17 Zulhijjah 1441

Hubungan Kompleks Kaligrafi Arab dan Teknologi (1)

Rabu , 17 Jun 2020, 00:40 WIB Reporter :Umi Nur Fadhilah/ Redaktur : Muhammad Hafil
Hubungan Kompleks Kaligrafi Arab dan Teknologi. Foto: Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)
Hubungan Kompleks Kaligrafi Arab dan Teknologi. Foto: Kaligrafi Nama Nabi Muhammad (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JEDDAH -- Kaligrafi Arab adalah bagian intrinsik dari peradaban Islam. Bentuk seni bagian integral dari hampir semua aspek ekspresi budaya Arab.

 

Baca Juga

Meskipun penting dalam seni dan budaya Islam, popularitasnya tampak menurun. Sejumlah alasan dikemukakan mengapa hal itu terjadi. Paling masuk akal adalah kurangnya promosi dan representasi visual dari bahasa Arab dalam alat teknologi modern, seperti internet. Apa pun alasan berkurangnya daya tarik populer dan apresiasi terhadap bentuk seni di dunia modern, bagaimanapun kaligrafi tetap bertahan dalam bentuk klasiknya.

Seniman dan kaligrafi Yordania-Palestina, Nassar Mansour mengatakan pentingnya kaligrafi arab berasal dari hubungannya dengan Alquran. Dia yang mengajar kaligrafi Islam dan naskah-naskah Alquran di College of Islamic Arts and Architecture di Universitas Sains dan Pendidikan Islam Dunia di Amman, Yordania.

Sifat ilahi Alquran memaksa orang Arab untuk mendesain ulang naskah mereka dan mempercantiknya. Tindakan itu yang memberikan dorongan awal untuk pengembangan bentuk seni pada abad ketujuh. Teknologi modern tidak banyak berpengaruh pada bentuk kaligrafi Arab klasik yang menurut dia akan tetap relevan, karena ikatannya yang kuat dengan teks suci.

“Namun, aspek fungsional kaligrafi sudah pasti surut sejak munculnya mesin cetak,” kata Mansour.

Hubungan antara kaligrafi Arab dan Alquran berarti praktiknya terutama merupakan pengalaman religius, di mana seperangkat aturan dikembangkan selama berabad-abad tentang kesabaran dan disiplin diri. Aturan-aturan itu secara kolektif dikenal sebagai adab (tata krama) di antara para kaligrafer, dan wajib bagi instruktur, dan siswa untuk mengikutinya.

Seorang seniman dan insinyur Saudi, Siraj Allaf belajar kaligrafi di Masjidil Haram di Makkah, di bawah pengawasan ahli kaligrafi terkenal Ibrahim al-Arafi. Setelah bertahun-tahun pelatihan, dia menerima ijazah atau diploma dalam kaligrafi tradisional. Mempelajari kaligrafi dengan cara itu adalah pengalaman pendidikan yang kaya dan bermanfaat, terutama bagi kaum muda.

“Saya telah belajar pelajaran hidup yang tak ada habisnya dari guru saya. Saya selalu mengatakan bahwa saya telah belajar segalanya darinya, dan kaligrafi menempati urutan terakhir dalam daftar,” ujar Allaf.

Lulusan dalam kaligrafi klasik kadang-kadang menjadi terlalu sederhana dalam pendekatan terhadap kehidupan. Artinya, mereka kehilangan peluang tumbuh dan gagal menerima pengakuan publik yang layak mereka dapatkan.

Allaf mengatakan keterikatan emosional yang besar pada seni tidak memungkinkan untuk berinvestasi dalam bakat, karena itu banyak seniman menahan diri menggunakan kemampuannya untuk menghasilkan uang. Jika melihat bentuk seni lain, seperti fotografi, kita menemukan seniman sebenarnya telah memilih jalur itu untuk menghasilkan uang.

Untuk membantu meningkatkan profil bentuk seni, Allaf mendirikan Hrofiat, yakni platform kaligrafi Saudi pertama yang menjadi wadah beberapa kaligrafer terbaik di negara itu bekerja sama mempromosikan kaligrafi melalui lokakarya, acara, kursus daring, penciptaan karya asli dan karya digital, dan penyediaan layanan konsultasi artistik.

Dia mengatakan mengumpulkan kelompok kaligrafi elite adalah tantangan, karena beberapa orang khawatir tentang ide menghasilkan uang dari karya seni mereka. Sebagian besar kaligrafer mengadopsi pendekatan konservatif untuk perdagangan dan adopsi teknik modern. Mereka menghindari penggunaan teknologi, karena takut akan kehilangan semangat seni yang dianggap sakral.

Sumber:

https://www.arabnews.com/node/1688951/saudi-arabia

 

widget->kurs();?>