Jamaah Umrah Bangladesh Tunggu Pengembalian Biaya Umroh

Kamis , 12 Mar 2020, 16:21 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani/ Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Ilustrasi. Foto: Jamaah haji Bangladesh akan dilengkapi dengan teknologi canggih untuk tahun ini(Arab News)
Ilustrasi. Foto: Jamaah haji Bangladesh akan dilengkapi dengan teknologi canggih untuk tahun ini(Arab News)

REPUBLIKA.CO.ID,ABU DHABI -- Jamaah Umrah yang telah menjadwalkan perjalanan ke Makkah, masih menunggu pengembalian uang untuk biaya visa dan perjalanan mereka. Pengembalian dana disebut akan memasuki waktu jatuh tempo setelah Arab Saudi mengeluarkan kebijakan pengguhan sementara untuk jamaah umroh.

 

Terkait

Kebijakan ini diambil sebagai tindakan pencegahan untuk mencegah wabah virus Corona. Selain menghentikan proses visa Umroh, Kerajaan Saudi juga menangguhkan masuknya jamaah ke Makkah dan Madinah bagi penduduk GCC. Hal ini dilakukan meskipun mereka tidak perlu visa untuk melakukan ibadah umroh.

"Kami dijadwalkan terbang ke Madinah pada tanggal 27 Februari, dan mendengar keputusan Saudi pada dini hari.  Kami tidak yakin apa yang harus dilakukan, jadi kami masih menuju bandara hingga pukul 2 siang. Tetapi kami ditolak,” ujar seorang analis senior dari Bangladesh, Mahfuz Al Rahman, dikutip di Gulf News, Kamis (11/3).

Al Rahman dijadwalkan berangkat umroh bersama istri, dua orang anak, dan iparnya. Untuk mendapatkan visa bagi keluarganya yang terdiri dari empat orang, Al Rahman membayar 820 Dirham (3,2 juta rupiah) per-orang ke agen perjalanan yang menawarkan layanan umrah. Dia juga secara terpisah memesan tiket pesawat.

Ia menyebut telah menghubungi pihak maskapai untuk mendapatkan pengembalian uang untuk tiket tersebut. Sementara itu, agen perjalanan mengatakan tidak tahu kapan pengembalian biaya visa akan tersedia.

Setelah larangan masuk diberlakukan, media Saudi melaporkan pada 1 Maret, orang-orang yang telah membayar layanan umroh dapat menerima kembali biaya visa dan biaya layanan yang dibayarkan kepada agen-agen haji lokal di negara mereka.

Seorang perwakilan dari agen perjalanan populer yang berbasis di ibu kota Bangladesh mengatakan mereka belum mendengar kabar dari pihak berwenang Saudi mengenai pengembalian uang. "Kami harus memproses untuk sekitar 200 jamaah, tetapi masih menunggu arahan dari Kementerian Haji dan Umroh Saudi. Setelah biaya dikembalikan ke akun perusahaan kami, kami dapat bekerja untuk mengembalikan dana kepada peziarah," katanya.

Biro perjalanan ini merupakan pilihan yang populer bagi para peziarah dari Asia Selatan. Perwakilan tersebut juga mengatakan ini adalah periode yang sangat sibuk dari keadaan biasa.

Ziarah umroh, yang dikenal sebagai ibadah haji yang lebih kecil, ditangguhkan tepat menjelang bulan Ramadhan untuk persiapan Haji. Oleh karena itu, pada bulan Ramadhan serta dua bulan sebelumnya, merupakan waktu yang sangat sibuk bagi sebagian besar agen perjalanan karena penduduk terburu-buru untuk menyelesaikan ziarah mereka.

"Mengingat Ramadhan akan dimulai pada akhir April, kami mengharapkan banyak permintaan untuk layanan umrOh di bulan ini," kata perwakilan tersebut.

Penduduk lain yang berbasis di Abu Dhabi mengatakan orang tuanya sudah berada di Madinah pada 27 Februari, dan akan menuju ke Mekah. "Perjalanan antar kota dengan kereta tiba-tiba dihentikan, sehingga mereka melakukan perjalanan dengan bus ke Makkah untuk menyelesaikan ziarah mereka. Selain itu, penerbangan kembali mereka yang dipesan melalui Bahrain dibatalkan dan harus memesan penerbangan kembali ke Abu Dhabi dari Jeddah," katanya.

Senin pagi (8/3), Arab Saudi juga melarang bepergian ke dan dari UEA. Langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya ini sebgaai upaya untuk membendung wabah Covid-19. Arab Saudi terbaru telah melaporkan tujuh kasus, semuanya di wilayah Qatif di Provinsi Timur.  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini