10 Ramadhan 1442

Profesor Notre Dame Sarankan Saudi Tangguhkan Haji 2020

Rabu , 29 Apr 2020, 07:03 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani/ Redaktur : Muhammad Hafil
 Profesor Notre Dame Sarankan Saudi Tangguhkan Haji 2020. Foto:  Suasana area tawaf yang lengang di Masjidil Haram setelah Kerajaan Arab Saudi sebagai Pelayan Dua Kota Suci menghentikan sementara ibadah umrah, Jumat (6/3).
Profesor Notre Dame Sarankan Saudi Tangguhkan Haji 2020. Foto: Suasana area tawaf yang lengang di Masjidil Haram setelah Kerajaan Arab Saudi sebagai Pelayan Dua Kota Suci menghentikan sementara ibadah umrah, Jumat (6/3).

REPUBLIKA.CO.ID,PARIS -- Terlepas dari pandemi Covid-19 yang mencengkeram dunia, pelaksanaan ziarah tahunan Muslim ke Makkah di Arab Saudi secara resmi masih berjalan. Ibadah wajib haji bagi umat Muslim yang mampu ini dijadwalkan akan berlangsung akhir Juli 2020.

Kerajaan Saudi hingga saat ini hanya meminta umat Muslim untuk menunda perencanaan keberangkatan mereka. Namun, kejelasan pelaksanaan haji masih belum diumumkan. Ritual haji di tengah pandemi Covid-19 tampaknya menjadi hal yang riskan dan membahayakan kesehatan.

Setiap tahun, lebih dari 2 juta orang melakukan perjalanan haji dan melaksanakan serangkaian ibadah di Makkah. Bersama-sama, mereka lantas mengunjungi beragam situs penting Islam dan kota suci Madinah, tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan.

Haji merupakan salah satu dari lima rukun Islam. Setiap Muslim yang mampu secara fisik dan materi akan melaksanakan setidaknya sekali seumur hidup. Demi berangkat haji, jamaah biasanya mempersiapkannya selama bertahun-tahun untuk menabung biayanya.

Baca Juga

Seorang profesor pemikiran Islam dan masyarakay Muslim di Keough School of Global Affairs, Universitas Notre Dame, Ebrahim Moosa, mengatakan, menjalankan ibadah haji memerlukan fisik yang kuat. Jadwal yang intens membutuhkan ketahanan diri dari setiap orang.

Dari kedatangan jamaah haji di Arab Saudi, melakukan berbagai ritual haji, hingga menunggu di bandara untuk diberangkatkan kembali ke negara asal, jutaan jamaah berjejalan di satu tempat yang sama. Instruksi menjaga jarak dan isolasi sosial bertentangan dengan irama haji.

Vaksinasi wajib dilakukan jamaah sebelum berangkat. Sanitasi dan tempat tinggal yang lebih baik bagi jamaah secara drastis dapat menghentikan penyebaran penyakit menular seperti tifus dan kolera. Namun, hingga kini masih tidak ada obat untuk virus Covid-19.

"Pemerintah Saudi telah menunjukkan kesadaran akan bahaya besar yang ditimbulkan oleh pandemi ini. Pada 4 Maret, otoritas Saudi membatalkan umroh. Warga negara asing sudah dilarang bepergian ke kerajaan untuk umroh," ucap Moosa dikutip di New York Times, Rabu (29/4).

Arab Saudi dinilai perlu segera mengumumkan penangguhan haji karena pandemi Covid-19. Deklarasi semacam itu akan menekankan prioritas keselamatan dalam etika Islam bagi umat Muslim di mana pun dan membantu membatasi pertemuan keagamaan selama pandemi.

Menunda haji merupakan pertanyaan sensitif dan membutuhkan konsensus ilmiah para pemimpin agama maupun politik Muslim. Gambar Masjidil Haram di Makkah dan Nabawi di Madinah yang dikosongkan dari jamaah telah menyebabkan kesedihan mendalam di kalangan umat Muslim.

Meski demikian, Moose menilai menunda pelaksanaan haji merupakan keputusan yang harus dilakukan oleh para pemimpin Saudi dan pemimpin agama. Kondisi perang, epidemi, dan bahaya ekstrem menjadi kewajiban suatu ibadah dibatalkan.

Dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 195 secara eksplisit dituliskan, "...Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan,...." Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan bahwa seseorang harus menghindari kontaminasi dari orang lain selama epidemi terjadi.

Ajaran Islam mengamanatkan, segelintir orang dapat melakukan ibadah haji di bawah pengawasan ketat. Pemerintah Saudi dapat memenuhi persyaratan itu dengan mengizinkan sejumlah kecil penduduk setempat melakukan ibadah haji, di bawah aturan menjaga jarak sosial dan dilengkapi alat pelindung.

"Sejak haji diadopsi dalam Islam, para sejarawan mengatakan haji telah ditangguhkan sekitar 40 kali. Wabah di Kekaisaran Ottoman mengakibatkan haji tahun 1814 menjadi sangat terganggu karena tidak adanya para peziarah," kata Moose menambahkan.

Ahli etika Muslim dengan sangat jelas menyatakan pelestarian kehidupan selama pandemi lebih diprioritaskan daripada melakukan ritual keagamaan.

Cendekiawan Mesir abad ke-15, Ibn Hajar al-Asqalani, memperlihatkan bahaya yang disebabkan oleh pertemuan ibadah dengan jumlah besar selama wabah. Pada Desember 1429, ia menulis, wabah itu mengakibatkan 40 kematian pada satu hari di Kairo.

Sebulan kemudian, ketika orang-orang kembali dari sidang besar yang diadakan di padang pasir untuk membahas puasa pertobatan dan doa agar wabah penyakit diangkat, angka kematian meningkat menjadi lebih dari 1.000 dalam satu hari. Kegagalan mengamati langkah-langkah penularan wabah yang terjadi di Damaskus seabad sebelumnya berujung pada konsekuensi bencana.

Ibn Rushd the Elder, kakek dari filsuf, dokter, dan ahli hukum terkenal Averroes, berpendapat, seorang Muslim yang mempertaruhkan perjalanan berbahaya untuk beribadah akan menimbulkan dosa. Peringatan keras diberikan kepada siapa saja yang mengabaikan bahaya yang ditimbulkan oleh pandemi saat ini.

"Para pemimpin agama di seluruh dunia telah menutup masjid selama hampir sebulan. Para cendekiawan telah menyarankan umat beriman untuk melakukan sholat Tarawih di rumah," ucap Moose.

Raja Salman bin Abdulaziz, yang menyandang gelar Penjaga Dua Tempat Suci, disebut akan mendahulukan kebaikan publik global dengan memberi tahu dunia Muslim tentang penangguhan haji.

Konsultasi antara kerajaan dan negara-negara Muslim yang representatif akan membantu membangun konsensus tentang perlunya menangguhkan kewajiban haji pada musim haji ini.

"Keputusan awal juga akan menyelamatkan banyak nyawa dengan menegaskan bahwa pertemuan keagamaan di mana saja selama krisis ini bisa berbahaya," katanya menambahkan.  

 

widget->kurs();?>