Senin 13 Apr 2020 14:05 WIB

Takut Corona, Pengungsi Suriah Tinggalkan Kamp Pengungsian

Ribuan pengungsi Suriah takut virus corona dapat menyebar cepat di kamp pengungsian.

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini
Pengungsi Suriah berjalan di kamp pengungsian, ilustrasi
Foto: AFP
Pengungsi Suriah berjalan di kamp pengungsian, ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, IDLIB -- Ribuan pengungsi Suriah mulai kembali ke rumah-rumah mereka di provinsi Idlib, meski wilayah tersebut masih dilanda konflik. Para pengungsi memilih untuk pulang karena memiliki rasa takut bahwa virus corona dapat menyebar cepat di kamp-kamp pengungsian di dekat perbatasan Turki.

Sekitar satu juta warga Suriah melarikan diri dari Idlib dan pedesaan sekitarnya, setelah pasukan pemerintah yang didukung Rusia meningkatkan serangan untuk merebut kembali wilayah yang diduduki kelompok pemberontak. Eskalasi konflik di wilayah tersebut mulai reda sejak Maret lalu, ketika Turki yang mendukung kelompok oposisi pemberontak menyetujui gencatan senjata dengan Rusia.

Baca Juga

Gencatan senjata membuat para pengungsi dihadapkan kepada dua pilihan yang sulit. Mereka harus memilih antara tetap berada di kamp pengungsian dengan tingginya risiko penyebaran virus corona, atau kembali ke rumah dan kemungkinan akan terjebak dalam konflik baru.

"Hidup kita berubah dari bahaya ke bahaya saat kita melarikan diri dari pemboman, rezim, dan konflik, menjadi kepadatan dan virus corona," kata salah satu pengungsi, Abu Abdo (45 tahun).

Pada Ahad lalu, Abdo dan tujuh anggota keluarga kembali ke rumah mereka di sebuah desa di Idlib. Dia mengatakan, di desanya masih ada lahan pertanian dan udara yang bersih meski bahaya terus mengintai.

"Di sini tanah pertanian dan udaranya bersih dan tidak ada kemacetan, tetapi masih merupakan daerah berbahaya," kata Abdo.

Sejumlah van dan truk membawa kasur serta peralatan rumah tangga lainnya melalui jalan yang berliku menuju desa-desa di provinsi Idlib. Peralatan tersebut adalah milik para pengungsi yang memilih untuk kembali ke rumah mereka di tengah pandemi virus corona, dan ketidakpastian jaminan keamanan.

"Kami khawatir akan ada eskalasi lagi, tetapi kehidupan di kota, di rumah kami, lebih baik daripada di pengungsian dengan kondisi yang buruk," ujar Fayez al-Assi yang melarikan diri dari Jabal al-Zawiya, yakni sebuah desa di selatan Idlib.

Hingga saat ini, belum ada kasus virus corona yang dikonfirmasi di Idlib. Namun, para dokter khawatir pandemi virus corona tipe baru atau Covid-19 dapat menyebar dengan cepat di kamp-kamp pengungsian yang padat. Selain itu, infrastruktur kesehatan di provinsi tersebut banyak yang rusak akibat perang.

Kelompok Koordinasi Respons Suriah menyatakan, sebanyak 103.459 warga Suriah telah kembali ke kediaman mereka di Aleppo dan Idlib sejak gencatan senjata. Salah satu pengungsi, Zakaria Shawish mengaku tidak takut jika suatu saat nanti terjadi konflik lagi.

"Bahkan jika ada pemboman, kami tidak takut, kami sudah terbiasa. Berada di sini, di bawah pemboman lebih baik daripada tinggal di kamp pengungsian," ujar Shawish. 

sumber : Reuters
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement