Kesehatan Jamaah Haji 2020 Perlu Ekstra Perhatian

Ahad , 17 May 2020, 16:22 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani/ Redaktur : Ani Nursalikah
Kesehatan Jamaah Haji 2020 Perlu Ekstra Perhatian
Kesehatan Jamaah Haji 2020 Perlu Ekstra Perhatian

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Indonesia hingga saat ini belum memberikan kepastian terkait penyelenggaraan ibadah haji 2020. Indonesia masih menunggu informasi dari Kerajaan Arab Saudi untuk hal ini. Pakar Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono menyebut, jika nantinya ibadah haji 2020 tetap terlaksana, diperlukan perhatian ekstra, khususnya kesehatan jamaah.

 

Terkait

"Saya kira Pemerintah Saudi akan berhati-hati dalam membuka kedatangan haji kali ini. Ini pasti akan menambah risiko penularan ke seluruh dunia," ucap Pandu saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (17/5).

Baca Juga

 

Pandu menyebut kedatangan jutaan jamaah haji dari seluruh dunia meningkatkan risiko penularan tidak hanya di Arab Saudi saat proses ibadah haji berjalan. Masalah lain bisa timbul saat jamaah kembali ke negara masing-masing.

 

Jika Arab Saudi berkeinginan melanjutkan proses penyelenggaraan haji 2020, Pandu menyebut harus siap untuk melakukan tes polymerase chain reaction atau PCR terhadap seluruh jamaah.

 

Tes PCR ini dilakukan di negara asal sebelum berangkat dan setelah sampai di Saudi. Pemberlakuan yang sama juga dilakukan untuk proses kepulangan jamaah.

 

"Pertanyaannya, apakah mungkin ini dilakukan? Dengan jutaan orang datang dari berbagai negara, mau dilakukan tes sekaligus? Ini membutuhkan waktu, bisa seharian," kata dia.

 

Jika dilihat dari kondisi, keamanan, dan kesulitan yang dihadapi untuk menjaga kesehatan seluruh jamaah, Pemerintah Saudi biasanya memilih untuk menunda pelaksanaan haji. Hal ini juga pernah dilakukan beberapa kali sebelumnya, termasuk saat merebak wabah kolera pada tahun 1831.

 

Dari Indonesia sendiri, Pandu menyebut bisa memberangkatkan jamaahnya namun dengan kuota di bawah sebenarnya. Untuk opsi ini, ia mewanti-wanti biaya yang harus dibayarkan menjadi lebih mahal.

 

Ada biaya lebih yang harus dibayarkan oleh jamaah untuk pemeriksaan kesehatan dan penyiapan pelayanan kesehatan selama proses haji berlangsung. Bagi tim medis Indonesia yang ikut berangkat bersama jamaah dan melayani selama rangkaian proses ibadah, diperlukan kerja sama yang lebih erat dengan tim medis Saudi.

 

"Kalau sampai ada jamaah yang sakit saat di sana, itu durasi penyembuhannya bisa sebulan lebih. Berarti dibutuhkan asuransi kesehatan khusus untuk menanganu itu," ucapnya.

 

Pandu juga mengingatkan, pengecekan menyeluruh terhadap kesehatan jamaah Indonesia sebelum berangkat sangat dibutuhkan. Hal ini untuk menghindari masalah yang muncul di kemudian hari.

 

Saat ini di Arab Saudi, kasus Covid-19 masih menunjukkan peningkatan. Bahkan menjelang Hari Raya, Kerajaan Saudi mengambil keputusan untuk melakukan lockdown atau karantina wilayah sebagai tindakan antisipasi menghambat penyebaran Covid-19. 

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini