Ahad 22 Mar 2020 16:00 WIB

Prancis Ancam Tutup Perbatasan dengan Inggris

Akibat lambannya reaksi Inggris tangani Covid-19, Prancis ancam tutup perbatasan.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Reiny Dwinanda
London, Inggris, Selasa (10/3). Akibat lambannya reaksi Inggris tangani Covid-19, Prancis ancam tutup perbatasan.
Foto: AP Photo/Matt Dunham
London, Inggris, Selasa (10/3). Akibat lambannya reaksi Inggris tangani Covid-19, Prancis ancam tutup perbatasan.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Presiden Prancis Emmanuel Macron mengancam akan menutup perbatasan Prancis dengan Inggris jika pemerintah Inggris tidak segera mengambil langkah untuk mencegah penyebaran virus corona. Sebelumnya, Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson telah memerintahkan untuk menutup pub, retoran, teater, bioskop dan pusat kebugaran sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona jenis baru penyebab Covid-19.

Surat kabar Prancis, Liberation mengutip sumber dari kantor Macron mengatakan, keputusan Johnson untuk menutup fasilitas publik dilakukan setelah Prancis memberikan ultimatum. Prancis mengancam akan melarang seluruh pendatang dari Inggris.

Baca Juga

"Kami harus dengan jelas mengancamnya untuk membuatnya akhirnya mengalah," kata laporan yang mengutip seorang pejabat.

Kantor Macron maupun Johnson tidak memberikan komentar terkait ancaman tersebut. Pemerintah Inggris mengatakan, pihaknya memutuskan untuk menutup fasilitas publik setelah berkonsultasi dengan para penasihat dan ilmuwan.

Sebelumnya, Macron telah memerintahkan penutupan sekolah, restoran, dan bar. Selain itu, dia meminta seluruh warga untuk tinggal di rumah, kecuali ada kebutuhan mendesak, seperti membeli bahan makanan, bekerja, dan membutuhkan perawatan medis. Macron juga mendesak negara-negara anggota Uni Eropa untuk menutup perbatasan eksternal.

Perdana Menteri Prancis, Edouard Philippe, mengatakan, penyebaran wabah Covid-19 akan semakin meluas jika Inggris tidak mengambil langkah untuk menutup perbatasan.

"Jika negara-negara tetangga, Inggris misalnya, bertahan terlalu lama dalam situasi tanpa mengambil langkah-langkah ini, maka kita akan merasa sulit untuk menerima warga Inggris di negara kita," kata Philippe.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement