Jeddah Ghair, Memang Beda

Ahad , 09 Feb 2020, 09:20 WIB Reporter :Fitriyan Zamzami/ Redaktur : Muhammad Hafil
Jeddah Ghair, Memang Beda. FOto: Pada tahun 2014 Kota Tua Jeddah Al Balad, menjadi situs World Heritage UNESCO.
Jeddah Ghair, Memang Beda. FOto: Pada tahun 2014 Kota Tua Jeddah Al Balad, menjadi situs World Heritage UNESCO.

IHRAM.CO.ID,  JEDDAH -- Di jalan-jalan utama seantero Jeddah maupun bangunan-bangunan di sana, mudah menemukan slogan kota itu terpampang. Jeddah Ghair bunyinya. Dalam Bahasa Indonesia, artinya kurang lebih berarti Jeddah Memang Beda.

 

Terkait

Lokasi paling tepat membuktikan slogan itu bisa dilihat di wilayah tepian pantai di sepanjang cor nicheselatan dan utara Jeddah. Lokasi itu kontras dengan kebanyakan wilayah lain di Arab Saudi. Tempatnya dihiasi taman-taman dan plaza yang hijau dipenuhi pohon-pohonan, jalan-jalan setapak yang rapi, serta toilet-toilet umum modern.

Baca Juga

Sore hari menjelang malam, saat mentari sudah tak sedemikian terik dan kebanyakan warga Saudi memulai aktivitas luar ruangan mereka, kawasan Hamra dan Obhur tersebut penuh dengan pria dan wanita yang berolahraga. Para laki-laki dengan kaus oblong dan celana pendek. Yang perempuan menutupkan abaya ke atas baju olahraga mereka, sebagian tak berjilbab.

Wilayah yang dijilati Laut Merah tersebut baru pada 2017 lalu diselesaikan perombakannya jadi taman-taman yang elok. Bangku- bangku taman di mana-mana, warung-warung yang menjual kopi dan berbagai penganan berdiri membelah jalan. Ia kini tempat yang menyenangkan ditingkahi senja di langit Jeddah yang lebih sering bersih tanpa awan itu.

Pengelana legendaris asal Maroko, Ibn Batutah, menuliskan dalam catatan perjalannya, bahkan pada 1830-an Jeddah sudah jadi kota yang lebih terbuka dibandingkan kota-kota lain di Hijaz. Sejarahnya, merujuk kisah lokal bisa ditarik dari asal nama kota itu, jaddah yang artinya nenek. Nama itu seturut kepercayaan tempatan bahwa Siti Hawa, ibu pertama umat manusia meninggal di Jeddah meski lokasi legendaris kuburannya saat ini tak lagi terbuka untuk umum.

Posisi kota itu sebagai persinggahan kapal- kapal dagang sejak maupun jamaah haji sejak abad ke-7 agaknya berperan membentuk keterbukaan tersebut. Puritanisme ketat Kerajaan Arab Saudi tak sedemikian terasa di kota ini. Di pusat-pusat perbelanjaan, warga Jeddah berbaur tak canggung dan relatif lebih ramah terhadap warga asing ketimbang daerah- daerah lain, bahkan Riyadh yang merupakan ibu kota atau Yanbu, kota pantai lainnya.

Belakangan, seturut tekad Kerajaan Saudi melancarkan modernisme dan keterbukaan, kota ini jadi salah satu ujung tombaknya.Perempuan Saudi menyupir sendirian yang sedemikian lama dilarang pihak kerajaan sudah saya temui di kota ini, meski larangan itu baru dicabut belum setahun lalu.

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini