Ahad 21 Jun 2020 08:18 WIB

Mimpi Khalifah Al-Watsiq Tembok Dzulqarnain Terbuka, Kiamat?

Tembok Dzulqarnain terbuka menjadi salah satu tanda kiamat.

Rep: Harun Husein/ Red: Nashih Nashrullah
Tembok Dzulqarnain terbuka menjadi salah satu tanda kiamat.  Ilustrasi Padang Pasir
Foto: Pixabay
Tembok Dzulqarnain terbuka menjadi salah satu tanda kiamat. Ilustrasi Padang Pasir

REPUBLIKA.CO.ID,  Suatu malam, Khalifah Al-Watsiq Billah bermimpi: tembok yang pernah dibangun Dzulqarnain telah terbuka. Itu berarti, kaum yang ribuan tahun berada di baliknya, yaitu Ya’juj dan Ma’juj, telah berkeliaran di alam bebas.

Lepasnya Ya’juj dan Ma’juj atau Gog and Magog, merupakan malapetaka besar yang berkaitan dengan akhir zaman. Lepasnya Ya’juj dan Ma’juj merupakan satu dari sepuluh tanda besar kiamat yang disebutkan Nabi.

Baca Juga

Kesepuluh tanda besar tersebut, ber dasarkan hadis riwayat Muslim, adalah: munculnya kabut, munculnya Dajjal, munculnya binatang melata, matahari terbit dari barat, turunnya Isa bin Mar yam, keluarganya Ya’juj dan Ma’juj, keluarnya api dari Yaman yang menggiring umat manusia menuju Padang Mahsyar, dan bumi amblas di tiga tempat: satu di timur, satu di barat, dan satu di jazirah Arab.

Bahkan, isyarat tentang telah terjadinya sesuatu pada tembok yang dibangun Dzulqarnain, telah disampaikan Nabi, dua abad sebelumnya. Sebuah riwayat melalui Ummu Habibah dari Zainab binti Jahsy (istri Nabi) menyebutkan:

أنَّ النبيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ، دَخَلَ عَلَيْهَا فَزِعًا يقولُ: لا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، ويْلٌ لِلْعَرَبِ مِن شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ، فُتِحَ اليومَ مِن رَدْمِ يَأْجُوجَ ومَأْجُوجَ مِثْلُ هذِه وحَلَّقَ بإصْبَعِهِ الإبْهَامِ والَّتي تَلِيهَا

"Pada suatu malam Nabi SAW keluar rumah lalu bersabda, “Sungguh celaka orang Arab, akibat suatu bencana yang telah dekat datangnya. Hari ini terbuka tembok/dinding Ya’juj dan Ma’juj sebesar ini (sambil meletakkan ujung jari telun juk beliau ke ujung ibu jari).” (HR Bukhari dan Muslim).

Perihal mimpi khalifah Al-Watsiq tentang telah lepasnya Ya’juj dan Ma’juj itu tertulis dalam sebuah manuskrip Arab, catatan Ibnu Khurradadhbih, dengan redaksi sebagai berikut: “Sallam al Tardjuman memberitahu saya [Ibnu Khurradadhbih]: ‘ketika al Watsiq Billah melihat dalam mimpinya bahwa tembok yang dibangun Dzulqarnain untuk memisahkan kita dengan Ya’juj dan Ma’juj telah terbuka, dia mencari seseorang yang bisa dia kirim ke tempat itu [di mana tembok berdiri] untuk mencari informasi tentang itu.”

Sallam al Tardjuman adalah orang yang diutus Khalifah Al-Watsiq, Khalifah kesembilan Dinasti Abbasiyah, yang memerintah Baghdad pada 842–847 M, untuk mencari tembok Dzulqarnain. Ada pun Ibnu Khurradadhbih adalah salah seorang yang mencatat kata-kata yang didiktekan Sallam, yang berisi catatan perjalanan, perintah Khalifah, dan laporan Sallam kepada Khalifah.

Catatan Ibnu Khurradadhbih tersebut dibukukan dengan judul Kitab al-Masalik w’al Mamalik yang diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul Book of Routes and Kingdom).

Dalam Gog and Magog in Early Syriac and Islamic Sources; Sallam Quest for Alexander’s Wall, Emeri van Donzel dan Andrea Schmidt, menulis umumnya orang mengira Sallam sebagai orang Arab. Tapi, Donzel dan Schmidt mengatakan tidak tertutup kemungkinan Sallam adalah seorang Khazaria. Al Tardjuman, gelarnya, bermakna sang penerjemah. Sallam konon menguasai sekitar 30 bahasa. Karena dia orang Khazaria, ekspedisi yang dipimpinnya mudah memasuki Khazaria, dan wilayah lain di bawah kekuasaan Khazaria.

Bahkan, Donzel dan Schmidt pun menduga Sallam merupakan seorang Yahudi , yang memungkinkan aksesnya lebih leluasa di wilayah Khazaria. Soal nama Sallam yang diduga Yahudi, Donzel dan Schmidt menganalogikan nama Sallam dengan nama Suami Zainab binti al- Harits, Sallam bin Mishkam. Suami istri ini adalah Yahudi yang hidup di zaman Nabi. Zainab menjadi terkenal karena dialah yang pernah mencoba meracun Nabi lewat masakan kambing. Tapi, ini hanya perkiraan Donzel dan Schmidt.

Sekadar informasi, sejak abad keenam hingga abad ke-13, di kawasan Kaukasus, antara Laut Kaspia dan Laut Hitam, berdiri sebuah imperium Yahudi. Kekuasaannya membentang dari Eurasia hingga Asia Tengah, dari Volga Bulgaria hingga Kaukasus. Yahudi Khazaria ini, antara lain menurut Arthur Koestler dalam The Thirteen Tribe, bukanlah Yahudi semit yang berasal dari Palestina, melainkan orang Khazaria, salah satu suku nomaden Turki. Mereka memeluk Yahudi pada abad ke delapan.

 

sumber : Harian Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement