19 Rabiul Akhir 1442

Indonesia Satu-satunya Negara yang Punya Pos Darurat di Mina

Senin , 12 Aug 2019, 18:24 WIB Reporter :Ali Yusuf/ Redaktur : Hasanul Rizqa
Seorang petugas kesehatan di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah sedang mengambil darah jamaah haji yang dirawat (Ilustrasi).
Seorang petugas kesehatan di Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah sedang mengambil darah jamaah haji yang dirawat (Ilustrasi).

IHRAM.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia menjadi satu-satunya negara non-Arab Saudi yang memiliki pos satelit dan pos ambulans siaga penuh di Mina. Hal itu diungkapkan pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI. Bahkan, pemerintah Indonesia telah menyiapkan 10 pos satelit di lokasi tersebut.

"Indonesia menjadi satu-satunya negara yang diperbolehkan memiliki pos satelit dan menempatkan ambulansnya di tiga titik di sepanjang jalur menuju jamarat," kata Koordinator Tim Gerak Cepat (TGC) dr Erwinsyah kepada Ihram.co.id, Senin (12/8).

Selain itu, Kemenkes juga memiliki pos kesehatan (poskes) yang dibangun semipermanen. Adanya 10 pos satelit di Mina tentunya memudahkan penanganan dan layanan medis untuk jamaah haji asal Indonesia, khususnya pada masa puncak ibadah haji. "Masing-masing lima pos di jalur atas dan bawah menuju jamarat," katanya.

Erwinsyah menuturkan, di setiap pos darurat itu terdapat lima orang anggota Tim Gerak Cepat (TGC) dan TPK yang bekerja 24 jam sehari dalam tiga shift. Tim inilah yang bertugas merespons pertama-tama ketika melihat jamaah sakit lanaran kelelahan dan faktor-faktor lainnya. "Di beberapa pos juga bersiaga satu unit ambulans," ujar dia.

Baca Juga

Kemenkes telah menyiapkan Pos Kesehatan (Poskes) Mina. Poskes ini didirikan untuk mengantisipasi segala potensi permasalahan kesehatan yang mungkin timbul di Mina. "Poskes Mina telah disiapkan di kawasan Misi Haji Indonesia, tepatnya di Maktab 50," ungkap dia.

Poskes Mina memiliki kapasitas sebanyak 40 tempat tidur yang diperkuat dengan tenaga kesehatan dari Daker Kesehatan Madinah. Poskes telah disiapkan di kawasan Misi Haji Indonesia sejak 9 Zulhijah (10/8) atau sejak jamaah haji selesai melaksanakan Wukuf di Padang Arafah.

"Direncanakan akan buka sampai dengan 13 Zulhijah atau 14 Agustus 2019, usai seluruh jamaah haji meninggalkan Mina," katanya.

Menurut data Siskohatkes, hingga Minggu (11/8) sore WAS, Poskes telah melayani sebanyak 184 pasien. Kasus terbanyak kelelahan dan heat stroke. "Tapi sebagian besar sudah stabil dan dikembalikan ke kloternya,” ujar dr Zainal Abidin, salah seorang tenaga medis di Poskes Mina.

Anggota Tim Promotif dan Preventif (TPP) Aji Muhawarman mengatakan, selain memiliki satu Poskes dan 10 pos satelit, Kemenkes juga menyiagakan, TPP untuk melakukan promosi kesehatan dan temuan kasus di Mina. Karena TPP dibentuk untuk menjalankan fungsinya sebagai promosi kesehatan.

"Seluruh anggota TPP secara bergiliran berkeliling di wilayah jalur atas jamarat," kata Aji.

TPP kata Aji ketika berjumpa dengan rombongan jamaah haji Indonesia, secara sepontan akan mengingatkan untuk menggunakan alat pelindung diri (APD) terutama payung dan sandal. Saat menemui jemaah yang kelelahan, mereka mengajak untuk beristirahat sejenak dan minum oralit.

Aji memastikan, bagi jamaah haji Indonesia, Mina merupakan lokasi peribadatan terberat. Bagaimana tidak, jamaah yang ingin melontar jumroh di jumroh ula, wustha dan aqobah harus berjalan kaki berkisar antara 6-14 kilometer pergi pulang dari tenda menuju lokasi melontar jumroh dan kembali lagi ke tendanya.

Jarak sejauh itu harus dilakoni jamaah selama empat hari berturut-turut, terutama bagi jemaah yang memilih nafar tsani atau meninggalkan Mina pada 13 Zulhijah.

"Situasi ini tentu sangat menguras energi dan dapat memicu gangguan kesehatan," katanya.

 

widget->kurs();?>