Ahad 26 Jul 2020 20:59 WIB

Galakkan Kesadaran Beralih ke Besek Qurban

Pembagian hewan qurban disarankan pakai besek.

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil
Galakkan Kesadaran Beralih ke Besek Qurban. Foto:  Panitia merapikan besek bambu berisi daging kurban yang akan dibagikan di Masjid Nurul Hilal, Cibulan, Jakarta, Ahad (11/8).
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Galakkan Kesadaran Beralih ke Besek Qurban. Foto: Panitia merapikan besek bambu berisi daging kurban yang akan dibagikan di Masjid Nurul Hilal, Cibulan, Jakarta, Ahad (11/8).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Perayaan Idul Adha atau Hari Raya Qurban sudah di depan mata. Penggunaan besek bambu kembali disuarakan guna meminimalisir sampah plastik akibat pembagian paket daging qurban.

Anggota Komite Pemantau Plastik Ramah Lingkungan Adrie Charviandi menilai, penggunaan besek bambu, keranjang, atau daun pisang sebagai bungkus paket daging qurban sangatlah tepat. Mengingat masyarakat sudah mulai terbiasa dibudayakan tidak menggunakan plastik dalam keseharian konsumsi.

Baca Juga

“Saya rasa penggunaan besek untuk qurban sudah sangat tepat. Ini harus digalakkan,” kata Adrie saat dihubungi Republika, Ahad (26/7).

Di samping penggunaan besek bambu atau keranjang yang terbuat dari bahan alam, penggunaan plastik ramah lingkungan juga banyak diupayakan sejumlah masjid. Seperti Masjid Istiqlal dan Masjid Jogokariyan dalam Idul Adha ini.

Namun demikian Adrie menilai, penggunaan plastik ramah lingkungan perlu dikaji ulang apabila suatu masyarakat atau wilayah belum memahami dan mengenali lebih jauh kriteria plastik ramah lingkungan yang dimaksud. Menurut dia, tak sedikit saat ini pengedaran plastik dengan embel-embel ramah lingkungan beredar di masyarakat yang sejatinya tidak ramah lingkungan sama sekali.

“Jadi ada plastik yang katanya ramah lingkungan, tahu-tahunya setelah dicek kriterianya tidak sesuai,” ungkap dia.

Di sisi lain, penggunaan plastik ramah lingkungan juga memiliki resiko yang lebih besar ketimbang besek atau keranjang alam yang memiliki nol resiko. Sebab jika diakumulasikan, kata dia, dengan ratio 2-5 tahun plastik ramah lingkungan diprediksi dapat terurai akan sama saja menghasilkan beban apabila terdapat gelaran akbar seperti pembagian daging qurban setiap tahunnya.

“Kalau 2-5 tahun bisa terurai, untuk satu kali qurban saja misalnya itu bisa habis 100 pcs dikalikan berapa ratus daerah, dikali berapa ratus masjid dalam satu hari, jumlahnya bisa besar. Artinya, beban lingkungannya ya bisa berat-berat juga,” kata dia.

Untuk itu dia mendesak pemerintah untuk segera menggalakkan sosialisasi besek qurban agar masyarakat dapat semakin terbiasa dan tidak bergantung dengan plastik. Untuk membangun kesadaran masyarakat, diperlukan sosialisasi yang kuat dan dukungan serius dari pemerintah.

Upaya untuk meminimalisir penggunaan plastik juga dilakukan oleh sejumlah organisasi dan lembaga dalam menyambut Hari Raya Qurban. Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Bazis DKI Jakarta KH Ahmad Luthfi Fathullah mengatakan, pihaknya berupaya meminimalisir penggunaan plastik dengan menyerahkan 101 ribu besek.

“Kami menyerahkan bantuan 101 ribu besek, bongsang, sebagai pengganti platik,” kata dia.

Bantuan diserahkan ke 10 kecamatan di Jakarta Timur dengan masing-masing kecamatan terdapat 10 ribu besek yang disebar di setiap kelurahan. Menurut dia, upaya meminimalisir penggunaan plastik itu juga sebagai upaya mengimplementasikan kampanye Pemprov DKI Jakarta dalam menjaga lingkungan.

“Jadi nanti para pequrban atau yang diberikan qurbannya bisa ambil qurbannya pakai besek atau bongsang,” pungkasnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement