Senin 11 May 2020 23:56 WIB

KLHK Lakukan Hujan Buatan di 3 Provinsi

Hujan buatan yang dilakukan ini untuk antisipasi dini Karhutla.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Andi Nur Aminah
Hujan Buatan
Foto: BPPT
Hujan Buatan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Antisipasi jelang musim panas dan untuk mencegah kekeringan gambut yang mudah terbakar, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan meluncurkan Pelaksanaan Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan. Hujan buatan dilaksanakan mulai 11 Mei 2020 untuk wilayah Riau, Jambi dan Sumatera Selatan.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim KLHK, Ruandha Agung Sugardiman, mengatakan, operasi TMC untuk rekayasa hujan buatan dimaksudkan untuk membasahi lahan-lahan gambut di musim kemarau, dengan mengisi kanal-kanal, embung dan kolam-kolam retensi.

Baca Juga

“Operasi TMC ini akan diawali dengan Pembentukan dua Posko di wilayah Sumatra. Yaitu Posko Pekanbaru yang meliputi wilayah Provinsi Riau dan sebagian Jambi, serta Posko Palembang untuk wilayah Propinsi Sumatera Selatan dan sebagian Jambi," kata Ruandha dalam keterangannya, Senin (11/5).

Ia menjelaskan, operasi TMC tersebut akan dilaksanakan selama 15 hari di masing-masing posko. Selanjutnya setelah kedua Posko ini, menurut Ruandha, rencana kedepan sesuai dengan prediksi dan rekomendasi BMKG akan dibentuk lagi tiga posko serupa di wilayah Kalimantan. Posko di Kalimantan ini yaitu Posko Kalteng-Kalsel, Posko Kalbar dan Posko Kaltim-Kaltara.

“Diharapkan pelaksanaan operasi yang segera dimulai setelah launching hari ini, dapat mencegah terjadinya karhutla dan menekan angka karhutla Tahun 2020 secara nasional dan khususnya di propinsi-propinsi bergambut yang rawan karhutla," kata dia.

Pada prinsipnya, Ruandha menjelaskan, operasi TMC meniru proses alamiah yang terjadi di dalam awan. Sejumlah partikel higroskopik yang dibawa dengan pesawat ditambahkan langsung ke dalam awan jenis cumulus (awan hujan) agar proses pengumpulan tetes air di dalam awan segera dimulai. Dengan berlangsungnya pembesaran tetes secara lebih efektif, maka proses hujan menjadi lebih cepat dan menghasilkan curah hujan yang lebih banyak.

Ia menuturkan, operasi tersebut menggunakan pesawat TNI-AU Cassa 212-200 dari Skuadron Udara 4 Lanud Abdulrachman Saleh - Malang. Pesawat berkapasitas angkut 800 kg garam (NaCl) berbentuk powder untuk disemai dalam setiap sorti penerbangan.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, menjelaskan, beberapa lokasi gambut yang terjadi kebakaran berulang harus tetap mendapat perhatian serius. Para pihak harus memastikan bahwa gambut tetap dalam kondisi basah. "Presiden sudah mengingatkan untuk terus waspada dan lakukan pencegahan sedini mungkin," ujarnya.

Tercatat, selama kurun waktu 2016 hingga Maret 2020 telah berhasil dipulihkan ekosistem gambut yang rusak seluas 3.474.687,72 ha, dalam bentuk penanganan tata kelola air (pembasahan) melalui pembangunan dan pengoperasian 27.889 unit sekat kanal. Kemudian rehabilitasi vegetasi seluas 4.438,70 ha, dan mendorong suksesi alami pada area seluas 306.112 ha.

Adapun nilai rata-rata Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) setelah intervensi pemulihan ekosistem gambut pada sebanyak 10.690 unit titik kontrol penaatan yang tersebar di 12 Provinsi, yaitu pada angka 0,55 meter pada tahun 2019, dan membaik menjadi 0,46 meter pada Kuartal I tahun 2020.

Hasil analisis pada peta area yang diintervensi dengan data karhutla tahun 2019, menunjukkan bahwa tidak terdapat karhutla di areal-areal yang sudah diintervensi. Baik di areal konsesi maupun lahan masyarakat. 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement