34 Ribu Jamaah Haji Indonesia Melapor Ikut Tarwiyah

Kamis , 08 Aug 2019, 05:37 WIB Redaktur : Muhammad Hafil
Ibadah tarwiyah saat haji dilakukan pada 8 Dzulhijah (Ilustrasi)
Ibadah tarwiyah saat haji dilakukan pada 8 Dzulhijah (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhammad Hafil dari Makkah, Arab Saudi

 

Terkait

Baca Juga

MAKKAH -- Puluhan ribu orang jamaah haji indonesia berencana untuk melakukan sunah tarwiyah. Angka tersebut berdasarkan data yang diterima oleh PPIH Arab Saudi Daker Makkah.

Menurut Pelaksana Tugas Bimbingan Ibadah PPIH Arab Saudi Daker Makkah, Yendra Al Hamidy, berdasarkan data yang diterima hingga Kamis (8/8) dini hari, ada 34.680 jamaah yang melapor ingin melakukan sunah tarwiyah. Di mana, mereka melapor ke masing-masing kepala sektornya.

"Ada 34.680 yang melapor ingin melakukan sunah tarwiyah," kata Yendra, Kamis (8/8).

Menurut Yendra, jumlah itu masih belum final. Karena, pihaknya hari ini masih menunggu laporan jamaah yang ingin melakukan sunah tarwiyah.

Sementara, Kepala PPIH Arab Saudi Daker Makkah, Subhan Cholid, jamaah haji yang ingin melaksanakan sunah tarwiyah akan berangkat dari hotelnya di Makkah ke Mina pada Kamis (8/8) sore. Adapun batas akhirnya yaitu hingga Kamis (8/8) malam.

"Kalau Jumat pagi sudah tidak bisa karena itu sudah jadwal jamaah haji dari Makkah yang ke Arafah," kata Subhan.

Menurut Subhan, para jamaah haji yang melakukan sunah tarwiyah akan menginap di tenda Mina. Di sana, mereka akan dilayani oleh pihak Maktab.

"Makanan sudah tersedia di sana. Dilayani oleh pihak Maktab," kata Subhan.

Tarwiyah merupakan sebutan untuk salah satu amalan sunnah dalam rangkaian ibadah haji. Sesi ini dilaksanakan pada hari kedelapan bulan Dzulhijjah. Jamaah yang melakukannya menapak tilas perjalanan Nabi Muhammad SAW, dari Mekkah ke Mina, menempuh jarak sekira 14 kilometer. Kemudian, jamaah kembali ke Arafah untuk mengikuti wukuf.

photo

Alasan Pemerintah Indonesia tak Fasilitasi Ibadah Tarwiyah.

 

Terkait hal ini, Subhan mengatakan, PPIH Arab Saudi tak memfasilitasi jamaah haji yang ingin melaksanakan tarwiyah. Sebab, pemerintah berfokus pada pelaksanaan wukuf, yang tak lain puncak haji.

"Ada sebagian jamaah yang akan melaksanakan tarwiyah yang merupakan salah satu sunah dalam ibadah haji. Namun, pemerintah Indonenesia tak melaksanakan, mengagendakan, dan memprogramkan pelaksanaan ibadah tarwiyah untuk seluruh jamaah haji Indonesia," kata Subhan.

Subhan menjelaskan, pertimbangan pemerintah dalam hal ini adalah pelaksanaan tarwiyah berlangsung pada 8 Dzulhijah atau satu hari menjelang wukuf di Arafah.

Sementara itu, wukuf di Arafah adalah rukun haji dengan waktu yang sangat pendek. "Dengan pertimbangan keabsahan haji, pemerintah berkonsentrasi pada rukun hajinya yaitu wukuf di Arafah," jelas Subhan.

Menurut dia, jika PPIH berkonsentrasi pada tarwiyah, dikhawatirkan ada sebagian jamaah karena satu dan lain hal tidak bisa melaksanakan wukuf. Maka, tarwiyah menjadi pilihan bagi jamaah, pemerintah tidak  melaksanakan prosesi tarwiyah itu sendiri.