Rabu 22 Apr 2020 06:14 WIB

Masjid di Jerman Mengalami Krisis Keuangan Sejak Lockdown

Sejumlah masjid melayangkan proposal online berisi permohonan sumbangan.

Rep: Andrian Saputra/ Red: Muhammad Fakhruddin
Corona dan dampaknya terhadap pelaksanaan ibadah (Ilustrasi)
Foto: Republika.co.id
Corona dan dampaknya terhadap pelaksanaan ibadah (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,BERLIN --- Masjid-masjid di Jerman tengah mengalami krisis keuangan pasca penutupan sementara aktivitas ibadah guna mencegah penyebaran virus corona. Keuangan Masjid-masjid di Jerman bergantung pada sedekah jamaah saat pelaksanaan sholat Jumat, dan sedekah akan meningkat saat bulan suci ramadhan. Namun merebaknya virus corona di negara itu membuat masjid di Jerman harus menghentikan aktivitas dan kehilangan pemasukan bagi kas masjid. 

Bahkan setelah lima pekan kebijakan lockdown dijalankan, sejumlah masjid harus melayangkan proposal online yang berisi permohonan pada jamaah untuk memberikan sumbangan kepada masjid melalui transfer ke bank. Meski demikian, pengurus masjid Dar Assalam di distrik Neukoelln di Berlin, Imam Mohamed Taha Sabri mengatakan kampanye secara online hanya berhasil mengumpulkan sedikit sumbangan. 

"Masjid-masjid sedang mengalami krisis besar-besaran. Saya pikir beberapa masjid akan terpaksa ditutup terutama yang harus membayar sewa," kata Imam Mohammed seperti dilansir Daily Sabah pada Rabu (22/4).

Segala macam kegiatan pertemuan keagamaan termasuk pelaksanaan sholat Jumat ditangguhkan sejak pertengahan Maret lalu. Ini dilakukan bersamaan dengan kebijakan lockdown untuk memperlambat penyebaran virus yang telah menginfeksi sekitar 143 ribu orang di Jerman dan menewaskan hampir 4.600 orang. 

Meski begitu pemerintah Jerman sudah mulai mengizinkan sejumlah siswa untuk kembali bersekolah dan mengizinkan sejumlah pusat bisnis buka. Namun rumah ibadah seperti masjid, gereja, Sinagog harus tetap ditutup.

Masjid-masjid di Jerman harus berjuang sendiri dalam hal pembiayaan operasionalnya karena tidak memperoleh bantuan dana negara seperti yang diberikan pada gereja-gereja Kristen. Karena itu, Dewan Islam yang menaunginya 400 masjid di Jerman telah mendesak pemerintah  memberikan bantuan keuangan bagi masjid. 

Begitupun di Inggris. Masjid-masjid di sana juga mengalami krisis akibat lockdown. Salah satu pengurus masjid di Inggris, Sabri mengatakan sebelum pandemi Corona ada sekitar 15 ribu muslim yang biasanya mengikuti sholat Jumat. Dari situlah, masjid memperoleh pembiayaan melalui sedekah jamaah. 

"Kami menanggung sekitar setengah hingga dua pertiga dari pengeluaran kami dari sumbangan yang dilakukan selama ramadhan. Sayangnya ramadhan ini akan sulit," kata Sabri yang menjelaskan masjidnya membutuhkan 7.000 euro per bulan untuk membayar tagihan. Dia pun berharap pandemi ini akan menjadi kesempatan untuk mengubah cara Muslim membelanjakan hartanya.

"Bukannya mereka tidak mau menyumbang. Mereka butuh waktu, mereka perlu didorong untuk beralih dari menyumbang di masjid selama salat Jumat ke sumbangan dengan transfer bank," katanya.

Sementara seorang pekerja sosial Suriah yang kerap sholat di masjid sebelum lockdown, Hamzah Al-Suweidi mengatakan bahwa ia tidak terkejut dengan penggalangan dana online yang tidak mengalami peningkatan pesat. 

"Ketika anda berada di masjid, anda melihat tetangga anda bersedekah 5 euro ke dalam kotak sumbangan dan anda merasa anda harus memberikan sesuatu juga. Jadi semua orang akhirnya memberikan sesuatu. Ketika kamu sholat di rumah tidak ada motivasi seperti itu," katanya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement