Kamis 26 Mar 2020 04:40 WIB

Hajar Aswad Ternyata Konon Berwarna Putih Susu Bukan Hitam

Hajar aswad menurut sejumlah riwayat semula berwarna putih susu.

Hajar aswad menurut sejumlah riwayat semula berwarna putih susu. Hajar Aswad.
Foto: Aswjmedia.com.au/ca
Hajar aswad menurut sejumlah riwayat semula berwarna putih susu. Hajar Aswad.

REPUBLIKA.CO.ID, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa Hajar Aswad adalah batu yang diturunkan Allah SWT dari surga yang pada awalnya warna batu itu lebih putih daripada susu, namun dosa-dosa yang dilakukan umat manusia mengubahnya menjadi hitam. 

Dari Ibnu Abbas RA ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Hajar Aswad turun dari Jannah, dalam kondisi berwarna lebih putih dari air susu. Kemudian, dosa-dosa anak Adamlah yang membuatnya jadi berwarna hitam’.” (HR Tirmizi, Ahmad, Al Nasa'i, dan Ibnu Khuzaimah). 

Baca Juga

Al Mubarakfuri menjelaskan dalam kitabnya Tuhfat Al Ahwazi bahwa dosa-dosa manusia yang menyentuh batu itu yang menjadikannya hitam. 

Dr Sami Maghluts dalam atlasnya yang berjudul Athlasul Hajj wal ‘Umrah menjelaskan bahwa Hajar Aswad adalah batu berwarna hitam ke merah-merahan, berada di sudut selatan Ka’bah, sebelah kiri pintu Ka’bah. Tingginya kirakira 1,10 m dari permukaan tanah. Menempel di dinding Ka’bah. 

Pada awalnya Hajar Aswad berupa batu dengan diameter ± 30 cm. Karena berbagai peristiwa yang menimpanya, saat ini Hajar Aswad yang tersisa ada delapan butir batu ke cil sebesar kurma yang di kelilingi oleh bingkai perak. Tidak semua yang terdapat di dalam bingkai adalah Hajar Aswad. Butiran-butiran Hajar Aswad tersebut tepat berada di tengah bingkai. Butiran inilah yang disentuh dan dicium jamaah haji. Hajar Aswad selalu dimuliakan sejak masa jahiliyah hingga Islam datang.

Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa ia akan menjadi saksi di hari kiamat bagi mereka yang menyentuhnya. Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh Allah akan membangkitkan batu ini pada hari kiamat dengan mempunyai dua mata untuk melihat dan lidah untuk berbicara yang akan menjadi saksi bagi siapa yang menyentuhnya dengan benar.” (HR Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Hakim).

Dalam pelaksanaan ibadah haji atau umrah, hal perrtama yang harus dilakukan oleh orang yang ingin melakukan thawaf adalah mencium, atau menyentuh atau memberi isyarat dari jauh kepada Hajar Aswad.

Pada musim haji tahun 317 H, Abu Thahir al-Qurmuthi, seorang kepala salah satu suku Syiah Ismailiyah di Jazirah Arab bagian timur merampas Hajar Aswad. Bersama 700 anak buah bersenjata lengkap dia mendobrak Masjid Al Haram dan membongkar Ka’bah secara paksa lalu merebut Hajar Aswad dan membawa ke negaranya yang terletak di Kota Ahsa’, di wilayah Bahrain, kawasan Teluk Persia sekarang.

Ia membuat maklumat dengan menantang umat Islam. Jika ingin mengambil Hajar Aswad, tebuslah dengan sejumlah uang atau dengan perang. Setelah 22 tahun kemudian (339 H) batu itu dikembalikan ke Makkah oleh Khalifah Abbasiyah al-Muthi’lillah setelah ditebus dengan uang sebanyak 30 ribu Dinar. Mereka membawanya ke Kufah, lalu menggantungkannya ke tiang ke tujuh Masjid Jami’. Setelah itu, mereka mengembalikannya ke tempat semula.     

 

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement