Fashion Muslim Andalan Produk Kreatif di Pasar Global

Jumat , 13 Mar 2020, 12:30 WIB Reporter :Dedy Darmawan Nasution/ Redaktur : Ani Nursalikah
Fashion Muslim Andalan Produk Kreatif di Pasar Global. Model menggunakan busana karya ETU pada acara Muslim Fashion Festival 2020 di Jakarta Convention Center, Jakarta.
Fashion Muslim Andalan Produk Kreatif di Pasar Global. Model menggunakan busana karya ETU pada acara Muslim Fashion Festival 2020 di Jakarta Convention Center, Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio, mendorong pelaku ekonomi kreatif terutama di bidang fashion Muslim bisa mengambil peluang dengan maksimal di pasar global. Dia mengatakan dari 17 subsektor ekonomi kreatif, pemerintah telah menempatkan fashion, kuliner, dan kriya sebagai sektor unggulan untuk mendulang devisa negara lewat ekspor produk.

 

Terkait

"Fashion sendiri akan terus didorong karena terbukti menjadi salah satu produk ekonomi kreatif andalan Indonesia yang telah menembus pasar global," kata Wishnutama dalam keterangannya, Kamis (12/3). 

Baca Juga

Menurut data Kemenperin, kurun waktu Januari hingga Oktober 2019 menunjukkan industri tekstil dan pakaian menyumbang 10,84 miliar dolar AS atau Rp 148 triliun. Secara spesifik, Wishnutama pun menyebut peluang di industri fashion Muslim. Mengutip State of the Global Islamic Economy Report pada 2019, konsumsi fashion Muslim dunia mencapai 270 miliar dolar AS.

Di 2022, nilai konsumsi diproyeksikan meningkat menjadi 373 miliar dolar AS. Hal tersebut menunjukkan industri fashion nasional memiliki peluang besar di pasar internasional dan harus dioptimalkan.

“Indonesia masuk dalam tiga besar dunia sebagai negara pengekspor produk fashion Muslim dunia, setelah Turki dan Uni Emirat Arab (UAE)," katanya.

Sementara itu, IIFC atau Indonesia Islamic Fashion Consortium mencatat, Indonesia memiliki beberapa keunggulan fashion yang menjadi rujukan dunia. Permintaan busana Muslim Indonesia melalui toko daring dari mancanegara terus meningkat.

Tingginya permintaan produk fashion impor dari mancanegara terlihat dari data permintaan melalui e-commerce pada 2019 sebesar 45,8 persen berupa pakaian dan 3,5 persen adalah busana Muslim. Untuk permintaan busana Muslim impor, Wishnutama optimistis, dapat diimbangi oleh produk dalam negeri bahkan lebih unggul baik dari kualitas maupun kuantitas yang ditandai dengan meningkatnya nilai ekspor setiap tahun.

Banyak karya para disainer fashion Muslim dari Indonesia tampil dalam event fashion show kelas dunia antara lain di New York Fashion Week, International London Fashion Weeks, maupun Australia Melbourne Fashion Weeks. "Untuk itu, diharapkan para pelaku ekonomi kreatif di subsektor fesyen ini memahami sepenuhnya ekosistem yang ada sehingga dapat menciptakan peluang-peluang baru serta keseimbangan antara pemain lokal dan asing di pasar tanah air," kata Wishnutama.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini