Munajat Saat Wukuf di Tengah Guyuran Hujan

Senin , 12 Aug 2019, 16:28 WIB Reporter :Muhammad Hafil/ Redaktur : Hasanul Rizqa
Kondisi Arafah menjelang angin kencang dan hujan para Ahad (19/8) malam.
Kondisi Arafah menjelang angin kencang dan hujan para Ahad (19/8) malam.

IHRAM.CO.ID, ARAFAH -- Fadli (43 tahun) bergegas keluar dari tendanya yang terletak di Maktab 4, Padang Arafah, Arab Saudi. Jamaah haji asal embarkasi Batam tersebut tak menduga sama sekali hujan akan turun di Arafah pada hari itu, Sabtu (10/8). Padahal, saat pelaksanaan jamak takdim qasar zhuhur dan ashar hari itu, sebagai tanda dimulainya wukuf, dia melihat cuaca di luar tenda masih cukup panas dan terik.

 

Dua jam setelahnya atau sekitar pukul 14.50 WAS, dia yang sedang berbaring santai di dalam tenda mendengar gemuruh petir dari langit. Meski tak kencang, namun iramanya berkesinambungan dan dilanjutkan dengan hujan rintik-rintik.

Terkait

Meski kecil, hujan itu bisa membasahi ranah dan atap tenda di Arafah. Dan karena rintik-rintik itulah dia keluar dari tenda untuk mencari tempat di bawah pohon Sukarno untuk kembali melanjutkan munajatnya kepada Allah.

Baca Juga

“Hujan dan wukuf di Arafah, betul-betul waktu yang sangat diijabah untuk berdoa,” kata Fadli.

Sementara di Maktab 26, atau tenda yang merupakan markas Misi Haji Indonesia, hujan juga membasahi wilayah ini. Sebagian besar penghuni tenda yang merupakan petugas haji juga ikut keluar untuk berdoa.

“Ini waktu yang sangat baik sekali. Hujan dan wukuf, ayo berdoa dan keluarkan air matamu jangan malu meminta kepada Allah,” kata Edison, salah seorang anggota Polri yang menjadi petugas haji.

photo

Kondisi Arafah menjelang dan saat diterpa angin kencang dan hujan para Ahad (19/8) malam.

Menurut Edison, sedangkan tidak hujan saja, doa-doanya sewaktu wukuf di Arafah beberapa tahun lalu banyak yang dikabulkan. “Apalagi ini ditambah hujan. Hujan adalah rahmat Allah,” kata Edison.

Berdasarkan pantauan Ihram.co.id, hujan mengguyur padang Arafah saat waktu wukuf, Sabtu (10/8) siang. Hujan terjadi pada pukul 14.50 WAS. Atau, dua jam setelah pelaksanaan khutbah wukuf. Saat pelaksanaan wukuf, suhu di Arafah cukup panas, sekitar 40 derajat celcius.

Awalnya, pada pukul 14.25 WAS, cuaca yang pascakhutbah wukuf terasa panas dan terik, berubah menjadi teduh. Angin sepoi-sepoi berhembus ke tenda-tenda jamaah. Tidak hanya itu, pohon-pohon Sukarno yang banyak tumbuh di Arafah bergoyang mengikuti tiupan angin.

Langit juga berubah menjadi mendung. Padahal, sebelumnya langit terlihat cerah. Selain itu, suara gemuruh petir meski tidak kencang juga keluar dari langit.

Hujan baru benar-benar turun pada pukul 14.50 WAS. Hujan awalnya turun secara rintik-rintik. Kejadian ini dimanfaatkan oleh jamaah haji untuk keluar tenda dan berdoa. Sebab diketahui, hujan merupakan salah satu waktu terbaik untuk berdoa.

Hujan kemudian turun cukup kencang. Dan, ini membuat jamaah haji kembali masuk ke tendanya.

Memasuki pukul 15.25 waktu Arab Saudi (WAS) pada hari itu, hujan sudah mulai reda. Namun, suara gemuruh petir masih terdengar.

Saat hujan berlangsung, banyak juga terlihat jamaah haji dari berbagai negara yang berlalu lalang. Ada yang berjalan tanpa mengenakan payung maupun ada yang menggunakan payung. Mereka umumnya berjalan dari tenda-tendanya menuju bukit-bukit yang ada di Padang Arafah.

Selama Ihram.co.id berada di Makkah sejak 9 Juli 2019 lalu, hujan baru terjadi selama dua kali. Yaitu, pada 6 Agustus dini hari, dan pada pagi harinya hingga sore harinya, mendung menyelimuti Kota Makkah. Dan, pada saat itu juga terjadi peristiwa meninggalnya KH Maimoen Zubair.

Kemudian yang kedua adalah pada saat wukuf di Arafah kemarin. Selama wukuf hingga malam hari, cuaca terasa sejuk dan tidak panas seperti biasanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini