Rabu 24 Jun 2020 08:07 WIB

Rasa Persaudaraan Menuntun Rosalina Menjadi Mualaf

Rosalina menjalani cobaan demi cobaan hingga mengenal Islam.

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Ani Nursalikah
Rasa Persaudaraan Menuntun Rosalina Menjadi Mualaf
Foto: Foto : MgRol112
Rasa Persaudaraan Menuntun Rosalina Menjadi Mualaf

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rasa persaudaraan dan kepedulian dalam Islam menuntun Rosalina Panganiban (Aisha) untuk memeluk Islam. Aisha, nama panggilannya selanjutnya, mulai mengenal Islam saat ia menapakkan kaki di Kuwait. Dia bisa sampai ke negeri di semenanjung Arab itu setelah melewati kondisi kehidupan yang sulit.

Rosalina merupakan putri tertua di antara delapan anak dari orang tuanya. Ia bercerita, dirinya berasal dari keluarga miskin dan bahkan tidak merasakan cara hidup mewah. Namun, orang tuanya membesarkannya dengan karakter moral yang baik.

Baca Juga

Tidak hanya itu, Rosalina juga menyelesaikan pendidikannya dalam situasi yang sangat sulit. Beruntung, ia bisa mendapatkan pekerjaan yang stabil sesudahnya.

Sebagai anak tertua, dia membantu orang tua, saudara dan saudarinya karena dia tidak ingin mereka mengalami kesulitan seperti yang dia derita. Suatu hari, saat yang paling mengejutkan dan menyedihkan datang dalam hidupnya, ayahnya meninggal.

"Kami sangat miskin sehingga kami bahkan tidak punya uang untuk layanan terakhir ayah saya, tetapi terima kasih kepada Tuhan Yang Mahakuasa, semuanya diselesaikan. Saya tahu itu adalah bagian dari cobaan-Nya," ungkap Rosalina, dalam artikel di laman Islamweb.net, dilansir Selasa (23/6).

Pada 1985, Rosalina datang ke Kuwait. Kala itu, ia merasakan sesuatu yang sangat aneh. Ia merasa sedih dengan keputusannya meninggalkan perusahaan tempat ia bekerja selama sembilan tahun.

Namun, majikannya kemudian berusaha menghiburnya. Mereka bahkan memperlakukannya sebagai keluarga mereka sendiri. Tidak hanya itu, mereka memutuskan membuka toko butik kecil dan mengizinkannya mengelolanya.

Lima tahun berselang, ujian kembali datang kepadanya. Ia merasakan seolah bumi jatuh di kepalanya, saat pada 2 Agustus 1990, Irak menginvasi Kuwait. Setelah itu, dia memutuskan meninggalkan Kuwait. Rosalina kemudian menerobos Baghdad, di mana ia jatuh sakit.

"Saya pikir itu adalah cobaan yang tak ada habisnya. Terima kasih kepada Tuhan yang Mahakuasa, saya mencapai negara saya dengan aman dan sehat," ujarnya.

Akan tetapi, tahun berikutnya pada tanggal yang sama, rumahnya yang dibangun dengan kerja keras selama lima tahun di Kuwait, ditarik oleh pemerintah. Setiap bagian dari rumah mereka rata dengan tanah. Dalam satu detik, semuanya hilang. Yang lebih sangat menyakitkan, pemerintah bahkan tidak membayar kompensasi apa pun.

Pada Januari 1992, beruntung Rosalina kembali ke Kuwait di bawah majikan yang sama. Segalanya berjalan lancar, dan bahkan dia bisa memutuskan sesuatu yang menjadi keinginannya, yakni memeluk Islam.

Rosalina mengungkapkan, ia telah mengenal Islam dan menghargai agama tersebut sejak 1985. Perjalanan hidup yang dialaminya membuatnya melihat Islam dalam kehidupan sosial. Rosalina mengatakan, ia ingin memeluk Islam yang ia sebut sebagai agama Tuhan yang sejati, agama yang diwahyukan Tuhan kepada nabi terakhir, Nabi Muhammad SAW.

"Agama yang menarik perhatian saya ketika saya pertama kali mencapai negara Muslim ini. Pada hari pertama kedatangan saya di sini, saya mengamati hubungan persaudaraan di antara orang-orang sebangsa, bantuan dan kepedulian mereka terhadap saudara-saudara mereka di luar, kesetaraan di antara umat Islam tanpa memandang ras, kebangsaan, status sosial, dan lainnya," ungkapnya.

Dia juga merasa tertarik dengan kekuatan hukum Islam. Keinginannya masuk Islam menjadi lebih besar, tatkala dia mendengarkan program dari Sheikh Salah Al-Rasheid tentang 'Memahami Islam'.

Selain itu, Rosalina mengungkapkan dia juga menemukan sumber untuk mendapatkan semua informasi dan pamflet tentang Islam dari Islam Presentation Committee (IPC), sebuah organisasi non-profit yang berbasis di Kuwait yang bertujuan menghilangkan berbagai miskonsepsi dan memberikan kesadaran tentang Islam.

"Terima kasih kepada Tuhan Yang Mahakuasa, saya sekarang berada di agama sejati-Nya. Saya sekarang berada di jalan yang benar dalam kehidupan, dan saya percaya bahwa setelah memeluk Islam, tugas pertama dan terpenting saya kepada Allah SWT adalah berbagi dengan orang lain, terutama dengan non-Muslim, apa yang saya pelajari di IPC, dan untuk belajar Islam secara mendalam," ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement