaktur : Hasanul Rizqa
Jamaah haji sedang melaksanakan shalat wajib di Masjidil Haram pada musim haji 1440 H / 2019 M (Ilustrasi).
Jamaah haji sedang melaksanakan shalat wajib di Masjidil Haram pada musim haji 1440 H / 2019 M (Ilustrasi).

IHRAM.CO.ID, MAKKAH -- Sekitar tiga juta orang jamaah haji akan berkumpul di Padang Arafah pada 9 Dzulhijah 1440 Hijriah atau 10 Agustus 2019. Sebanyak 231 ribu orang di antara mereka merupakan jamaah asal Indonesia.

 

Jumlah tersebut menempatkan Indonesia menjadi negara penyumbang jamaah haji terbesar pada tahun ini, demikian pula tahun-tahun sebelumnya. Setelah wukuf di Arafah, jamaah haji akan melaksanakan prosesi mabit di Muzdalifah. Selanjutnya, mereka akan bergerak ke Mina untuk menunaikan lempar jumrah hingga 12 dan 13 Dzulhijah atau 13-14 Agustus 2019.

Terkait

Tiga hari setelahnya, tepat pada 17 Agustus, sebagian jamaah haji Indonesia yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter) gelombang pertama akan dipulangkan. Mereka bertolak ke Tanah Air melalui Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Proses pemulangan jamaah haji akan terus dilanjutkan hingga 16 September 2019. Artinya, pada tanggal tersebut seluruh jamaah haji asal Indonesia telah kembali ke Tanah Air.

Baca Juga

 

Haji di Bandara?

Ada satu anekdot yang kerap saya dengar, yakni "Hajinya tertinggal di bandara." Ungkapan ini bisa dibilang sebagai julukan dari masyarakat terhadap orang yang sepulangnya dari Tanah Suci justru tak kunjung menjadi pribadi yang lebih baik. Malahan, orang demikian kian menjadi-jadi perangai buruknya.

Berbagai penyakit sosial atau penyakit hati dilakukannya setelah pulang haji. Memang, sering kali julukan itu tak disampaikan langsung masyarakat ke yang bersangkutan. "Hanya" berupa gunjingan di belakang-belakang.

Toh ini bukan persoalan canda. Ada suatu kekecewaan di tengah masyarakat bahwa orang yang pulang berhaji tak kunjung menunjukkan perilaku yang lebih baik. Dengan perkataan lain, masyarakat terlanjur menilai orang yang demikian, meski sudah berhaji, tidak mencapai predikat mabrur.

Tentu, penyematan predikat mabrur mutlak merupakan kewenangan Allah SWT. Namun, seperti kata seorang alim, tanda-tanda kemabruran dapat dilihat dari perilaku seseorang yang berhaji begitu kembali ke lingkungan tempat tinggalnya.

Memang, seharusnya setiap jamaah haji begitu kembali ke Tanah Air membawa nilai-nilai spiritual yang positif, sesuatu yang mungkin dibiasakannya selama di Tanah Suci. Jika wukuf di Arafah, seluruh jamaah memakai pakaian serba putih. Maknanya, ada nilai-nilai kesetaraan, egalitarian, sesama manusia di hadapan Allah. Tidak ada insan, apalagi yang beriman, yang boleh memiliki sifat sombong.

Ketika melempar jumrah, jamaah yang berhaji itu sesungguhnya menyimbolkan upaya memerangi setan dan kejahatan. Ketika dia pulang ke Tanah Air pun, seyogianya perangainya juga konsisten memerangi sifat-sifat buruk. Amar ma'ruf nahi munkar.

 Jika saja setiap jamaah haji menerapkan nilai-nilai positif itu saat kembali ke Tanah Air, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negeri yang semakin lebih baik. Baldatun toyibatun warobun ghofur.

 

Bayangkan, setiap tahun lebih dari 200 ribu orang yang pergi berhaji. Maka setiap tahun ada ratusan ribu orang yang berpotensi berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Mereka pun diharapkan bisa menerbar kebaikan kepada masyarakat.

Tentunya, semua kita berharap orang yang pulang berhaji menjadi haji mabrur. Dan, perilaku mereka menjadi lebih baik lagi. Kita harapkan, orang yang sudah berhaji tak lagi melakukan kemaksiatan pribadi ataupun kemaksiatan sosial seperti korupsi, suap, atau penyakit masyarakat lainnya.

Sehingga, ratusan ribu orang yang pulang berhaji membawa nilai-nilai kebaikan ke masyarakat. Bukan sebaliknya, hajinya tertinggal di bandara pemulangan  jamaah di Jeddah atau Madinah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini