Sabtu 20 Jun 2020 04:45 WIB

Hidayah Datang Usai Hancurkan Masjid, Balbir Jadi Mualaf

Usai hancurkan masjid, Balbir merasa bersalah lalu kemudian menemui seorang ulama.

Rep: Zainur Mahsir Ramadhan/ Red: Muhammad Hafil
Hidayah Datang Usai Hancurkan Masjid, Balbir Jadi Mualaf. Foto: Balbir Singh
Foto: Anadolu Agency
Hidayah Datang Usai Hancurkan Masjid, Balbir Jadi Mualaf. Foto: Balbir Singh

REPUBLIKA.CO.ID, NEW DELHI -- Balbir Singh ingat betul ketika menjadi bagian dari gerombolan fanatik kelompok agama mayoritas yang menghancurkan Masjid Babri di India yang berusia ratusan tahun, pada 6 Desember 1992 lalu. Dia bercerita, dengan mengacungkan palu di tangannya saat itu, berbagai bagian masjid hancur karenanya, bahkan, ia mengambil bongkahan batanya untuk dijadikan suvenir.

Tak hanya itu, ketika dirinya mencapai puncak kubah, ia juga menghancurkan dan membongkarnya bersama rekan yang lain, Yogendra Pal yang tergabung di kar sevak (relawan agama mayoritas di India yang menghancurkan masjid). Namun, kebanggaan karena menghancurkan rumah ibadah itu tak berlangsung lama bagi mereka.

Baca Juga

Bagaimana tidak, suatu hal yang dianggap sebagai kejahatan oleh publik, bahkan dirinya sendiri itu, membuat mereka merenung dan melakukan introspeksi mendalam. Alhasil, enam bulan kemudian, mereka mantap untuk masuk Islam.

Tak hanya masuk Islam, Singh yang merubah namanya menjadi Mohammed Amir juga bertekad membangun 100 masjid untuk menebus kesalahannya. Hingga akhirnya kini, 28 tahun setelah tragedi pengerusakan itu, Singh telah membangun atau memperbaiki masjid yang jumlahnya telah mencapai 90.

“Saya telah berjanji untuk membangunnya di lokasi Masjid Babri dulu. Setelah menyadari kesalahan, saya berjanji untuk membersihkan dosa-dosa saya, dengan membangun 100 masjid, "katanya kepada Anadolu Agency beberapa waktu lalu.

Dia kembali mengenang, awal masuk Islam yang terjadi pada 1 Juni 1993. Menurut dia, saat itu ketika menenangkan diri pascapengerusakan, dia bertemu ulama setempat, Maulana Kaleem Siddiqui melalui Yogendra Pal. Maulana, dinilainya memiliki pemahaman yang ia butuhkan untuk mengobati rasa gundahnya.

Padahal, jauh sebelum itu, Singh yang lahir dari keluarga kasta atas sangat mengagumi ayahnya yang merupakan guru. Bahkan, mereka juga terinspirasi oleh filosofi ikon kebebasan India Mahatma Gandhi, yang dikenal karena teori nir-kekerasannya. Atas dasar itu, ayahnya ia sebut menjadi tokoh yang membantu Muslim di daerahnya dulu.

 

photo
penghancuran masjid Babri puluhan tahun lalu.

Hari Pembongkaran

6 Desember 1992 memang menjadi hari yang mendebarkan baginya untuk diingat saat ini. Terlebih, pada saat itu Balbir ingat, para relawan Hindu yang berkumpul di seluruh India takut bahwa pemerintah akan mengerahkan tentara untuk melindungi masjid. Namun nyatanya, tidak adanya pengamanan membuat pihaknya saat itu berani melakukan tindak kekerasan.

“Tidak ada keamanan yang efektif di sekitar masjid, dan itu membuat kami berani. Kami siap secara mental untuk menghancurkan masjid, ”katanya mengenang.

Menjadi relawan dari salah satu kelompok fanatik itu, Singh sangat bersemangat. Bahkan, ia menjadi orang pertama yang tiba di lokasi, Ayodhya, sekaligus memanjat kubah dan merubuhkannya. "Kelompok saya tiba di sana pada 1 Desember dan saya adalah yang pertama, yang memanjat di atas kubah utama masjid, menggunakan alat untuk menurunkannya," katanya.

Dia menjelaskan, kelompoknya dari Panipat dan kota terdekat, Sonipat, memang menjadi pihak pertama yang menghancurkan masjid dengan menggunakan palu dan alat lainnya.

Bangga, itulah yang bisa diungkapkannya setelah menjadi pihak pertama yang menghancurkan rumah ibadah umat Muslim itu. Pasalnya, setelah pengerusakan dilakukan, ia dan kelompoknya dianggap sebagai pahlawan ketika kembali ke Panipat.

Namun ungkapan ‘pahlawan’ itu tak berlaku di rumahnya. Alih-alih disebut pahlawan, ia malah dikutuk oleh keluarganya sendiri.

“Mereka mengutuk saya. Semua euforia menguap. Saya menyadari bahwa saya telah melakukan hal yang salah. Saya telah mempermainkan hukum di tangan saya sendiri dan melanggar Konstitusi India, ”tambahnya.

 
photo
Masjid Babri di Ayodhya, India yang sejak lama menjadi sengketa antara Muslim dan Hindu. - (AP Photo)

Setelah kejadian di keluarganya itu, ia mengaku langsung menginstropeksi diri. Bukan hal yang mudah melakukan itu, terlebih kata dia, hal itu semakin sulit ketika orang-orang berpikir bahwa ia telah kehilangan keseimbangan mental dari sebelumnya.

“Akhirnya, saya memutuskan untuk memeluk Islam untuk memberi saya ketenangan pikiran. Segera, saya mulai merasa lebih baik,”katanya.

Hari ini, 28 tahun kemudian, Balbir atau yang kini disebut Amir telah menikah dengan wanita Muslim dan mendirikan sekolah untuk menyebarkan ajaran agama Islam kepada khalayak umum di Kota Hyderabad. Bersama rekannya sejak melakukan pengerusakan, Yogendra Pal, dia mengatakan akan menambah membangun masjid dan memperbaiki yang sudah ada, meskipun, mereka berdua saat ini sudah melakukan cukup banyak.

Singh menuturkan, atas dosanya di masa lampau ia siap untuk hukuman apapun. Bahkan, ketika ditanya terkait putusan Mahkamah Agung India dalam kasus Masjid Babri, ia menyebut bahwa Muslim saat ini harus bisa terus bergerak maju dan meningkatkan hubungan dengan saudara-saudara Hindu, di India khususnya.

“Allah beserta kita. Kita seharusnya hanya memperhatikan Dia untuk kebutuhan kita,” ungkap dia.

Sumber:

https://www.aa.com.tr/en/asia-pacific/hindu-fanatic-part-of-babri-mosque-demolition-now-builds-mosques/1663610

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement