Kamis 21 May 2020 16:10 WIB

Melalui Ziswaf, Rumah Zakat Bangun 33 Titik Lumbung Pangan

Rumah Zakat juga membantu 518 UMKM yang terdampak Covid-19

Rumah Zakat berupaya memanfaatkan dana Ziswaf untuk mendirikan lumbung pangan yang kini tersebar di 33 titik di delapan provinsi.
Foto: Rumah Zakat
Rumah Zakat berupaya memanfaatkan dana Ziswaf untuk mendirikan lumbung pangan yang kini tersebar di 33 titik di delapan provinsi.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) memegang peranan penting dalam mengatasi dampak dari Covid-19, mulai dari sektor kesehatan, ekonomi, hingga pangan. Untuk sektor kesehatan, dana Ziswaf dapat dimanfaatkan untuk program penyediaan alat perlindungan diri tenaga medis, ventilator, hingga suplemen kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Sementara itu dalam sektor ekonomi, dana Ziswaf digunakan untuk memberdayakan pelaku UMKM yang usahanya terdampak. "Melalui dana sosial yang diamanahkan donatur, kami berupaya membantu 518 UMKM yang

Baca Juga

terdaftar sebagai unit usaha terdampak Covid-19. Bantuan yang diberikan bukan hanya modal, tapi juga pendampingan agar usaha mereka dapat terus berjalan di tengah pandemi," ungkap CEO Rumah Zakat Nur Efendi, Selasa (19/5) lalu.

Adapun upaya menangani krisis pangan yang diprediksi FAO akan melanda dunia, Rumah Zakat berupaya memanfaatkan dana Ziswaf untuk mendirikan lumbung pangan yang kini tersebar di 33 titik di delapan provinsi. Lumbung pangan tersebut saat ini sudah menghasilkan 60 ton beras yang bisa digunakan oleh masyarakat di daerahnya dan juga disimpan sebagai cadangan pangan

di masa krisis.

"Konsep lumbung pangan ini terinspirasi dari kisah Nabi Yusuf dalam menangani krisis. Kami akan berupaya untuk menambah titik lumbung pangan, sebagai wujud ikhtiar mencegah dampak dari krisis pangan yang diprediksi akan terjadi," tutur Nur Efendi.

Ibadah kurban, penyediaan cadangan pangan protein hewani

Ibadah kurban merupakan salah satu momen yang dapat dimanfaatkan untuk menyediakan cadangan pangan bagi Indonesia dan dunia. Caranya adalah dengan menggunakan teknologi untuk mengemas daging kurban agar memiliki daya tahan yang lebih lama, sehingga dapat didistribusikan sepanjang tahun.

"Sejak tahun 2000, Rumah Zakat menggulirkan program Superqurban yakni pengolahan daging kurban menjadi kornet dan juga rendang yang memiliki daya tahan hingga tiga tahun sehingga praktis untuk didistribusikan ke seluruh wilayah di Indonesia bahkan dunia. Kami yakin kalau Superqurban ini dapat menjadi salah satu upaya dalam penyediaan cadangan pangan di masa pandemi Covid-19," tutur Chief Program Officer Murni Alit Baginda.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement