Jumat 17 Apr 2020 20:14 WIB

Penjelasan Ulama tentang Makna Mabrur bagi Jamaah Haji

Makna mabrur erat kaitannya dengan perubahan ke arah takwa.

Makna mabrur erat kaitannya dengan perubahan ke arah takwa jamaah haji. Ilustrasi jamaah haji di Masjidil Haram.
Foto: Republika/ Amin Madani
Makna mabrur erat kaitannya dengan perubahan ke arah takwa jamaah haji. Ilustrasi jamaah haji di Masjidil Haram.

REPUBLIKA.CO.ID, Seringkali kita mendengar kata mabrur yang diperuntukkan untuk jamaah haji. Apa sebenarnya makna kemabruran bagi jamaah haji?  

Ulama berbeda pendapat memaknai haji mabrur. Sebagian berpendapat haji mabrur adalah amalan yang diterima di sisi Allah. Sebagiannya lagi berpendapat, yaitu haji yang hasilnya tampak pada pelakunya dengan indikasi keadaannya setelah berhaji jauh lebih baik.

Baca Juga

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fath al-Baarii, syarah Bukhari-Muslim menjelaskan, "Haji mabrur adalah haji yang diterima Allah." 

Pendapat lain yang saling menguatkan dijelaskan Imam Nawawi dalam syarah Muslim, "Haji mabrur itu ialah haji yang tidak dikotori dosa, atau haji yang diterima Allah, yang tidak ada kesombongan di dalamnya."

Haji mabrur dilaksanakan secara sempurna dengan memenuhi semua syarat, wajib, dan rukunnya. Selama menjalankan haji, seorang Muslim tidak mengungkapkan kata kotor, tidak berbuat kerusakan, dan tidak bertengkar atau berdebat. Hal ini dijelaskan Allah dalam surah al-Baqarah ayat 197.

Rasulullah pernah bersabda, "Barang siapa melakukan ibadah haji karena Allah, kemudian tidak berkata kotor dan tidak melakukan perbuatan fasik, maka ia akan pulang tanpa dosa sebagaimana ketika ia dilahirkan ibunya." (HR Muttafaq 'alaih).

Pakar ilmu Alquran Prof Quraish Shihab dalam bukunya, Haji dan Umrah, menjelaskan, ada satu hadis Rasulullah tentang haji mabrur yang populer, yaitu, "Alhajjul mabrur laysa lahu jaza' illaljannah." Artinya, tak ada balasan untuk haji mabrur kecuali surga.

Quraish menjelaskan, kata mabrur berasal dari kata barra. Artinya benar, diterima, pemberian, keleluasaan dalam kebajikan.

Mantan pemimpin tertinggi al-Azhar, Kairo Mesir, Prof Abdul Halim Mahmud, menulis, haji merupakan ibadah yang di dalamnya terdapat simbol kerohanian yang mengantarkan Muslim untuk masuk ke dalam lingkungan ilahi. Syaratnya, harus dilakukan dalam bentuk dan cara yang benar.

Salah satu ritual dalam berhaji adalah mengenakan ihram. Jika sudah memakainya, jamaah haji tidak diperbolehkan merusak tanaman dan membunuh binatang yang ada di tanah suci. Selain itu, mereka juga tidak diperbolehkan bersetubuh dengan pasangannya.

Ihram adalah simbol ketaatan. Muslim yang sudah melaksanakan haji harus dapat memahami ketaatan kepada Allah harus selalu dilaksanakan. Menaati Allah tidak hanya ketika di tanah suci, tapi juga di Tanah Air. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi diri dari dosa yang merusak hati.

Ihram mengajarkan untuk melindungi kelestarian alam. Tumbuhan yang ada di sekitar kita akan menjadi makanan sehat. Bisa juga menjadi tempat untuk berlindung dari cuaca ekstrem.

Jamaah haji juga dapat menghayati tawaf. Mengitari Ka'bah jangan sebatas menjadi ritual di tanah suci. Simpanlah tawaf di dalam hati sehingga jiwa dapat selalu memutarinya setiap saat. Ketika menyadari jiwa selalu mengitari rumah Allah, seseorang akan terhindar dari dosa.  

Sai antara Shafa dan Marwah adalah simbol konsistensi keimanan kepada Allah. Seorang Muslim harus senantiasa konsisten beriman kepada Allah meskipun dalam keadaan terjepit. Ibadah haji mengajarkan seseorang harus tetap optimistis dalam beriman, sebagaimana Hajar tetap konsisten beriman kepada Allah meski mengalami kesulitan di Makkah yang pada saat itu hanyalah padang pasir.

Masih banyak lagi simbol dalam haji yang menarik untuk didalami. Semuanya adalah renungan agar Muslim senantiasa menjaga kedekatannya kepada Allah. 

 

 

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement