Membangun Makkah dan Madinah di Hati Kita

Ahad , 03 May 2020, 07:20 WIB Reporter :Priantono Oemar/ Redaktur : Muhammad Hafil
Membangun Makkah dan Madinah di Hati Kita. Foto: Foto udara Gedung Jamarat tempat tiga pilar jumrah berada dengan latar Kota Makkah dari kejauhan, Senin (12/8).
Membangun Makkah dan Madinah di Hati Kita. Foto: Foto udara Gedung Jamarat tempat tiga pilar jumrah berada dengan latar Kota Makkah dari kejauhan, Senin (12/8).

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Priyantono Oemar / Wartawan Republika

 

Terkait

Di Arafah saat puncak ibaah haji, kita tidak sekadar berkumpul. Melewati empat hari waktu istimewa, kita tidak sekadar menunaikan kewajiban kelima.

Baca Juga

"Satu per seribu Muslim di dunia itu berkumpul di Tanah Suci untuk membangun Makkah dan Madinah. Apa pun yang yang Rasulullah SAW katakan dan kerjakan ada di sana, kita harus mengerjakan hal yang sama di hati kita,” kata Bawa Muhaiyaddin, sufi dari Srilangka, memberi nasihat.

Makkah dan Madinah adalah dua kota suci tempat Nabi berdakwah. Nabi bahkan pernah hanya makan dedaunan selama tiga tahun akibat embargo ekonomi yang dilakukan kaum Musyrikin. Di masa pemboikotan itulah, Abu Thalib dan Siti Khadijah meninggal dunia.

Abu Thalib adalah pelindung Nabi. Khadijah adalah pendukung Nabi. Kehilangan mereka tentu menjadi pukulan terberat bagi Nabi. Terlebih lagi, gangguan dari kaum Musyrikin Quraisy semakin gencar sepeninggal mereka.

Sejak awal perjalanan kenabian di kota kelahirannya itu, Muhammad SAW selalu mendapat gangguan dari kaum Musyrikin. Muslim yang merasa tak nyaman, diperkenankan Nabi untuk hijrah ke Habasyah sampai dua kali. Raja Habasyah, Abrahah, pada 571 Masehi, berupaya menghancurkan Ka’bah, tapi digagalkan oleh pasukan burung Ababil.

Nabi pun memilih Thaif, kota di luar Makkah, sebagai sasaran dakwahnya. Tak mendapat sambutan baik di Thaif, Nabi pun kembali ke Makkah hingga pada 621 Masehi. Saat itu, datanglah 12 orang Yatsrib yang ingin masuk Islam. Nabi lalu membaiatnya di Aqabah. Pada 622 Masehi, datang lagi 75 orang Yatsrib, dua di antaranya perempuan. Nabi membaiatnya juga di Aqabah.

Di kemudian hari, Dinasti Abbasiyah membangun Masjid Baiat di Aqabah itu, di sebelah barat Jamarat Aqabah. Dinasti Abbasiyah adalah dinasti yang didirikan Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi.

Nabi Ismail dan Siti Hajar adalah penduduk pertama Makkah. Ia yang mengurusi Ka’bah, kemudian diteruskan oleh anak-anaknya dan menurun ke cucunya. Madhad bin Amru Al-Jurhumi adalah cucu Ismail yang kemudian memegang kekuasaan di Makkah. Kabilah Jurhum inilah yang menjadi pelayan Ka’bah dan pelayan jamaah haji. Hingga pada abad ke-3 Masehi, Ka’bah diremehkan oleh generasi pada masa itu.

Kedatangan Kabilah Khuza’ah yang dipimpin Rabi’ah bin Al-Harits mampu menyingkirkan mereka. Tapi, sepeninggal Rabi’ah, Ka’bah dikuasai Kabilah Kuza’ah yang dipimpin Amru bin Luhay yang kemudian memajang banyak berhala di sekitar Ka’bah.

Ismail menjadi anggota keluarga Jurhum setelah ia menikahi perempuan Jurhum. Kisahnya diawali ketika kaki Ismail kecil menemukan sumber mata air. Saat itu, rombongan Kabilah Jurhum lewat sepulang dari Syam. Melihat ada mata air, mereka minta izin tinggal. Dari perkawinannya dengan perempuan kabilah itu, lahirlah keturunan yang oleh sejarawan Arab disebut Arab Musta’ribah.

Lama menguasai Ka’bah, Kabilah Kuza’ah kemudian digantikan oleh Khalil bin Habasyiah Al-Khuza’i. Dia kemudian mewariskannya kepada menantu laki-laki, Qushai bin Kilab Al-Quraisy di pertengahan Abad ke-5 Masehi. Kabilah Kuza’ah menuntut dan pertikaian pun tak terhindari. Ya’mur bin ‘Aun yang diminta jadi penengah menunjuk Qushai sebagai pengurus Ka’bah.

Manajemen Qushai dalam mengelola Ka’bah cukup diakui. Demi persatuan dan kebersamaan, ia membagi tugas bersama kaum Quraisy. Sumur-sumur digali dan rumah-rumah boleh didirikan di sekeliling Ka’bah selama tidak menganggu tempat tawaf. Ini mengundang peziarah Ka’bah terus bertambah.

Pada masa Kuza’ah, peziarah sempat bertambah karena adanya Raja As’ad Al-Himyari yang mengunjungi Makkah selama 10 hari bertetangga dengan Kuza’ah. Semula ia hendak menghancurkan Ka’bah, tapi ia mendapat hidayah karena melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Selama 10 hari itu ia memberikan pelayanan kepada para peziarah sehingga mengundang yang lain untuk datang. Qushai meninggal, kepengurusan Ka’bah lalu ditangani oleh anak-anaknya hingga sampai ke tangan Abdul Muthalib.

Mendapat sambutan baik dari penduduk Yatsrib, Nabi pun menerima tawaran hijrah ke Yatsrib. Nabi pun kemudian memberi sanksi boikot kepada kaum Musyrikin di Makkah dengan cara memblokir jalur perdagangan Makkah-Syam.

Di Badar (160 km dari Yatsrib), kaum Musyrikin melawan sehingga terjadilah Perang Badar pada tahun kedua Hijriyah (623). Berangkat ke medan perang, Nabi sempat beristirahat di Syuqa untuk mandi dan shalat. Di lokasi ini, di kemudian hari, dibangun Masjid As-Syuqa, sekitar 100 meter di sebelah tenggara stasiun kuno kereta api di Madinah (di Ambariyah Square).

Berbagai perang dilakukan Nabi untuk mempertahankan dakwahnya hingga akhirnya Makkah dan Madinah tetap dalam genggamannya. "Kita berjalan dari sini ke Makkah dan Madinah, keliling-keliling, makan, berdoa kepada Tuhan, dan kembali. Itu tidak berarti bahwa kita telah menyelesaikan haji. Kita kembali dengan apa yang kita bawa. Kita kembali dengan keinginan-keinginan rendah dan hasrat kera yang kita bawa. Lalu, haji apakah yang kita laksanakan?” kata Bawa Muhaiyaddin. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini