9 Safar 1442

Indriya R Dani Luncurkan Batik “Pesona Covid-19 Endorphin”

Kamis , 30 Apr 2020, 10:09 WIB Redaktur : Irwan Kelana
Perancang busana Muslim, Indriya R Dani meluncurkan karya terbarunya,  IRD batik motif “Pesona Covid-19 Endorphin”
Perancang busana Muslim, Indriya R Dani meluncurkan karya terbarunya, IRD batik motif “Pesona Covid-19 Endorphin”

REPUBLIKA.CO.ID,  BOGOR – Perancang busana Muslim, Indriya R Dani meluncurkan ird batik motif “Pesona covid-19 Endorphin”. “Motif batik ini idenya adalah kontemplasi dengan adanya wabah Covid-19 ini, ini adalah salah satu gaya berpikir Alquran, sebagaimana di dalam Firman-Nya  dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 164,” kata Indriya dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Rabu (29/4).

 

Terjemah QS Al-Baqarah ayat 164 sebagai berikut, “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.”

Ia menambahkan, berangkat dari tafsir QS Al-Baqarah ayat 164 dan konsep kontemplasi itulah, ide motif Covid-19 dan Endorphin ini berawal. “Keduanya merupakan simbol dari penciptaan mahluk-Nya yang berpasangan, di mana Covid-19 memiliki sifat negatif dan mematikan, sedangkan Endorphin memiliki sifat positif yang membuat manusia berbahagia ketika menghasilkan hormon ini di otak,” ujar  tokoh yang aktif menulis tentang pendidikan Islam, feysen Muslim, dan seni Islam di bderbagai media dan jurnal.

Indriya menjelaskan, dengan melakukan kontemplasi dan belajar atas semua kejadiaan di atas, maka diterjemahkan ke dalam keterampilan membatik, di mana merupakan perwujudan dari sebuah karya seni atau kebudayaan yang bersifat indrawi, filosofis, dan spiritual sekaligus. 

“Di dalam setiap helai batik terkandung simbol, filosofi, dan sekaligus budaya yang merupakan bagian dari suatu peradaban suatu bangsa.  Karya batik ‘Tafakkur Covid-19 Endorphin’ berasal dari salah satu gaya berpikir Alquran yaitu kontemplasi, sebagai media pendidikan Islam yang memiliki nilai filosofis tersendiri,” papar penulis yang sudah menerbitkan lebih dari 30 buku itu.

Muslimah kelahiran Bandung, 7 April itu  menjabarkan, motif batiknya bernuansa Alquran yang  memiliki arti religius sebagai berikut: Pertama, Covid-19 dan Endorphin adalah simbol dari penciptaan mahluk-Nya yang berpasangan. Dalam hal ini, Covid-19 memiliki sifat negatif dan mematikan, sedangkan Endorphin memiliki sifat positif yang membuat manusia berbahagia ketika menghasilkan hormon ini di otak. Hal itu sebagaimana di dalam Firman-Nya dalam Surat Al-Baqarah ayat 164.

Kedua, dia melanjutkan,  air/hujan adalah  rahmat dan sumber kehidupan, dan disimbolkan sebagai pengguyur keberadaan Covid-19 di muka bumi. Hal itu  sebagaimana dinyatakan oleh Allah SWT,  dalam Firman-Nya, “(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 22)

Ketiga, kata Indriya, bunga Kapilaya.  Ini merupakan tanaman simbol identik dari Kesultanan Cirebon, bernilai tasawuf salah satu toriqoh yang diikuti oleh Sunan Gunung Jati, dimana Sunan Gunung Jati sendiri merupakan salah satu anggota dari 9 Walisongo.  “Kharisma, akhlak, ajaran, cara dakwah dan kepemimpinannya, dituangkan ke dalam desain dan motif bunga Kapilaya, dan segala fasilitas, ilmu, dan segala titipan-Nya  menjadikan jalan untuk beribadah kepada Allah SWT.

“Bisa dikatakan  ini merupakan simbol dari sebuah perjalanan kehidupan manusia, sejak lahir hingga di akhir hayatnya, dimana semuanya ini ada selalu di dalam gengaman Allah SWT,” tutur Indriya yang juga bertugas sebagai dosen di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor.

Hal itu sebagaimana dinyatakan oleh Allah SWT  dalam Firman-Nya, “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. (QS Az-Zariyat: 56).

Keempat, Tumbak Sunan Gunung Jati. “Sama halnya dengan motif bunga Kapilaya, ini merupakan salah satu hasil pemikiran dari apa yang telah diajarkan Sunan Gunung Jati kepada murid-muridnya, atau toriqoh beliau, yang mengandung nilai ajaran Tauhid,” ujar doctor yang menulis disertasi  berjudul “Analisis Faktor Dominan Pada Penyusunan Konsep Kurikulum Desain Busana Muslim Menggunakan Metode ANP Analytic Network Process”. 

Hal itu sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT,  dalam Firman-Nya,  “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (QS Ali Imran: 19).

Indriya mengungkapkan, kali ini karya ke-17 dari IRD Batik ini mengangkat empat  motif, yaitu  Covid-19 Endorphin, air/hujan, bunga Kapilaya dan Tombak. “Harapan kami,  di dalam setiap helai batik Pesona Covid-19 Endorphin by IRD yang dipakai, -- baik dalam bentuk kain dan busana --  sama dengan menyebarkan konsep kontemplasi dan spiritual terhadap wabah Covid-19  saat ini, untuk segera kembali memohon ampunan dan rahmat-Nya, seperti ditegaskan oleh Allah SWT dalam Surat Al-Mu’minun ayat 109. Semoga batik ini menjadi sebagai media pendidikan, dakwah, sekaligus mengusung nilai ekonomi syariah,” papar wanita yang  aktif mendakwahkan seni budaya Islam ke berbagai negara, seperti Amerika, Hong Kong, Malaysia, Azerbaijan, Rusia, dan Jepang.

Indriya menyebutkan,  batik karya ke-17 IRD ini  membidik pasar seluruh wanita dari usia remaja-dewasa, baik muslim dan juga non-Muslim, termasuk yang telah berbusana muslim maupun yang belum. 

“Saat ini pangsa pasar untuk hijab dan busana Muslim sangat luas.Target pasar adalah masyarakat yang memakai hijab dan busana muslimah, mahasiswi, pekerja kantoran, profesional, dan masyarakat yang suka memakai hijab dan busana muslim yang modis .Terutama kalangan mahasiswi, remaja dan Ibu-Ibu rumah tangga, dari kalangan menengah atas,” tuturnya.

 

widget->kurs();?>