Arab Saudi Memulai New Normal pada 21 Juni 2020

Jumat , 19 Jun 2020, 07:57 WIB Reporter :Mabruroh/ Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Arab Saudi Memulai New Normal pada 21 Juni 2020 (ilustrasi).
Arab Saudi Memulai New Normal pada 21 Juni 2020 (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,RIYADH -- Arab Saudi telah melonggarkan penguncian wilayah, memulai aktivitas bisnis, dan membuka masjid-masjid untuk sholat Jumat. Arab Saudi akan memasuki tahap ketiga atau new normal mulai 21 Juni 2020.

 

Terkait

Kementerian Kesehatan Arab Saudi menetapkan fase ketiga menuju kehidupan normal di kerajaan di tengah pandemi virus corona. Kementerian mengingatkan bahwa virus tersebut masih ada.

"Virus itu masih ada, masih aktif, dan pandemi berlanjut," kata juru bicara kementerian, Dr Mohammed al-Abd al-Aly, seperti dilansir dari Arab News pada Jumat (19/6).

Al-Aly melanjutkan, saat ini belum ada obat untuk virus corona. Karena itu, ia mengingatkan untuk terus berhati-hati saat dinyatakan kembali ke kehidupan normal.

"Kita kembali ke keadaan normal, tetapi hati-hati. Kita sekarang tahu semua tindakan pencegahan dan cara menangani pandemi melalui penelitian dan studi selama periode terakhir. Jadi, terapkan tindakan pencegahan untuk kehidupan kita sehari-hari sehingga membatasi peluang untuk tertular virus," ujarnya.

Aly menuturkan bahwa 50 persen dari kasus corona yang tercatat pada periode terakhir disebabkan kontak sosial. Menurut dia, pendekatan ini dibutuhkan untuk membantunya memantau perkembangan pandemi di seluruh kerajaan.

“Kami melihat ke daerah di mana penyebarannya cepat. Begitulah cara kami memutuskan area yang membutuhkan regulasi lebih lanjut," katanya.

Pada saat new normal nanti, al-Aly mendesak agar masyarakat dapat mengunjungi Klinik Tetamman terdekat jika mengalami gejala apa pun. Klinik, dia mengatakan, akan bekerja sepanjang waktu dan tidak perlu membuat janji temu.

Arab Saudi juga telah mengizinkan penggunaan obat deksametason ke dalam perawatan pasien Covid-19. Namun demikian, asisten wakil menteri untuk urusan terapi di kementerian, Dr Ahmed al-Jedai, memperingatkan untuk tidak menggunakannya tanpa resep dokter.

"Obat ini milik keluarga kortison dan membantu pasien tertentu dalam tingkat infeksi tertentu, termasuk pasien rawat inap yang perlu diventilasi di ICU, atau mereka yang membutuhkan oksigen. Namun, itu bukan obat langsung untuk Covid-19,” ucapnya.

Pada perkembangan terbaru, kasus positif di kerajaan masih tinggi, yakni 4.757 kasus. Sementara itu, jumlah pasien yang meninggal dunia sebanyak 48 orang dan pasien yang dinyatakan sembuh sebanyak 2.253 orang.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini