Senin 15 Jun 2020 05:16 WIB

New Normal di Beijing: Masjid Buka, Pasar Tutup

Masjid di Beijing menerapkan protokol kesehatan.

New Normal di Beijing: Masjid Buka, Pasar Tutup. Sejumlah umat Islam Cina saling bercengkrama di halaman Masjid Niujie di Beijing, China.
Foto: Antara/Zabur Karuru
New Normal di Beijing: Masjid Buka, Pasar Tutup. Sejumlah umat Islam Cina saling bercengkrama di halaman Masjid Niujie di Beijing, China.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejak 6 Juni 2020, Pemerintah Kota Beijing menurunkan status siaga dari level II ke level III seiring dengan menurunnya angka kasus positif Covid-19. Penurunan status tersebut sekaligus menandai era normal baru di Ibu Kota China yang sebulan sebelumnya sempat menjadi daerah berisiko tinggi Covid-19.

Sekolah, khususnya untuk tingkat menengah, mulai menyiapkan rencana dimulainya kegiatan belajar dan mengajar di kelas, tentu dengan protokol normal baru. Demikian halnya dengan kegiatan keagamaan bagi sebagian kecil rakyat China yang ditiadakan sejak 24 Januari 2020 atau sehari setelah karantina wilayah Wuhan juga mulai aktif meskipun dalam lingkup yang sangat terbatas.

Baca Juga

Masjid Niujie telah dibuka kembali mulai 10 Juni 2020 pukul 00.00 waktu Beijing, demikian informasi yang didapat Antara dari laman resmi Asosiasi Islam China (CIA). Untuk saat ini hanya kegiatan peribadatan yang dibuka kembali, tidak menerima kunjungan wisatawan, demikian bunyi maklumat tersebut.

Bukan hal aneh kalau masjid di China menjadi objek wisata. Beberapa meter dari gerbang utama masjid yang menghadap ke Jalan Raya Niujie terdapat ruang kecil yang mirip loket.

Lazimnya loket adalah tempat penjualan tiket, demikian halnya dengan di Masjid Niujie itu. Bahkan ketika Antara pertama kali mengunjungi masjid terbesar dan tertua di Beijing itu pada Maret 2017, seorang petugas yang berjaga di pintu gerbang sempat mengarahkan ke loket terlebih dulu.

Petugas loket menanyakan tujuan ke masjid. Setelah dijawab untuk melaksanakan sholat zhuhur dan berziarah ke makam dua imam (Syekh Ali bin Al Qadir Imaduddin Bukhori dan Syekh Al Burhani Al Qazwayni), maka petugas pun mempersilakan tanpa harus membeli tiket masuk.

Sekelompok wisatawan datang menyusul. Ternyata mereka tidak hanya melihat-lihat kondisi bangunan berarsitektur China kuno didominasi warna merah, melainkan juga memotret jamaah sholat zhuhur.

Oleh karena bukan Muslim, wisatawan tersebut tidak diizinkan memasuki bangunan utama masjid. Mereka hanya memotret jamaah shalat zhuhur dari halaman. Dalam maklumat bertanggal 9 Juni itu jamaah diimbau membersihkan diri atau berwudhu di rumah selama masa normal baru.

Selesai sholat, mohon tinggalkan masjid tepat waktu, demikian maklumat berbahasa Mandarin tersebut. Di era normal baru ini, anggota jamaah yang hendak menunaikan sholat lima waktu harus mendaftar terlebih dulu untuk mendapatkan tempat.

Untuk kegiatan sholat Jumat, anggota jamaah harus mengisi formulir reservasi yang bisa dipindai dari WeChat. Masjid Niujie yang dibangun pada 996 Masehi di atas lahan seluas 10 ribu meter persegi di Distrik Xicheng itu tertutup untuk umum selama 138 hari sejak menjelang sholat Jumat pada 24 Januari.

Meskipun dibuka secara terbatas, CIA juga mengingatkan umatnya untuk tetap waspada. Virus corona tidak akan hilang, risikonya bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Untuk itu tidak bisa dianggap enteng, demikian peringatan CIA.

Sebagai catatan, Masjid Niujie pernah dikunjungi Presiden Joko Widodo pada 14 Mei 2017 di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Forum Sabuk Jalan (BRF). Namun Jokowi bukan yang pertama karena pada 2000 Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur menjadi Presiden Indonesia pertama yang mengunjungi masjid yang dibangun pada era Dinasti Liao itu.

 

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement