4 Rabiul Awwal 1442

Pengalaman Panjang Arab Saudi dalam Menangani Epidemi

Jumat , 24 Jul 2020, 01:44 WIB Reporter :Zahrotul Oktaviani/ Redaktur : Muhammad Fakhruddin
Pengalaman Panjang Arab Saudi dalam Menangani Epidemi. Foto: Gerbang steril canggih untuk masuk ke Masjidil Haram.
Pengalaman Panjang Arab Saudi dalam Menangani Epidemi. Foto: Gerbang steril canggih untuk masuk ke Masjidil Haram.

REPUBLIKA.CO.ID,RIYADH -- Kesehatan memainkan peran utama dalam memastikan ibadah haji berhasil dan berjalan lancar setiap tahunnya di Arab Saudi. Untuk itu, Saudi berusaha nyediakan berbagai layanan medis dalam menangani ancaman epidemiologis.

 

Pemerintah Saudi memberikan dukungan tanpa batas untuk pengelolaan kerumunan dan layanan medis. Saudi telah memanen banyak pengalaman dalam menangani semua jenis tantangan, hingga terakumulasi 95,8 juta peziarah mengunjungi Saudi selama lima puluh tahun terakhir.

Dilansir di Aawsat, prosedur pelaksanaan haji antara mereka yang melakukan ziarah dari dalam Arab Saudi dan mereka yang datang dari luar negeri sangat berbeda. Bagi jamaah dalam negeri, mereka diminta untuk mengunjungi situs web yang tersedia untuk melihat semua program dan layanan yang disediakan.

Layanan ini berbeda disertai harga. Calon jamaah lantas memilih program dan layanan yang sesuai untuk mereka, bayar secara daring, lantas mendapatkan izin haji.

Sementara untuk jamaah dari luar negeri, pengaturan pelaksanaan haji dibuat antara delegasi negara dan Kementerian Haji dan Umrah. Lantas, pengaturan ini disetujui oleh umat Muslim yang ingin melakukan ibadah haji.

Konsultan senior penyakit menular dan Kepala Departemen Penelitian di Rumah Sakit Pangeran Mohamed Bin Abdulaziz di Riyadh, Dr. Ziad Memish, menyebut Kerajaan menyediakan layanan medis berkualitas tinggi untuk haji.

Selain itu, pelayanan kesehatan dilengkapi dengan langkah-langkah pencegahan yang baik. Hal ini didapat dari pengalaman kerajaan dalam menangani epidemi selama bertahun-tahun.

"Berurusan dengan virus apa pun memberikan Saudi  pengalaman dalam berurusan dengan virus yang akan datang. Kerajaan Saudi pernah berurusan dengan virus H1N1 pada tahun 2009," ujar Dr. Memish dilansir di Aawsat, Rabu (22/7).

Bertahun-tahun kemudian, Saudi berurusan dengan berbagai epidemi yang melanda dunia atau daerah tertentu di dalamnya. Di antaranya Ebola dan pandemi yang sedang melanda dunia saat ini, Covid-19.

Untuk pelaksanaan haji 2020 kali ini, Kerajaan Saudi telah memutuskan membatasi jumlah peziarah. Penduduk dari 160 negara yang berbeda atau ekspatriat di Saudi ditetapkan memenuhi 70 persen kuota dari jumlah total peziarah. Aturan ini ditetapkan mengingat masalah kesehatan karena Covid-19 terus menyebar ke seluruh dunia.

Sehubungan dengan keprihatinan ini, hanya umat Muslim yang berusia di bawah 65 tahun dan tidak menderita penyakit kronis apa pun yang berhak mendapatkan izin melakukan ziarah haji.

Pada tahun 2003, ketika penyebaran SARS menyebabkan kekhawatiran global, Kementerian Kesehatan Saudi memberikan tanggapan dengan mengatur pengawasan medis di semua titik masuk Kerajaan. Peziarah diperiksa secara menyeluruh untuk mengetahui gejala-gejala yang berpotensi mengarah pada diagnosis dan memungkinkan ziarah berjalan dengan lancar.

Pada tahun 2009, ketika virus H1N1 atau yang dikenal sebagai Flu Babi menyebar, Arab Saudi mengurangi jumlah visa masuk. Saudi juga menetapkan kondisi khusus bagi umat Muslim yang ingin melakukan haji.

Serangkaian imbauan dan masukan diberikan, yang isinya meminta umat Islam menunda kunjungan mereka ke Saudi di tahun tersebut jika memungkinkan.

Pada tahun 2012, ketika virus Middle East Respiratory Syndrome (MERS) mulai menyebar, Kementerian Kesehatan Saudi menekankan perlunya jutaan jamaah haji yang bersiap untuk mengunjungi Kerajaan selama musim haji mengambil langkah-langkah keamanan kesehatan untuk menghindari infeksi.  

 

Sumber: https://english.aawsat.com/home/article/2400531/health-services-during-hajj-absolute-support-and-extensive-experience-managing

 

widget->kurs();?>