Sabtu 23 May 2020 20:16 WIB

Gereja di Berlin Sediakan Tempat Ibadah untuk Muslim

Gereja di Berlin sediakan tempat karena keterbatasan masjid.

Rep: Andrian Saputra  / Red: Nashih Nashrullah
Gereja Martha Lutheran di Berlin, Jerman menjadi lokasi sholat Jumat umat Muslim karena keterbatasan ruang di masjid imbas Covid-19, Jumat (22/5).
Foto: Reuters/Fabrizio Bensch
Gereja Martha Lutheran di Berlin, Jerman menjadi lokasi sholat Jumat umat Muslim karena keterbatasan ruang di masjid imbas Covid-19, Jumat (22/5).

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN – Sebuah gereja di Berlin membuka pintunya untuk umat Muslim yang tak bisa masuk ke masjid karena terkait  aturan sosial untuk pencegahan Covid-19. 

 

Baca Juga

Jerman mengizinkan layanan keagamaan untuk kembali berjalan pada 4 Mei lalu. Namun demikian para jamaah harus tetap menjaga jarak sejauh 1,5 meter.   

 

Alhasil karena menerapkan aturan itu, Masjid Dar Assalam yang berada di distrik Neukolln hanya bisa menampung sebagian kecil saja jamaah. Beruntung gereja Martha Lutheran die Kreuzberg menawarkan bantuan agar umat muslim bisa melaksanakan sholat Jumat di akhir Ramadhan.   

 

Diketahui sepanjang puasa Ramadhan umat Islam tidak makan, minum, merokok, dan berhubungan seks dari subuh hingga petang. Biasanya keluarga akan berkumpul  untuk buka puasa bersama dan sholat bersama. Namun di Berlin dan juga seperti negara-negara lainnya di dunia, perayaan tahun ini telah terpengaruh.  

 

"Ini pertanda bagus dan membawa kegembiraan di bulan Ramadan dan suka cita di tengah krisis. Pandemi ini telah membuat kita menjadi komunitas, krisis menyatukan orang-orang," kata Imam Masjid Dar Assalam seperti dilansir BBC pada Sabtu (23/5).    

 

"Perasaan aneh karena ada alat musik, gambar. Tapi saat anda melihat saat anda lupa detail yang kecil, pada akhirnya ini adalah rumah Tuhan," kata salah satu jamaah, Samer Hamdoun yang beribadah di gereja. Bahkan pendeta gereja pun turut memberikan pidato.  

 

"Saya memberi pidato dalam bahasa Jerman. Dan selama doa saya hanya bisa berkata ya, ya, karena kami memiliki keprihatinan yang sama dan kami ingin belajar. Indah rasanya saling merasakan satu sama lainnya," kata pendeta Monika Matthias.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement