Jumat 03 Apr 2020 18:56 WIB

Tahukah Anda Jika Adzan Silih Berganti di Belahan Bumi?

Adzan berkumandang silih berganti di berbagai belahan bumi.

Adzan berkumandang silih berganti di berbagai belahan bumi. Ilustrasi adzan
Foto: hifatlobrain.net
Adzan berkumandang silih berganti di berbagai belahan bumi. Ilustrasi adzan

REPUBLIKA.CO.ID, Secara berkesinambungan, seruan agar dilaksanakan shalat berjamaah itu selalu bergema ke seantero penjuru dunia tanpa berhenti sesaat pun. Ia akan terus bergema dari satu masjid ke masjid lain, dari satu daerah ke daerah lain, dari satu negara ke negara lain. Demikian seterusnya hingga dimulai lagi dari awal.

Indonesia, misalnya. Ketika terbit fajar mulai muncul di Papua pada pukul 05.30 waktu setempat, di wilayah Indonesia bagian timur itu pun segera berkumandang adzan Subuh. Lalu, selesai adzan Subuh dari satu masjid, lantunan adzan akan segera berkumandang dari masjid yang lain di wilayah sekitar Papua, seperti Timika, Manokwari, Jayapura, Wamena, dan lainnya.

Baca Juga

Selanjutnya, selesai adzan berkumandang dari bumi cenderawasih, kumandang adzan akan segera menyahut dari wilayah Maluku, seperti Ternate, Ambon, Tidore, Halmahera, Buton, dan lainnya.

Setelah selesai wilayah itu, kumandang adzan akan mulai terdengar di wilayah Sulawesi pada pukul 05.30 waktu setempat. Pertama dari Manado, terus bergerak ke arah Kendari, Pare-pare, Makassar, dan Gorontalo.

Begitu juga dengan NTT, NTB, dan Bali yang akan segera menyusul. Selanjutnya, kumandang adzan akan bergerak ke wilayah Kalimantan, seperti Samarinda, Balikpapan, Banjarmasin, dan Palangkaraya serta Pontianak.

Disusul kemudian wilayah Banyuwangi. Kumandang adzan akan bergerak ke daerah Jember, Bondowoso, Lumajang, Situbondo, Pasuruan, Malang, Sidoarjo, Surabaya, Mojokerto, Jombang, hingga ke Madiun dan ke Ngawi.

Setelah dari Jawa Timur, panggilan adzan akan terdengar di wilayah Jawa Tengah bagian timur, yaitu Sragen, terus ke Klaten, Solo, hingga bergerak sampai ke perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Lalu, dari Cirebon, suara adzan bergerak ke Indramayu, Karawang, Bandung, hingga ke Depok. Selanjutnya, adzan bergerak ke Jakarta, Banten, Lampung, Padang, Palembang, Medan, hingga Aceh.

Dari Indonesia, adzan bersambung ke Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, Kamboja, Cina, hingga Rusia.

Begitu adzan berakhir di Bangladesh, ia telah dikumandangkan di Barat India, dari Kalkuta ke Srinagar. Kemudian, terus menuju Bombay dan seluruh kawasan India.

Srinagar dan Sialkot (sebuah kota di Pakistan utara) memiliki waktu adzan yang sama. Perbedaan waktu antara Sialkot, Kota, Karachi, dan Gowadar (kota di Baluchistan, sebuah provinsi di Pakistan) adalah empat puluh menit. Dalam waktu ini, adzan Fajar telah terdengar di Pakistan. Sebelum berakhir di sana, ia telah dimulai di Afghanistan dan Muscat. Perbedaan waktu antara Muscat dan Baghdad adalah satu jam. Adzan kembali terdengar selama satu jam di wilayah Hijaz al-Muqaddas (Makkah dan Madinah), Yaman, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak.

Perbedaan waktu antara Baghdad dan Iskandariyah di Mesir adalah satu jam. Adzan terus bergema di Siria, Mesir, Somalia, dan Sudan selama jam tersebut. Iskandariyah dan Istanbul terletak di bujur geografis yang sama. Perbedaan waktu antara timur dan barat Turki adalah satu setengah jam dan pada saat itu seruan shalat dikumandangkan.

Iskandariyah dan Tripoli (ibu kota Libya) terletak di lokasi waktu yang sama. Proses panggilan adzan terus berlangsung melalui seluruh kawasan Afrika. Oleh karena itu, kumandang keesaan Allah SWT yang dimulai dari bagian timur pulau Indonesia itu tiba di pantai timur Samudra Atlantik setelah sembilan setengah jam. Begitulah seterusnya.

Begitu juga dengan adzan Zuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Belum selesai adzan Maghrib dikumandangkan di wilayah barat Indonesia, panggilan untuk mendirikan adzan sudah berkumandang kembali di wilayah timur Indonesia. Begitulah seterusnya, adzan tak pernah berhenti.

Bahkan, sebelum adzan Maghrib selesai dikumandangkan di wilayah Aceh, di negara bagian Malaysia juga sudah berkumandang adzan serupa. Inilah fenomena adzan. Ia tak pernah berhenti walau sesaat. Selalu sambung-menyambung dan estafet dari satu tempat ke tempat lain, memberi makna. Ia berputar bersama bumi yag terus berputar dan senantiasa kalimat Allah membahana di seantero jagat ini.

Ada sebuah ungkapan yang sering dinisbatkan kepada Rasulullah SAW yang berkata, ''Kiamat tidak akan terjadi hingga tidak ada lagi manusia yang menyebut nama Allah di muka bumi ini.''

 

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement