23 Zulhijjah 1441

Berziarah ke Masjid Nabawi

Rabu , 29 Apr 2020, 16:55 WIB Redaktur : Ani Nursalikah
Berziarah ke Masjid Nabawi. Jamaah haji Indonesia sedang membaca Alquran seusai sholat subuh di Masjid Nabawi Madinah.
Berziarah ke Masjid Nabawi. Jamaah haji Indonesia sedang membaca Alquran seusai sholat subuh di Masjid Nabawi Madinah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi jamaah haji Indonesia, ziarah selama berada di madinah tidak pernah ketinggalan. Selain meresapi makna spiritual dan beribadah, jamaah haji juga bisa menambah wawasan saat berziarah. 

 

Baca Juga

Aktivitas jamaah haji Indonesia selama di Madinah, antara lain berziarah ke Masjid Nabawi (yang di dalamnya terdapat makam nabi muhammad SAW), Masjid Quba, Masjid Qiblatain, Bukit Uhud, dan sebagainya. Aktivitas lainnya adalah sholat arba'in (shalat wajib 40 waktu secara berturut-turut) di Masjid Nabawi. Masjid Nabawi adalah masjid terbesar kedua di dunia, setelah Masjidil Haram. Jutaan Muslim mengunjungi masjid ini setiap tahun untuk beribadah atau berziarah ke makam Nabi.

Masjid Nabawi adalah institusi pertama yang dibangun Nabi ketika hijrah pada 622 dari Mekkah ke Yatsrib (yang kelak dikenal sebagai Al-Madinah an-Nabi atau Kota Nabi atau Madinah). Masjid ini tak hanya menjadi pusat aktivitas ibadah umat Islam waktu itu, tapi juga menjadi pusat aktivitas politik, ekonomi, dan sosial umat. Dari masjid inilah rasulullah SAW membangun peradaban Islam.

Masjid ini dibangun secara gotong royong oleh Nabi dan para sahabatnya di atas tanah seluas 805 meter persegi dengan batu bata dan pelepah daun kurma. Di sisi timur masjid dibangun rumah Rasul. Pada 629 Nabi memperluas masjid menjadi 2.475 meter persegi. Rumah Nabi kini 'tertutup' oleh kubah hijau Masjid Nabawi.

Pada 638, Khalifah Umar bin Khattab menambah 1.100 meter persegi, dan pada 650 Khalifah Usman bin Affan menambah lagi 496 meter persegi. Khalifah Walid bin Abdul Malik, pada 706, menambah 2.379 meter persegi. Dan 73 tahun kemudian Khalifah Mahdi Al-Abbasi menambah 2.450 meter persegi.

photo

Masjid Nabawi, Madinah, tampak makin indah dengan sinar lampu yang menyala. Jamaah haji Indonesia yang melaksanakan shalat arbain di masjid nabawi makin berkurang karena mayoritas sudah kembali ke Tanah Air. - (Republika/Syahruddin El-Fikri)

Setelah itu, untuk masa tujuh abad lamanya tak ada lagi perluasan masjid sampai Sultan Qaid Bey menambah 120 meter persegi pada 1483. Tiga abad berlalu begitu saja, dan pada 1849 Sultan Abdul Majid menambah 1.293 meter persegi.

Kini, luas masjid 100 kali dari bangunan asli di masa Rasul. Dengan luas hampir 25 hektare, masjid dapat menampung 500 ribu jamaah sekaligus. Tempat parkir tersedia di bawah masjid, dapat menampung 5.000 mobil. Sebagai salah satu masjid terbesar di dunia, Masjid Nabawi memiliki sistem AC yang sangat inovatif.

Bangunan sistem ini terletak tujuh kilometer dari masjid. Dari tempat ini, air panas maupun air dingin dialirkan melalui pipa-pipa bawah tanah menuju basement masjid. Di bangunan itu ada pompa yang mampu menyuplai 17 ribu galon air panas per menit. 

Air panas ini kemudian dialirkan melalui unit-unit penanganan udara yang luar biasa, dan udara dingin disaring melalui pipa penyekat untuk didistribusikan ke dasar setiap tiang demi menciptakan udara nyaman bagi jamaah. Dari tiang-tiang inilah udara nyaman menyapa jamaah. Di seluruh masjid ada 2.017 tiang, termasuk tiang untuk payung elektronis. 

photo

Petugas kebersihan sedang menyiramkan air dan membersihkan kotoran yang menempel pada payung Masjid Nabawi. Pembersihan ini rutin dilakukan agar menjaga payung senantiasa bersih dan membuat nyaman bagi jamaah yang beribadah di Masjid Nabawi. - (Republika/Syahruddin El-Fikri)

 

 

widget->kurs();?>